Materi Kuliah Musik Gereja

CARA MENYANYIKAN NYANYIAN JEMAAT

Cukup banyak cara menyanyikan nyanyian jemaat hingga lagu-lagu tidak hanya dinyanyikan bersama-sama. Akhir-akhir ini muncul trend yang membuat kantoria menyanyi setiap ayat pertama dari hampir semua lagu yang dinyanyikan dalam ibadah.

Ingatlah, jemaat datang ke gereja di samping untuk beribadah, juga untuk menyanyi. Janganlah kesempatan untuk menyanyi tersebut dikurangi karena kantoria harus menyanyi juga…! Hal-hal yang harus diperhatikan:
1. Nyanyian pembukaan dan nyanyian penutup atau pengutusan harus dinyanyikan bersama-sama baik ayat pertama maupun ayat terakhir.
2. Lebih baik jika nyanyian pembukaan dan penutup hanya dinyanyikan bersama. Jika ada banyak ayat, tentu bisa bergilir-ganti tetapi tetap pada ayat pertama dan ayat yang terakhir dinyanyikan, dilagukan bersama. Efek psikologisnya adalah kita sebagai satu umat, merasa benar-benar sebagai satu persekutuan.
3. Refrein selalu dinyanyikan bersama-sama. Kecuali jika lagu tersebut lagu yang masih asing dan ayat pertama dibawakan oleh kantoria. Jika lagu asing dan ayat pertama dibawakan oleh kantoria, maka refrein dinyanyikan hanya oleh kantoria.
4. Nyanyian yang sudah dikenal sebaiknya di ayat yang pertama langsung dinyanyikan bersama-sama, tidak perlu kantoria menyanyikan bait pertama. Karena fungsi kantoria adalah untuk menuntun jemaat. Jika jemaat sudah tahu, artinya jemaat dapat langsung menyanyikan lagu tersebut.
5. Nyanyian aklamasi yang diulang di antara doa atau hal lain, hanya memiliki intro di awal saja, kali berikut, jemaat dapat langsung menyanyi dengan tuntunan kantoria.
6. Apa salahnya jika seluruh lagu dinyanyikan? Apalagi pada saat persembahan, seringkali lagu yang memiliki ayat banyak, hanya dinyanyikan dua-tiga ayat saja.

Jemaat dapat menyanyikan nyanyian jemaat dengan berbagai cara:
1. Alternatim : bergilir-ganti. Antara jemaat, paduan suara, pria, wanita, anak-anak, solois dan juga permainan instrumental. Janganlah dibuat terlalu rumit dan terlalu banyak pemeran. Misalnya baris pertama wanita, baris kedua pria, baris ketiga bersama, baris keempat paduan suara dst. Buatlah per bait atau mungkin jika satu bait itu panjang, sesekali bisa dipecah menjadi setengah bait. Tetapi jangan sampai per baris. Ada juga yang memang lagu yang memiliki unsur dialog. Jika demikian, unsur dialog tersebut sebaiknya diikuti.
2. Menyanyi secara antifonal (antara dua kelompok) atau responsorial (antara soloist dan jemaat/orang banyak).
3. Menyanyikan discantus yang melengkapi nyanyian jemaat pada bait terakhir sebagai puncak.
4. Menyanyikan cantus firmus (melodi) di suara tenor (pria) dan suara-suara lain (dari paduan suara) menyanyikan iringannya. Cocok untuk menyanyikan Mazmur.
5. Jika ada refrein, bait dapat dinyanyikan oleh solois atau paduan suara dan dijawab oleh jemaat pada saat refrein.
6. Menyanyikan kanon. Saat ini cukup banyak lagu yang dapat dinyanyikan secara berkejar-kejaran (canon).
7. Mengiringi nyanyian jemaat dengan iringan alternatif.
8. Mengiringi nyanyian jemaat etnis dengan iringan yang sesuai dengan karakter lagu.
9. Menyanyikan lagu prosesi atau persembahan dengan atau tanpa gerakan/tarian.
10. Menyanyi dengan menggunakan gerakan sederhana.
11. Menyanyikan lagu-lagu liturgis (misalnya Tuhan kasihani, Kemuliaan, Dasa Firman, Pengakuan Iman Rasuli, Doa Bapa Kami, Amin, Haleluya, dsb).

Itu adalah sebagian kecil kemungkinan untuk membawakan nyanyian jemaat supaya tidak selalu sama dan membosankan. Liturgi atau ibadah adalah bakti umat kepada Tuhan. Di dalam liturgi, umatlah yang berperan aktif, bukan hanya sekedar one man show saja. Nyanyian jemaat merupakan wujud keikutsertaan jemaat yang paling nyata dalam ibadah. Oleh sebab itu, nyanyian jemaat harus mendapat perhatian juga, bukan sekedar sebagai pelengkap saja.

Musik Gereja Di Abad Pertengahan

Chant

Gereja di masa para rasul dan sesudahnya mengadaptasi nyanyian jemaat tanpa iringan dari tradisi sinagoge. Di abad keempat, ketika bahasa Latin menggantikan bahasa Yunani sebagai bahasa yang dipakai untuk ibadah di Roma, terdapat dua aliran, yaitu ritus Barat (Roma) dan ritus Timur. Musiknya dikenal sebagai chant, plainchant atau plainsong. Di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan nyanyian Gregorian.

Chant menurut Willi Apel (ahli musik):
Suatu bentuk dari musik religius, misalnya chant Hindu, chant Yahudi, chant Byzantine, chant Rusia dan sebagainya.

Ciri khas chant:
1. Hanya melodi saja.
2. Tanpa harmoni, counterpoint atau iringan.
3. Hanya berupa musik vokal saja tapi tidak memiliki metrum yang tetap.
4. Merupakan musik monofonik (satu bunyi) karena dinyanyikan secara unisono.

Tidak mudah untuk mempelajari chant Kristiani. Kendala:
1. Sumber informasi biasanya fragmentaris atau bahkan tidak ada.
2. Disampaikan turun-temurun secara lisan. Akibatnya kita tidak mengetahui tradisi apa saja
yang diteruskan atau tidak, apa saja pengaruh yang diterimanya serta bagaimana
perubahannya.
3. Belum ada cara penulisan notasi (baru di abad kesembilan).

Namun perlu diingat, walaupun andaikata ada penulisan chant, biasanya chant yang hampir punah yang ditulis duluan. Sedangkan chant populer yang sering dinyanyikan jemaat adalah chant yang paling akhir atau jarang ditulis. Namun, kita juga cukup banyak mendapat informasi mengenai musik gereja di menjelang Abad Pertengahan ini.
Di empat abad pertama, chant berkembang baik di Barat maupun Timur.
Di dalam tradisi Timur kita mengenal beberapa ritus namun yang terpenting adalah Ritus Yunani dari Konstantinopel. Di abad ketigabelas, tradisi ini memiliki kumpulan chant Byzantine yang ditulis dengan notasi khusus, sama seperti nyanyian Gregorian dalam tradisi Barat di waktu yang sama.

Musik lain dalam tradisi Timur:
Syria, Koptik, Georgia, Armenia, Ethiopia, Slavonic dan Rusia.

Musik dalam tradisi Barat:
Roma, Galia, Mozarabis. Di samping itu juga ada tradisi Milan atau yang lebih kita kenal dengan hymne Ambrosian.

Modus
Saat ini kita mengenal ada tangga nada mayor dan minor. Namun musik dari chant memiliki tangga nada atau modus tersendiri. Itu lebih kita kenal dengan sebutan modus gerejawi atau tangga nada gereja.
Baik chant Byzantine maupun Gregorian menggunakan sistem yang terdiri dari 8 modus. Dalam tradisi Byzantine disebut oktoechoes.
Tiap modus memiliki finalis (re, mi, fa atau sol). Ada dua macam modus:
- Autentik
- Plagal
Chant Byzantine memiliki nomor. Modus autentik adalah modus I, III, V, VII, sedangkan modus plagal adalah II, IV, VI, VIII.

Nyanyian Gregorian memiliki 8 modus dengan nama. Modus autentik adalah Doris, Frigis, Lydis,Mixolydis. Sedangkan modus plagal adalah Hypodoris, Hypofrigis, Hypolydis dan Hypomixolydis.
Autentik dan plagal menunjukkan ambitus atau jangkauan suara dari modus tersebut. Autentik berarti dari nada finalis ke nada finalis berikut di oktaf atasnya. Sedangkan plagal dimulai empat nada lebih rendah dari finalis dan berakhir lima nada lebih tinggi dari finalis.
Baik repertoar Barat maupun Timur menggunakan psalm tones atau pendarasan mazmur. Pusat dari pendarasan adalah not resitatif.
Modus autentik memiliki not resitatif yang beda dengan modus plagal. Lebih dikenal dengan sebutan dominan karena nadanya amat dominan. Dominan autentik biasanya lima nada di atas finalis, sedangkan dominant plagal tiga nada di atas finalis.
Bunyi dari modus ini mungkin agak asing bagi telinga kita yang biasanya hanya mendengar tangga nada mayor atau minor. Namun jika kita menyanyikan mazmur maka kita menyanyikan modus-modus tersebut.
Ritme
Musik bukan hanya terdiri dari tinggi-rendahnya nada tapi juga terdiri dari panjang pendeknya nada. Itu yang kita kenal sebagai ritme atau pulsa. Ritme dari chant amat bebas. Berbeda dengan nyanyian jemaat yang kita kenal saat ini, di mana terdapat birama dan ketukan menjadi teratur. Dalam chant, karena belum ada birama, ketukan tidak teratur. Patokannya adalah kumpulan not (kumpulan ritme) yang terdiri dari dua atau tiga ketukan. Aksen ditentukan oleh syair lagu.
Menurut Solesmes, musik adalah karunia Tuhan, bahwa kita dapat mengekspresikan perasaan kita dalam hati, hingga tak dapat diterjemahkan. Hanya roh yang dapat mengerti struktur tersebut. Ritme adalah “quite clearly an act of the mind,” sehingga hal yang berhubungan dengan ketukan atau ritme berhubungan dengan ketenangan.
Metode Solesmes selalu membawa kita dalam ketenangan, bunyi yang menghasilkan ketenangan yang sunyi senyap.
Terdapat perbedaan antara tradisi katolik yang mementingkan ketenangan dalam musik ibadah dan tradisi lain seperti Luther misalnya, yang menganggap bahwa musik ibadah selalu penuh sorak-sorai.
Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan cara pendekatan mengenai bunyi. Waktu dan tempat yang berbeda dapat menghasilkan musik yang berbeda, berdasarkan perspektif teologis yang beranekaragam.

Struktur
Ada tiga macam struktur dalam chant:
- silabis
- melismatis
- neumatis.

Silabis: satu suku kata dinyanyikan dengan satu not.
Melismatis: satu suku kata dinyanyikan dengan beberapa not.

Neumatis: campuran.

Ada tiga bentuk chant:
- memiliki not resitatif,
- memiliki ulangan (litany yang diulang-ulang atau bentuk strofis seperti hymne),
- bentuk bebas.

Hymne Tradisi Timur
Jika di barat psalmody lebih berkembang dibandingkan hymnody, di tradisi Timur, hymne jauh lebih banyak dan berkembang dibandingkan psalmody. Ada sekitar 60 ribu incipit hymne (awal hymne, judul), ribuan yang tidak diterbitkan dan puluhan ribu yang hilang di antara abad ke-8 dan 9. Bentuknya silabis untuk jemaat dan juga melismatis atau lebih rumit untuk paduan suara dan solois. Nama-nama hymne itu bermacam-macam, misalnya troparion, kontakion, kanon, sticheron, hypakoe.

Ambrosius dan Gregorius
Kedua bapa gereja ini dikenal sebagai tokoh musik gereja. Gregorius membuat standardisasi chant yang akhirnya kita kenal dengan sebutan nyanyian Gregorian. Ia mengumpulkan lagu-lagu yang ada, membuat sistematika tertentu mengenai musiknya serta menyusunnya berdasarkan tahun liturgis. Itu sebabnya ia dikenal sebagai father of chant.
Ambrosius juga melakukan hal yang sama di Milan, namun bukan chant yang ia kumpulkan melainkan hymne atau nyanyian jemaat. Itu sebabnya ia lebih dikenal sebagai father of church song.

Ibadah
Pengumpulan dan pembuatan sistematika oleh Gregorius dan Ambrosius menunjukkan pada kita pentingnya musik dalam ibadah kita. Musik berkembang dalam dua ibadah, yaitu dalam misa dan ofisi. Ofisi atau ibadah harian yang dapat diikuti oleh kaum awam adalah doa pagi dan doa malam, biasanya dikenal sebagai cathedral offices. Siklus monastic sendiri terdiri dari delapan ofisi:
Matin
Lauda
Prima
Ters
Sext
Nona
Vespers
compline

Baik di dalam misa maupun ofisi, terdapat dua unsur yaitu ordinarium (bagian yang selalu ada di tiap ibadah) dan proprium (bagian yang hanya ada di waktu tertentu). Itu yang tertera di dalam buku-buku liturgis.

Hampir semua nyanyian Gregorian memiliki latar belakang psalmodis.
 Pengaruh psalmodies amat nyata dalam ofisi, di mana seluruh mazmur dinyanyikan tiap
minggu.
 Antifon, responsoirum, hymne dan nyanyian pujian (cantica) dari ofisi dapat berbentuk seperti mazmur namun bukan benar-benar berbentuk psalmodis.
 Ordinarium berasal dari sumber psalmodis. Kyrie berasal dari sebuah litany. Gloria merupakan perkembangan dari Luk 2:14 yang mengambil bentuk dari mazmur dan cantica. Credo sebenarnya adalah formula pembaptisan. Sanctus berasala dari Yes 6:3, Agnus Dei dari Yoh 1:29.
 Proprium (introitus, graduale, offertorium, communion) sebenarnya adalah
mazmur yang dipadatkan menjadi beberapa ayat dengan antifon.

Buku liturgis
Pada masa Abad Pertengahan belum, jemaat tidak memiliki Alkitab, buku nyanyian maupun buku ibadah atau kertas tata ibadah seperti yang kita kenal saat ini.
Untuk kebutuhan ibadah dibuatlah sacramentarium yang berisi bagian untuk pemimpin ibadah, graduale atau bagian musik untuk paduan suara, lectionarium atau daftar bacaan Alkitab untuk lektor. Setelah abad ke-10, ketiga buku tersebut diganti dengan missale dan ibadah menjadi peristiwa tunggal yang dilakukan oleh imam. Untuk ibadah harian, kita mengenal breviarium, yang berisi mazmur, antiphon dan hymne.

Jemaat yang tidak menyanyi
Jika jemaat mula-mula adalah jemaat yang bernyanyi, lama-kelamaan fungsi tersebut diambil alih oleh paduan suara karena nyanyian Gregorian semakin berkembang dan menjadi terlalu sulit untuk dinyanyikan orang awam.
1. Nyanyian Gregorian terbentuk dari beberapa lapisan. Lapisan pertama adalah nyanyian Gregorian hingga tahun 750-an, di mana banyak bentuk silabis dan lebih sederhana daripada yang kita kenal saat ini. Di abad ke-9 terjadi perkembangan pesat secara tiba-tiba di mana musiknya menjadi semakin rumit.
2. Trope dan sekwens adalah dua bentuk musik yang ada di dalam nyanyian Gregorian.
Trope adalah penambahan syair atas lagu yang sudah ada. Hal ini mulai berkembang di
abad ke-9. Sekwens adalah penambahan tekst/syair dari jubilus Alleluia yang akhirnya
menjadi komposisi mandiri.
3. Schola cantorum yang telah ada sebelum Gregorius menjadi paus, semakin memegang peranan penting.
4. Bahasa yang dipakai adalah bahasa Latin, padahal tidak semua orang mengerti bahasa Latin, hanya mereka yang terpelajar saja yang mengerti.
5. Musik polifonis mulai berkembang, yaitu dengan adanya organum.

Kelima hal di atas membuat nyanyian jemaat menurun martabatnya dan paduan suara mendapat peranan penting. Pada awalnya, lapisan musik yang tua berbentuk nyanyian jemaat. Namun lapisan musik yang lebih baru, menggunakan material musik yang rumit dan juga syair yang tidak mudah dimengerti orang awam. Itu sebabnya di bagian jemaat dalam misa, diambil alih oleh paduan suara.
Namun hal itu bukan berarti bahwa sejak abad ke-9 nyanyian jemaat sama sekali menghilang dalam ibadah. Masih ada bagian yang dinyanyikan oleh jemaat, misalnya Gloria Patri sesudah mazmur atau Kyrie eleison dinyanyikan berbalasan antara pria dan wanita. Jemaat masih menyanyi dalam prosesi dan perayaan-perayaan tertentu. Walaupun demikian, nyanyian jemaat tidak pernah hilang begitu saja. Tidak ada dalam sejarah musik gereja bahwa nyanyian jemaat sama sekali hilang dari peredaran. Dalam Abad Pertengahan, bukan hanya perempuan yang dikucilkan dari nyanyian, melainkan seluruh jemaat. Namun sanctus tetap merupakan nyanyian jemaat hingga abad ke-12.

Refleksi
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa ada dua hal di Abad Pertengahan:
1. Nyanyian jemaat yang berkembang di abad-abad awal.
2. Musik paduan suara yang makin berkembang sejak abad ke-5.

Graduale menjadi musik yang sangat artistik, di tengah Pelayanan Sabda. Sebagai bagian yang integral dan berhubungan dengan pembacaan Firman, graduale merupakan karya yang tinggi.

Jemaat kehilangan tempat untuk berpartisipasi dalam ibadah. Ada pendapat yang berkata bahwa hal itu sama dengan menolak kemanusiaan Kristus, di mana budaya tinggi melumpuhkan budaya rakyat serta membuat keindahan menjadi berhala. Namun kita harus melihat lebih dalam lagi melalui musik gereja yang ada.

MUSIK GEREJA TRADISI TAIZE DAN IONA
Pendahuluan
Setelah Reformasi oleh Martin Luther, perkembangan musik gereja sangatlah pesat. Dapat kita lihat pada abad-abad setelah itu, muncul aliran-aliran seperti : Pietisme, Anglikan, Wesleyan, Revival dan Karismatik. Sebagian besar perkembangan musik gereja dipengaruhi oleh orang-orang Barat. Perkembangan itu ternyata membuat suatu perpecahan antara penganut Kristen. Oleh karena itu muncullah beberapa komunitas yang ingin mempersatukan perpecahan yang telah terjadi. Maka dalam karya tulis ini kami akan menjelaskan beberapa jenis perkembangan musik gereja tersebut.

Taizé
Apa itu Taizé ?
Taize bukanlah suatu istilah yang muncul akibat sekelompok orang yang ingin mendirikan suatu komunitas tertentu. Akan tetapi, Taizé merupakan nama sebuah desa kecil yang terletak di Perancis bagian Timur (dekat dengan kota Cluny). Pada tahun 1940, desa ini menjadi rumah bagi suatu komunitas spiritual yang ekumenis (bersatu). Sekarang ini Taizé adalah sebuah tempat berziarah untuk berdoa, berefleksi, dan tempat untuk mengapresiasikan berbagai macam gaya bernyanyi.[1]
Awal Mula Taizé
Seperti yang kita tahu bahwa Taizé dibentuk oleh Bruder Roger. Pada saat Perang Dunia II, Bruder Roger meninggalkan Swiss (negara kelahirannya) dan menetap di Burgondia, Perancis (tempat asal ibunya). Sejak saat itu ia bercita-cita membentuk sebuah komunitas biarawan yang mengabdikan diri pada perdamaian.
Pada suatu hari, Bruder Roger sedang mencari rumah di kota Cluny, dan akhirnya dia menemukan sebuah rumah yang dijual di desa Taizé. Ketika dia bertemu dengan pemilik rumah itu, yang ternyata seorang perempuan tua, ia menceritakan cita-citanya. Lalu perempuan itu mengatakan ,“Tinggalah di sini, kami sangat terpencil.” Bagi Bruder Roger, perkataan tersebut seperti perkataan Allah yang berbicara melalui perempuan tua itu.[2]
Desa Taizé hanya terletak 2 kilometer dari garis demarkasi yang pada waktu itu membagi Perancis menjadi 2. Di rumah yang dibelinya, ia menyembunyikan pelarian-pelarian politik yang kebanyakan orang Yahudi yang melarikan diri dari penjajahan Nazi, sampai tahun 1942 karena Gestapo menempati tempat itu.
Komunitas Taize
Awalnya, komunitas ini hanya terdiri dari 4 orang (termasuk Bruder Roger). Kemudian pada tahun 1949 komunitas ini bertambah anggotanya menjadi 7 orang, dan mulai saat itu mereka menyatakan untuk hidup membiara selama hidupnya : hidup selibat, penerimaan atas tugas pelayanan dari Prior, hidup sederhana, pemilikan bersama atas barang-barang jasmani dan rohani.[3]
Ketika jumlah anggota mencapai 12 anggota keluarga, pada tahun 1950, beberapa dari mereka pergi hidup di luar Taizé, untuk menjadi saksi perdamaian di tengah-tengah perpecahan dan hidup bersama dengan para korban kemiskinan. Sekarang ini, keluarga-keluarga tersebut tinggal di daerah-daerah miskin di Amerika Utara, Selatan, Asia, dan Afrika. Mereka hidup dalam keadaan yang sama dengan orang-orang disekelilingnya; mereka mendengarkan orang-orang itu dan mendukung orang-orang yang mencari pemecahan atas masalah-masalah mereka.[4]
Dari tahun ke tahun komunitas Taizé berambah besar. Pada tahun 1964, orang-orang dari Roma Katolik masuk ke komunitas ini kira-kira 90 orang keluarga. Orang-orang Roma Katolik dan dari berbagai latar belakang Protestan, berasal dari 20 negara.[5]
Tujuan Taizé
Semula Bruder Roger membangun komunitas Taizé untuk menyelamatkan orang-orang dari pengejaran Nazi. Lama-kelamaan ia melihat perpecahan yang terjadi (antara Roma Katolik dan Protestan), tidak mencerminkan kasih yang diajarkan oleh Injil. Banyak penganut Roma Katolik tidak mau bersama-sama dengan penganut Protestan, dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu Bruder Roger ingin mengatasi masalah tersebut. Sekarang komunitas Taize dibentuk sebagai karya membangun perdamaian, pendamaian, dan kepercayaan di dunia, baik antar agama, budaya dan sosial.[6]
Musik Taizé
Pemimpin musik Taizé adalah Jacques Berthier (1923-1994), dia adalah seorang komponis dan organis di gereja St. Ignatius (Paris). Pada tahun 1975, berthier dan kawan-kawannya membuat lagu berdasarkan pola :
- Berulang-ulang
- Frasa musik yang pendek, secara khusus : nyanyian respon, kanon, rangkaian doa-doa, dan chant (nyanyian yang mudah dan pendek), yang memiliki melodi yang mudah diingat.[7]
Liturgi Taizé
Liturgi Taizé adalah ucapan sekaligus musik pada waktu yang bersamaan “Tidak ada yang lebih nyaman untuk berkomuni dengan orang yang tinggal dengan Allah dengan cara doa yang meditatif, bernyanyi terus-menerus tanpa akhir, dan berlangsung dengan kesunyian yang menyatukan hati.”(Taizé, 1990)
Elemen-elemen yang digunakan dalam pelayanan ibadah Taizé :[8]
 Mazmur-mazmur : Introitus – pembacaan Mazmur.
 Pembacaan : Perjanjian Lama; Injil; Surat-surat; bacaan pendek.
 Lagu : Respon; himne.
 Doa : Syafaat; persembahan; doa bebas; berkat.
Kegiatan-kegiatan Taizé
Setiap hari mereka berkumpul untuk berdoa bersama sebanyak 3 kali sehari. Pada petang hari, diadakan nyanyian dan doa, setelah itu para saudara tetap tinggal di Gereja untuk mendengarkan mereka yang ingin berbicara tetang masalah pribadi atau bertanya sesuatu.
Setiap Sabtu malam diadakan doa kebaktian Tuhan, sebuah pesta cahaya.
Pada hari Jumat malam, Gereja terbuka untuk siapa saja yang ingin berdoa, di tengah gereja terdapat patung salib yang besar. Orang yang datang untuk berdoa, duduk di sekelilingnya dalam keheningan sebagai suatu cara berserah diri kepada Tuhan.[9]

Iona
Apa itu Iona?
Sama halnya dengan Taizé, dahulu Iona bukanlah sebutan bagi orang-orang tertentu, melainkan sebuah nama pulau di pantai Barat Scotlandia sampai Barat Mull Rosa. Pulau ini kira-kira 3 mil panjangnya dari Utara ke Selatan dan kira-kira 1 ½ mil lebarnya dari titik terluar. Sekarang Iona merupakan suatu komunitas untuk beribadah, musik gereja Iona memiliki corak dan keunikannya sendiri. Musik gereja Iona bisa menjadi suatu kesan tersendiri.

Sejarah Iona
Pulau ini sudah banyak didatangi oleh banyak orang sejak St. Colombia mendarat di pulau ini sejak tahun 563 SM. Pulau ini menjadi tempat bagi para peziarah. Tahun-tahun berikutnya menjadi tempat keluar masuk bagi orang-orang. Di pulau ini raja-raja datang untuk mendapat nasihat dan para prajurit untuk beristirahat dan orang-orang muda datang untuk belajar. Sampai sekarang pulau ini masih menyimpan sisa-sisa aktivitas yang terkenal dan terbesar dari St. Johan dan St. Martin, kuburan raja-raja dan sumur-sumur tua.[10]
Pada abad ke-8 Gereja Roma Katolik menguasai Kaltik, di sana berdiam para peziarah dan orang kudus. Namun, pada masa era reformasi komunitas religius tadi hilang beserta aktivitas religius mereka, maka yang tersisa ialah sisa bangunan biara.
Komunitas Iona dimulai tahun 1938 di Govan. Pada masa St. Colombia, selama berabad-abad Govan adalah suatu kampung dan daerah kependetaan yang besar dengan expansi (pengembangan) industrialisasi glasgow yang bergantung pada pembuatan kapal. Pada tahun-tahun itu pembuatan kapal dan industri berat lainnya ditimpa oleh depresi. 80 % orang-orang di Govan adalah penganggur-penganggur yang miskin dan ini terjadi selama bertahun-tahun. Tidak ada makanan yang cukup, masa depan anak-anak dan ketrampilan yang dimiliki tidak diperlukan oleh negara. Gereja hanya memperhatikan pada Marturia dan tidak memperhatikan para penganguran. Govan membutuhkan seseorang yang peduli dengan mereka, orang tersebut adalah George Macleod, yang akhirnya mendirikan Iona Community.[11]
George Macleod memiliki perhatian kepada fakta bahwa gereja mengacuhkan para penganggur miskin.[12] Ia datang menjadi Pendeta wilayah di Govan tahun 1930, pada saat depresi terbesar terjadi. Ia menghabiskan 8 tahun untuk memulihkan ibadah, harapan dan membawa manusia menemukan dalam doa sebuah aktivitas yang nyata. Ia melayani para pengangguran. Ia menyediakan pekerjaan bagi mereka. Ia membawa orang-orang dari pulau Iona untuk kembali membangun biara yang berusia 1000 tahun. Pembangunan biara ini menjadi metafor bagi pembangunan kembali dari hidup yang penuh depresi. Sebuah pengembalian kepada kepercayaan bahwa aktivitas sehari-hari adalah bahan bagi pelayanan ke-Allah-an dan ibadah.

Komunitas Iona
George Macleod meninggalkan semua kesuksesan dan mengarahkan diri pada komunitas Iona di Govan. Ia membawa 12 orang muda, setengah dari mereka adalah pengrajin dan seniman, dan sisanya adalah pelayan-pelayan muda dari Gereja Scotlandia, yang baru saja lulus dari pelatihan Teologia. Mereka bersatu membangun sisa-sisa biara dan memulihkan kembali ibadah di Iona pada musim panas. Sekarang komunitas Iona dipimpin oleh 200 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Orang yang beribadah Iona terdiri dari orang Kristen Protestan dan Roma Katolik.
Komunitas Iona terdiri dari para peziarah yang ada sekarang ini. 95 % komunitas ini adalah orang-orang Inggris yang tinggal dan melayani di tempat-tempat termiskin di Glasgow. 5 % lainnya adalah orang-orang peziarah dari berbagai negara yaitu Amerika Utara sampai ke Uganda. Setiap tahun mereka datang dan tinggal untuk beberapa waktu. Kemudian pulang dan menjadi misionaris ke berbagai tempat atau orang biasa dengan misi mewartakan Kristus.[13]

Keadaan Sosial
Pulau Iona pada tahun1930-an merupakan tempat bagi industri pembuatan kapal. Pada saat itu juga adalah masa-masa peperangan. Masa perang juga membawa dampak bagi industri Iona dan masa depresi di Iona.[14] Tahun-tahun selanjutnya masyarakat Iona hidup miskin, memelihara domba-domba, mereka juga membuat kerajinan dari jerami dan membuka toko-toko dan masih tetap seperti itu hingga hari ini. Menjadi sebuah desa yang memiliki atmosfir religius tersendiri.[15]
Ibadah dan Teologi
Tiap hari komunitas Iona secara rutin melaksanakan ibadah, dan setiap kali beribadah tema dan tujuan ibadah berbeda. Di dalam ibadah juga ditampilkan pokok-pokok dua misi, budaya salah satu etnik atau memakai tata ibadah yang bercorak etnik.[16] Ibadah komunitas Iona bersifat ekumenikal. Tema-tema ibadah mereka menyatakan pandangan teologis yang mereka pegang yaitu menekankan pada berbagai tindakan pelayanan yang nyata, kepada orang-orang tertekan dan tertindas. Pandangan mereka ini menyebabkan pola-pola pelayanan Yesus menjadi bagian dari ciri hidup komunitas Iona. Tujuan dari ibadah komunitas Iona adalah juga untuk mengembangkan spiritualitas dan keluar untuk menyatakan Kristus.

Musik Iona
Menurut komunitas Iona Angsa Liar atau Wild Goose Iona’s Community, Minggu Kudus, Paska dan masa Paska ditandai oleh suatu seri perkembangan. Oleh karena itu komunitas Iona terus mengembangkan lagu-lagunya. Sekarang komunitas Iona sudah menghasilkan 150 lagu dan nyanyian gereja dan respon-respon yang menggambarkan spiritualitas Celtic. Semua judul-judul lagu diciptakan oleh John Bell dan Graham Maule. Buku nyanyian komunitas Iona Angsa Liar (mereka mengambil angsa liar sebagai simbol Roh Kudus) :
 Heaven Shall Not Wait, Wild Goose Songs Vol. 1’(1987-1989).
 Enemy of Apathy, Wild Goose Songs Vol. 2’(1988, 1989).
 Love from Below’ (1989).
Untuk membuka diri, komunitas Iona memakai ekspresi-ekspresi devisional berbudaya dari seluruh dunia. Koleksi lagu-lagu dari Amerika Latin, Afrika, Oriental dan lain-lain, misalnya :
 Many and great : Songs of the World Chruch Vol.1’(Glasgow : Wild Goose Publications, 1990)
 Sent by the Lord : Songs of the Worl Church Vol. 2’(1991)
Ada seseorang yang bernama Tom Colvin, yang menciptakan beberapa lagu untuk komunitas Iona. Ia seorang Pendeta dari salah satu gereja di Scotlandia dan gereja reformasi yang satu di Britania Besar sebagai misionaris di Afrika. Colvin membesarkan hati untuk membuat lagu dari suku dimana ia melayani. Sebagai anggota dari komunitas Iona, ia mengumpulkan dan mempublikasikan himne Afrika ini ke dalam 2 buku :
 Free to Serve (1968)
 Leap, My Soul (1976)

Negro Spiritual / Afro-America
Negro Spiritual / Afro Afrika merupakan sebuah komunitas yang memuji Tuhan dengan cara yang khas, yaitu dengan nyanyian dan tarian. Awalnya mereka adalah para budak dari Afrika yang dibawa ke Amerika. Mereka yang adalah orang-orang kulit Hitam memiliki karakter musik yang unik dan berbeda dari orang-orang kulit Putih. Bagi mereka musik merupakan bagian yang penting. Musik dapat menceritakan sejarah hidup mereka yang disampaikan lewat syair dari nyanyiannya.

Sejarah dan Tujuan
Pada tahun 1563 orang-orang Afrika dibawa oleh Sir John Hawkins untuk dijadikan budak di Amerika.[17] Dalam perjalanan orang-orang ini membuat nyanyian yang berisi ratapan dan kesedihan yang mendalam. Seperti yang telah kita ketahui, musik dan nyanyian bagi mereka (orang kulit Hitam / Afrika) merupakan sarana dalam menceritakan perjalanan hidup mereka. Di Amerika mereka melakukan ibadah dan bernyanyi bersama dengan orang-orang kulit Putih di kamp pertemuan. Lagu yang mereka nyanyikan adalah himne Inggris. Akibatnya, banyak kata-katanya yang diinterpretasikan dalam dialek Afrika dan dikombinasikan dengan elemen-elemen musik dari kebudayaan Afrika. Akibat perbedaan gaya musik, maka orang-orang Afrika membuat lagu yang lebih energik dibandingkan dengan musik orang-orang kulit Putih.
Tujuan dari Negro Spiritual ini adalah meningkatkan spiritual mereka yang diekspresikan lewat nyanyian dan tarian sebagai penyembahan kepada Tuhan. Mereka memuji Tuhan sambil bersaksi tentang kehidupan mereka yang sebagai budak. Lagu-lagu ratapan ini berdasarkan pada Mazmur 96 : 1-4.[18]

Pencetus dan Komunitas
Keberadaan komunitas ini didasarkan pada kesamaan hidup mereka sebagai budak. Budak-budak ini membuat lagu berdasarkan kenyataan hidup dan akar persoalannya karena perbedaan antara musik mereka dengan musik orang-orang kulit Putih. Sehingga dapat dikatakan, yang menyebabkan adanya komunitas ini karena para budak di Amerika. Orang ini terdiri dari orang-orang Afrika yang ada di Amerika.

Ibadah dan teologinya
Bentuk ibadahnya sangat berbeda dengan bentuk ibadah orang barat. Hal ini dikarenakan orang-orang kulit putih memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Henry Mitchell ada 2 karakteristik religi orang-orang kulit Hitam :
 Budaya unik dari bangsa kulit Hitam, yaitu bebas berekspresi baik di mimbar (Pendeta) maupun jemaat.
 Berhubungan dengan bentuk penyembahan, henry Mitchell menamainya “ritual yang bebas”. Kebebasan ditemukan dalam musik penyembahan orang-orang kulit Hitam. Gereja orang-orang kulit Hitam membuat improvisasi dalam melodi musiknya.[19]

Tidak seperti budaya Barat, budaya Afrika tidak memisahkan antara musik duniawi dan rohani. Musik yang digunakan / dibuat adalah musik yang menceritakan sejarah kehidupan mereka. Mereka menyanyi dengan gaya tersendiri, gaya menyanyi mereka khas yaitu faselto, teriakan-teriakan / sorak-sorai dan guttural tones (suara dari tenggorokan). Instrumen musik yang mereka gunakan adalah Drum, Rhytm Stick, Banjo, Bow, Panpipe dan Balafo. Contoh lagu-lagunya adalah Uya I Mose, Rea Mole Boga, Siya Hamba, dll.
Teologi dan Negro Spiritual setuju dengan bagaimana mereka melihat Allah, dunia dan orang lain dari segi positif. Teologi mereka yaitu teologi pembebasan berdasarkan keluaran. Kitab-kitab yang sering mereka baca, yaitu kitab Musa, Daniel dan Wahyu.
Orang menikmati ibadah ini karena mereka mengekspresikan diri untuk memuji Tuhan, dan lagu-lagu ini mengandung sejarah / pengalaman hidup mereka.

Situasi politik dan Budaya
Situasi sosial yang mempengaruhi, sehingga muncul aliran ini, yaitukeberadaan orang Negro sebagai budak. Mereka menderita dan terus menatap kepada Allah. Satu-satunya bentuk ekspresi mereka adalah membuat nyanyian, sehingga terbentuklah sebuah komunitas yang menghasilkan aliran Negro Spiritual ini.
Orang-orang Afrika berada di bawah pemerintahan Amerika. Mereka adalah budak, namun mereka memiliki warna kulit dan budaya yang sangat berbeda dengan orang Amerika. Sehingga, mereka mengadopsi lagu-lagu dari himne Inggris ke dalam budaya mereka. Budaya yang menempatkan musik pada posisi yang penting.[20]

Kesimpulan
Dapat disimpulkan perkembangan musik-musik gereja yang baru saja dijelaskan, disebabkan oleh beberapa orang yang merasakan perpecahan yang terjadi di kalangan Kristen. Perpecahan itu makin lama membuat Injil tidak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Timbulah perasaan ingin bersatu dengan damai oleh beberapa komunitas tertentu. Dasar pembentukan komunitas tersebut adalah teologi pembebasan, maksudnya dengan perpecahan yang ada komunitas itu tidak ingin ada yang terbelenggu oleh batas-batas yang tidak masuk akal.
Musik gereja global ini merupakan ungkapan hati seseorang, semua orang bisa mengikuti ibadah ini dengan semaunya. Ibadah ini bebas berekspresi, ada yang menginginkan ketenangan datang ke Taize atau ke Iona, yang ingin melampiaskan kenergikannya bisa mengikuti Negro-Spiritual. Tiap orang bisa bebas datang dan pergi kapan saja, sesuai kehendak hatinya.
Jenis musik yang dipakai sesuai dengan kebudayaan yang ada pada saat itu. Perkembangan musik-musik mereka terus berkembang.

Daftar Pustaka
Balado, J.L.G.1981.The Story of Taize.Mowbray London & Oxford.
Bell, John dan Graham Maule.1990.Iona Community:Enemy of Apathy.U.S.A : GIA Publications, Inc.
Loh, I-to.1986.African Songs of Worship.Jenewa : Sub-unit of Renewal and Congregational Life World Council of Churches.
Morton, T. Ralph.1959.The Iona Community Story.London : Lutterwotrh Press.
Roger, Bruder.1997.Sumber-sumber Taize : Tiada Kasih yang Lebih Agung.Jakarta : BPK Gunung Mulia dan Yogyakarta : Kanisius
Webber, Robert E..Music and the arts of Christian Worship.Tennessee : Hendrickson Publishers.
Worship-Reformed, No. 62, edisi Desember 2001.Learning from Iona.
www.smithcreekmusic.com/Hymnology/Historical.Periodical.html

________________________________________
[1] www.smithcreekmusic.com/Hymnology/Historical.Periodical.html
[2] Bruder Roger.Sumber-sumber Taize : Tiada Kasih yang Lebih Agung. h. 95-96.
[3] Ibid., h. 96.
[4] www.smithcreekmusic.com/Hymnology/Historical.Periodical.html
[5] Bruder Roger. Op. Cit. h. 97.
[6] J. L. G. Balado.The Story of Taize. h. 29.
[7] www.smithcreekmusic.com/Hymnology/Historical.Periodical.html
[8] idem
[9] Bruder Roger, Op.Cit., h. 101.
[10] T. Ralph Morton. The Iona Community Story. h. 7.
[11] Ibid., h. 13.
[12] Worship-Reformed Church, Learning From Iona Community.
[13] Ibid., h. 30.
[14] T. Ralph Morton. Op.Cit.,. h. 7.
[15] Worship-Reformed Church, Op.Cit., h. 30-31.
[16] Ibid., h.31.
[17] Robert E. Webber.Music and the arts of Christian Worship. h. 241
[18] I-to loh. Ed. African Songs of Worship. h. i-ii.
[19] Robert E. Webber.Music and the arts of Christian Worship. h. 130
[20] www.smithcreekmusic.com/Hymnology/Historical.Periodical.html

Musik Jaman Kuno

1. Mesir
2. Yahudi
3. Yunani
4. Roma

Budaya Barat berakar dari kebudayaan Yunani dan Romawi. Plato dan Aristoteles adalah dua tokoh utama yang memberikan dasar filosofi barat. Seni sastra Eropa berasal dari tradisi Yunani Kuno dan tradisi Latin (Romawi). Musik barat juga memiliki akar yang sama, walaupun mungkin tidak sejelas bidang-bidang lain seperti seni rupa, seni sastra, sejarah, filosofi dan pemerintahan. Ada banyak contoh kebudayaan dari masa Yunani dan Romawi kuno seperti misalnya karya sastra, arsitektur, seni rupa dan patung-patung kuno. Namun contoh musik dari masa tersebut amatlah jarang, hanya beberapa fragmen dari musik Yunani kuno yang kita miliki saat ini. Kita sama sekali tidak memiliki petunjuk jelas mengenai musik Romawi tetapi kita tetap dapat mengetahui melalui sumber-sumber tertulis bahwa musik memegang peranan penting di dalam kehidupan bangsa Romawi.
Ada begitu banyak teori musik. Akar dari teori musik ini adalah teori musik kuno. Dari teori musik kuno ini, kita mengenal teori dari masa abad pertengahan yang pada akhirnya merupakan bagian dari sistem filosofi yang berlaku. Untuk dapat mengerti musik abad pertengahan kita harus mengerti dulu mengenai perkembangan musik di jaman kuno ini.

1. Musik di masa Yunani Kuno

Dari masa prasejarah hingga kini, musik dipercayai memiliki kekuatan tertentu. Dalam traidisi Yunani kuno, musik berasal dari para dewa. Merekalah yang menciptakan musik dan mereka juga yang memainkannya. Musik dianggap dapat menyembuhkan penyakit, memurnikan jiwa dan raga serta memiliki kekuatan ajaib di alam ini. Di dalam Alkitab kita juga mendapatkan informasi mengenai kekuatan musik yang dapat menenangkan hati (I Samuel 16:14-23) atau merubuhkan tembok Yerikho (Yosua 6:12-20).
Musik memegang peranan penting dalam upacara keagamaan seperti misalnya dalam kultus Apolo (dengan instrument lira) atau kultus Dyonisius (dengan instrument aulos). Lira dan kithara adalah instrument petik yang memiliki 5-7 senar (versi besar kadang-kadang mencapai 11 senar). Instrumen ini bisa dimainkan secara solo maupun dipakai untuk mengiringi nyanyian atau resitatif epos. Aulos adalah alat musik tiup yang terdiri dari satu atau dua lidah (reed).
Mulai abad ke-6 B.C. atau bahkan lebih awal, kedua instrumen tersebut dimainkan sebagai instrumen solo. Sejak itu mulai diadakan kontes musik dan semakin lama musik instrumental berkembang semakin pesat. Aristoteles akhirnya memperingatkan bahaya akan terlalu banyaknya profesionalisme dalam pendidikan musik umum. Dengan kata lain, biarlah para murid belajar hingga dapat merasakan keindahan dari melodi dan ritme yang bersahaja dan bukan sekedar bermain begitu saja.
Akhirnya setelah masa klasik (sekitar 450-325 BC), terjadi reaksi atas musik yang semakin rumit. Menjelang awal masa abad pertama, musik dan teori musik Yunani menjadi lebih sederhana. Musik yang kita warisi dari masa ini amatlah sedikit. Bentuk musik di masa itu adalah musik monofonik. Namun kadang-kadang instrumen memainkan bagian yang penuh hiasan untuk mengiringi melodi, hingga menjadi musik heterophonik. Sebagian besar dari musik Yunani adalah musik improvisasi. Melodi dan ritme selalu berhubungan dengan melodi dan ritme dari puisi. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa tradisi musik Yunani ini diteruskan oleh gereja.
Di lain pihak, teori musik Yunani justru menjadi dasar dari teori musik barat di masa Abad Pertengahan. Ada dua macam tulisan mengenai musik:
a. Doktrin mengenai fisik dari musik itu sendiri, tempatnya di dalam kosmos kita, efek yang dihasilkan dan penggunaannya di dalam kehidupan manusia, dan
b. Deskripsi sistematis mengenai bahan dan pola dari komposisi musik.
Teori musik Yunani dimulai dari Phytagoras (+ 500 BC)hingga Aristides Quintilianus (abad ke-4 AD).
Musik berhubungan dengan alam semesta melalui angka. Bunyi musical dan ritme yang diatur dengan angka menggambarkan harmoni dari alam semesta dan berhubungan dengan alam semesta. Baik Plato maupun Ptolomeus sangat mempengaruhi perkembangan teori musik di masa Abad Pertengahan. Ptolomeus menghubungkan musik dengan astronomi. Hukum matematika dipakai untuk menghitung hubungan antara musik dengan alam semesta ini. Setiap nada dan modus memiliki hubungan dengan planet tertentu, dengan jarak dan gerakan masing-masing. Ini dikenal dengan nama music of the spheres.
Musik juga berhubungan erat dengan puisi. Untuk orang Yunani, musik dan puisi adalah sama. Plato mengatakan bahwa lagu (melos) terdiri dari pembicaraan, ritme dan harmoni. Sajak liris berarti sajak yang dinyanyikan dengan lira. Penulis Yunani percaya bahwa musik memiliki kwalitas moral dan dapat mempengaruhi karakter dan tingkah laku manusia. Aristoteles menerangkan bahwa musik meniru keadaan jiwa. Musik dapat membangkitkan perasaan tertentu dari manusia. Musik yang salah membuat orang yang tidak baik. Sedangkan musik yang benar mendidik orang menjadi baik.
Baik Plato dan Aristoteles sependapat bahwa seseorang yang “baik” dapat dibentuk melalui sistem pendidikan umum yang menitikberatkan gimnastik dan musik dalam porsi yang seimbang. Namun hanya musik tertentu saja yang dapat membuat orang berkembang dengan baik. Musik juga dapat memberikan pengaruh buruk. Plato dan Aristoteles tidak setuju dengan beberapa hal dalam kehidupan musik Yunani, termasuk di dalamnya ritme ritual orgiastic, musik instrumental yang terlalu rumit dan profesionalisme yang berlebihan. Keseimbangan amatlah penting di dalam kehidupan kita. Di abad-abad berikutnya banyak peringatan dari bapak-bapak gereja mengenai bahaya musik yang berlebihan. Hingga kini, kadang-kadang masih ada kontrol atas musik yang didengar oleh orang banyak. Baik dalam dunia politik maupun dalam dunia pendidikan.
Sistem musikal Yunani cukup rumit. Studi harmoni terdiri dari 7 topik yaitu nada, interval, genera, sistem tangga nada, tonoi, modulasi dan komposisi melodis (menurut Cleonides yang hidup antara abad ke-2 dan ke-4 AD). Aristoxenus membahas mengenai elemen-elemen tersebut dengan mendalam. Suara manusia dibagi dalam dua kelompok, continuos (naik turun seperti pada saat kita berbicara) dan diastematic (ditahan dan kadang-kadang ada interval tersembunyi). Interval (tone, semitones dan ditones) dikombinasikan dan membentuk tangga nada. Bagian penting dari oktaf adalah tetrachord yang terdiri dari empat nada yang membentuk diatessaron (interval kwart/fouth).

2. Musik di masa Romawi
Musik Romawi berasal dari musik tradisi Yunani terutama sejak Yunani menjadi bagian dari kerajaan Roma di tahun 146 BC. Instrumen yang dimainkan di masa Romawi antara lain adalah tibia (aulos versi Romawi). Tibia ini dipakai di upacara keagamaan, musik militer dan dalam pertunjukan teater. Tuba juga dipakai dalam upacara keagamaan, kenegaraan dan militer. Alat musik lainnya yang penting adalah cornu dan buccina (cornu yang kecil).
Di masa kejayaan Romawi, begitu banyak tradisi Yunani yang dibawa ke kerajaan Roma (kesenian, aristektur, musik, foilosofi dan lainnya) hingga berkembang dengan yang kita kenal sebagai kebudayaan Helenisme.

Warisan dari dunia kuno:
1. Musik terdiri dari melodi yang sederhana.
2. Melodi selalu berhubungan dengan ritme dan metrum dari kata-kata.
3. Pertunjukan musik adalah improvisasi berdasarkan rumus yang ada.
4. Para filsuf berpendapat bahwa musik adalah sistem yang berhubungan dengan sistem alam dan mempengaruhi pikiran manusia.
5. Teori akustik mulai ada.
6. Tangga nada dibentuk dari kumpulan tetrachords.
7. Terminologi musikal mulai berkembang.

Warisan ini diambil alih dan berkembang hingga seperti sekarang ini melalui gereja, tulisan para bapak gereja dan traktat mengenai musik dari awal Abad Pertengahan. Helenisme berkembang dengan beridirinya Roma sebagai kerajaan yang kuat. Pada tahun 312 AD Kaisar Konstantin menjadi pengikut Kristus. Pada tahun 395 AD terjadi perpecahan politik menjadi Kerajaan Barat dengan ibukota Roma dan Kerajaan Timur dengan ibukota Byzantium.
Musik Kristiani di sekitar tiga abad pertama dipengaruhi oleh tradisi Yunani, percampuran Oriental Helenisme dan juga budaya timur Mediterania. Tapi gereja menolak musik sebagai pusat kesenangan. Para pemimpin ingin menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan musik pada masa lalu untuk penyembahan berhala dan kultus lainnya.
Ibadah Kristen mengambil contoh dari Yudaisme. Bait Allah (yang pertama dibangun oleh Raja Salomo, sedangkan Bait Allah yang kedua didirikan di tempat yang sama) adalah tempat ibadah utama orang Yahudi. Ibadah Yahudi biasanya terdiri dari pembakaran kurban. Ritual ini diiringi dengan musik ibadah. Pada perayaan hari raya, dinyanyikan mazmur. Misalnya Mazmur 113-118 dinyanyikan pada saat Paskah. Ibadah Kristen memiliki banyak parallel dengan ibadah orang Yahudi. Di dalam ibadah Kristen, umat merayakan perjamuan kudus/komuni, yang parallel dengan Passover meal yang diiringi dengan mazmur pujian.
Sinagoge adalah tempat untuk pembacaan kitab suci dan pemberitaan Firman Tuhan/homili. Di situlah para umat Yahudi berdiskusi mengenai Firma yang diberitakan.
Tradisi Kristen mengambil contoh nyanyian dalam ibadah. Biara dan gereja-gereja di Siria sangat penting dalam perkembangan nyanyian mazmur dan nyanyian pujian.
Byzantium adalah pusat dari tradisi Gereja Timur. Byzantium (kemudian diberi nama Konstantinopel dan sekarang adalah Istanbul) dibangun oleh Kaisar Konstantin dan didesain pada tahun 330 sebagai ibu kota Romawi yang kembali bersatu. Namun setelah pecahnya kedua kerajaan tersebut di tahun 395, kota ini tetap menjadi ibu kota kerajaan Timur hingga direbut oleh Turki pada tahun 1453. Pada saat ini Byzantium adalah pusat kebudayaan yang merupakan gabungan dari budaya Helenisme dan Oriental. Musik gereja Byzantine memiliki ciri khas tersendiri. Ini adalah cikal bakal dari recitative yang kita kenal di kemudian hari.
Kerajaan Romawi di Barat juga semakin berkembang. Ada sekitar enam tradisi nyanyian (chant) yang muncul di Gereja Barat, yaitu: Gallican chant (di daerah Gaul, sekarang Perancis), Beneventan (Italia Selatan), Old Roman chant(di Roma), Ambrosian (di sekitar Milan), nyanyian Gregorian dan di akhir Abad Pertengahan, Inggris memiliki bentuk musik liturgis sendiri yaitu Sarum (Salisbury). Para Bapa Gereja menulis sejumlah petunjuk mengenai banyak hal dalam bahasa Yunani maupun Latin. Mereka juga menulis tentang musik. Musik adalah pelayan dari pengajaran Kristen dan diperdengarkan di gereja. Oleh sebab itu musik instrumental tidak termasuk di dalam musik ibadah. Namun walaupun demikian, jemaat diijinkan untuk menggunakan lira sebagai iringan dalam menyanyikan nyanyian pujian dan mazmur di rumah masing-masing.
Augustinus, Martianus Capella dan Boethius menulis menginai musik. Baik dari definisi, fungsi, psikologi dan sebagainya. Boethius membagi musik dalam tiga bentuk, musica mundana (musik kosmik/alam semesta), musica humana (musik yang menjaga kesatuan antara jiwa raga dan bagian-bagiannya) dan musica instrumentalis (musik yang dihasilkan oleh instrumen termasuk suara manusia). Prinsip musica mundana muncul kembali di dalam seni dan sastra dari akhir masa Abad Pertengahan, khususnya di dalam struktur dari Paradise dalam Divine Comedy dari Dante. Musica humana bertahan di masa Renaissance dan berkembang hingga sekarang di dalam bentuk astrologi. Boethius juga menulis mengneai pengaruh musik di dalam pendidikan. Musica instrumentalis adalah bentuk musik yang kita kenal sekarang ini sebagai musical art, dan merupakan kategori terendah. Musikus sejati bukanlah mereka yang menyanyi atau komponis yang membuat lagu dengan instink tanpa mengerti keadaan/ciri khas dari medium tersebut tetapi para filsuf, kritikus, yang dapat menilai sesuai dengan perkiraan atau alasan yang berhubungan dan cocok dengan musik.

Musik

1. Beberapa pertanyaan mendasar
Apa itu musik?
Tidak mudah untuk menjelaskan apa sebenarnya musik itu. Musik dapat dikatakan sebagai bunyi yang diatur sedemikian rupa dalam satuan waktu hingga menghasilkan sesuatu yang berarti. Dengan kata lain bunyi yang dihasilkan itu haruslah dihasilkan dengan sadar dan bukan sekedar kebetulan saja.[1] Tidak semua musik itu indah. Yang penting adalah musik merupakan medium untuk menyampaikan pesan tertentu, baik pesan itu disampaikan secara eksplisit maupun implisit.
Apakah bunyi itu?
Bunyi itu sendiri tidak dapat berdiri sendiri. Ia hanya berfungsi jika ada sesuatu yang menjadi alat pendengar. Ada tiga hal yang diperlukan untuk menghasilkan bunyi:
• inisiator (suara manusia, suara binatang, bunyi alat musik atau bunyi mesin),
• transmitor (udara yang mengantarkan getaran yang dihasilkan inisiator),
• receiver (pesawat penerima, dalam hal ini telinga, baik telinga manusia maupun makhluk lain). [2]
Jika tidak ada telinga yang mendengar bunyi yang dihasilkan, berarti tidak ada bunyi. Telinga kita merupakan sensor penerima yang cukup akurat.

Pythagoras (hidup sebelum 500 tahun SM) telah meneliti tentang fenomena bunyi. Ia meneliti bunyi berdasarkan petikan di dawai. Petikan tersebut menghasilkan bunyi dengan tinggi tertentu. Jika dawai panjang dawai diperpendek setengahnya (misalnya dengan menekan di tengah-tengah), maka bunyi yang dihasilkan adalah satu oktaf lebih tinggi. [3]

Dengan demikian dawai dengan panjang 2:1 menghasilkan bunyi yang 1 oktaf lebih tinggi. Dawai dengan perbandingan yang sederhana seperti 2:3, 3:4, 4:4, 8:9, semuanya menghasilkan not-not lain dalam tangganada diatonis. Prinsip ini masih digunakan dalam pemakaian registrasi dari instrumen orgelpipa.

Baru di abad XVI kita mengetahui bagaimana bunyi tersebut dihasilkan. Bunyi dihasilkan dari getaran yang amat sangat cepat dari benda tertentu dan getaran itu ditransmisikan melalui udara. Jangkauan bunyi yang dapat didengar manusia adalah 20-20.000 Hz.

Berdasarkan fisik dari bunyi, bunyi terdiri dari:
• frekwensi,
• warna suara,
• volume. [4]

Frekwensi adalah banyaknya getaran yang dihasilkan oleh bunyi tersebut di dalam satu detik. Tinggi rendah suatu bunyi ditentukan oleh banyaknya getaran per detik. Semakin tinggi bunyi, semakin banyak getaran. Semakin rendah bunyi, semakin sedikit getaran yang dihasilkan dalam satu detik.

Warna suara atau kwalitas bunyi ditentukan oleh jumlah dan proporsi overtones atau nada-nada alami. Bunyi terdiri dari spectrum atau kumpulan banyak bunyi. Bunyi yang bergetar di dalam ruangan yang terbatas memiliki nada alami yang lebih sedikit. Sedangkan bunyi yang bergetar di dalam ruangan dan segmen yang lebih luas, memiliki nada alami yang lebih banyak.

Volume atau keras-lembutnya bunyi tergantung dari amplitude atau tinggi rendahnya getaran tersebut dan juga seberapa jauh atau keras senar atau kolom udara bergetar.

Bunyi yang tidak teratur kita sebut bunyi yang ribut (noise). Seringkali penilaian bunyi yang indah dan ribut itu ditentukan oleh penilaian pribadi dari pendengar.
Musik sebagai bahasa
Musik adalah alat komunikasi antara pencipta dan pendengar, yang dapat membangkitkan emosi dan pemikiran tertentu. Namun musik tidak dapat menyampaikan sesuatu secara konkrit seperti kata-kata. Bahasa yang disampaikan adalah bahasa yang abstrak yang tergantung dari konteks sosial dan historis dari musik tersebut. [5]

Tanpa mengerti konteks, akan sangat sulit untuk mengerti apa yang ingin disampaikan oleh musik tersebut. Musik yang sebetulnya indah dan berarti akhirnya hanya menjadi sekedar bunyi yang ribut saja. Itu sebabnya penting bagi pendengar untuk menyadari jenis (style), bentuk (form)dan konteks sosial dari musik apapun juga, untuk dapat menghargai musik tersebut tanpa perlu harus merasa bahwa musik tersebut bagus atau indah.
Kapan kita mendengarkan musik?
Saat ini kita dapat mendengarkan musik di mana saja dan kapan saja. Namun dulu, tidak demikian. Sebelum masa elektronik, semua musik adalah musik yang hidup (live) dan pendengar seringkali harus menempuh perjalanan ke tempat pertunjukan untuk mendengarkan musik. Pendengar harus berkonsentrasi sebaik-baiknya karena musik tersebut tidak dapat diulang. [6]

Sekarang ini dengan teknologi yang semakin canggih, kita dapat senantiasa mendengarkan musik kesayangan kita. Tidak jarang kita hanya membiarkan bunyi itu berlalu, tanpa benar-benar mendengarkannya.
Mengapa kita mendengarkan musik?
Jawabannya beraneka ragam, dari yang sederhana (karena saya suka musik) hingga yang rumit. Ada musik yang sederhana, ada juga musik yang memerlukan konsentrasi tinggi jika kita mendengarnya (misalnya musik simfoni). Itu semua membuat tingkat mendengarkan pendengar berbeda-beda.

Ada tiga tingkat pendengaran:
1. Mendengarkan secara pasif untuk melayani keadaan jiwa atau mood kita.
2. Mendengarkan dengan sedikit lebih aktif, di mana musik tersebut membawa kita kepada memori dan ingatan tertentu.
3. Mendengarkan secara analisis, di mana kita berkonsentrasi pada musik itu sendiri. Dengan membedakan antara elemen-elemen musik seperti ritme, bentuk, melodi atau dinamika.[7]

Tidak ada cara yang baik atau buruk untuk mendengarkan musik. Namun pengetahuan dan pendidikan memberikan bekal pada kita untuk dapat mengerti sehingga dapat lebih menikmati musik yang kita dengarkan. Dengan meneliti elemen musik serta konteks histories dan stylistic dari musik itu, kita dapat berkembang dalam mendengarkan musik serta mengerti apa yang tersirat dalam musik tersebut.

2. Agen dari Musik
Bagaimana musik tiba ke telinga pendengar?
Sebelum tiba di telinga pendengar ada beberapa proses yang dilalui oleh musik. Ada 4 agen utama dari musik yaitu:
• komponis sebagai pencipta,
• musikus sebagai orang yang menyampaikan musik tersebut,
• medium sebagai alat untuk menyampaikan musik tersebut,
• pendengar sebagai konsumen.

Komponis menghasilkan musik. Musik tersebut biasanya didokumentasikan dalam bentuk notasi. Di masa kini, notasi dapat dicetak sebanyak-banyaknya. Jaman dulu sebelum ada percetakan, pendokumentasian komposisi hanya dapat dilakukan dengan membuat kopi dari manuskrip asli. Semuanya dikerjakan dengan tangan.

Saat ini, di samping dokumentasi dalam bentuk notasi, hasil karya komponis tersebut juga dapat didokumentasikan secara audio-visual. Misalnya dalam bentuk CD, kaset, VCD, DVD, siaran radio dan sebagainya.

Musikus adalah orang membahasakan notasi yang tertuang itu dalam bentuk auditif sehingga pendengar dapat mendengarkan bagaimana musik yang diciptakan tersebut. Ada 3 hal penting yang harus dikuasai sepenuhnya oleh seorang musikus. Seorang musikus harus memiliki motorik yang baik, kemampuan kognitif yang tinggi untuk dapat mengerti dan melakukan apa yang diinginkan komponis serta memiliki afeksi dengan musik yang dimainkannya. Ketiga hal tersebut haruslah berimbang, jika tidak, maka pasti ada kekurangan dalam permainan musikus tersebut. Motorik yang baik tanpa diimbangi afeksi akan membuat musik terdengar mekanikal, tidak ada jiwa di dalamnya. Sebaliknya afeksi yang baik tanpa didukung motorik yang baik membuat kemampuan teknis tidak ada, akibatnya musik yang terdengar banyak salahnya. Kemampuan motorik dan afeksi yang baik tanpa dukungan pengetahuan (kognitif) mengenai musik yang dimainkan dan seni pertunjukan (performance practice) yang berlaku, hasilnya akan terjadi misinterpretasi. Itu sebabnya dalam masa pendidikan, seorang pemusik harus sedapat mungkin menambah ilmu sebanyak-banyaknya supaya dapat menjadi medium yang baik untuk membahasakan musik tersebut kepada pendengar.

Untuk dapat membahasakan notasi tersebut, pemusik harus memiliki medium yang berupa vokal atau instrumental. Di samping itu ia juga harus merupakan tenaga terdidik dan mengetahui mengenai hal-hal yang berhubungan dengan musik tersebut.

Hasil yang diterima oleh pendengar dapat berupa notasi/partitur, pertunjukan hidup atau berupa rekaman. Kegiatan ini berlangsung secara terus-menerus. Semua pihak yang ada merupakan kesatuan mata rantai yang tidak dapat berfungsi dengan baik jika ada mata rantai yang putus.

3. Musikologi
Musikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang musik. Sebetulnya penelitian mengenai fisik dari musik telah dimulai sejak masa kebudayaan Yunani Kuno dan estetika musik telah dipelajari di sekitar abad XIV.[8] Namun musik sebagai ilmu pengetahuan yang dapat diteliti secara empiris, baru berkembang di abad XIX. Pada mulanya musikologi yang ada hanyalah musikologi secara historis. Dengan kata lain penelitian yang dilakukan sebagian besar adalah penelitian berdasarkan konteks sosial dan historis dari musik tersebut. Namun lama-kelamaan, muncullah yang disebut dengan musikologi sistematis atau akhir-akhir ini kadang-kadang disebut juga sebagai musikologi kognitif.

Ilmu pengetahuan selalu dimulai dengan pertanyaan. Demikian pula dengan musikologi. Ada begitu banyak pertanyaan yang muncul sehubungan dengan musik namun tidak dapat dijelaskan hanya dengan sekedar penelitian berdasarkan sejarah musik saja. Penelitian antar disiplin mengenai musik baik dari segi fisik musik sendiri maupun efek musik terhadap manusia, semakin lama semakin berkembang.

Dalam sejarah perkembangan musikologi, terjadi pergeseran dari penelitian musik sebagai karya seni di mana titik pusat adalah partitur dan konteks historis serta cultural musik tersebut, menjadi musik sebagai bunyi. Baik pemusik maupun pendengar memegang peranan penting, sedangkan dalam musikologi historis, biasanya komponis yang memegang peranan penting.

Perubahan ini sejalan dengan pergantian orientasi dalam bidang lingusitik di tahun 60 dan 70-an. Dalam musikologi, revolusi kognitif[9] juga memegang peranan dalam perubahan tersebut. Perhatian akan aspek kognitif dan empiris dari musik meningkat. Bagian ini dikenal dengan sebutan musikologi sistematis atau juga musikologi kognitif, yang menyatukan penelitian yang dulunya terpisah dalam bidang psikologi, informatika dan (etno)musikologi, menjadi satu kegiatan lintas ilmu. Bidang ini akhirnya berkembang menjadi bidang yang penting dan berorientasi internasional.[10]

Musikologi sistematis mempelajari musik dalam segala budaya di segala waktu dan dalam segala bentuk, baik berdasarkan basis individual maupun kelompok. Pertanyaan utama dalam penelitian yang dilakukan adalah pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan fungsi dan arti musik secara penuh. Dengan menghubungkan unsur-unsur komponen budaya dari musik (konteks dan produksi , distribusi, konsumsi dan perhatian) dan elemen alami dari musik, kita dapat menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Oleh sebab itu penelitian musikologi sistematis bersifat lintas ilmu dan mengandung banyak hal dari berbagai segi. Misalnya teori musik dan analisa, psikologi musik, neuromusikologi, sosiologi musik, etnomusikologi, teknologi musik, arsip musik, organologi, musik dan multimedia etc. Dengan kerja sama lintas ilmu tersebut, musik menjadi sesuatu yang sangat universal.

Christina Mandang, MM
Universitas Pelita Harapan
Pengetahuan Musik I

________________________________________
[1] Antony Hopkins, Understanding Music, NY, 1999, 11
[2] Ibid, 9
[3] Joseph Kerman, Listen: Brief Edition, NY, 19872, 10
[4] Kerman, 10.11
[5] Ronald Pen, Introduction to Music, NY, 1992, 4
[6] Ibid, 5
[7] Pen, 7
[8] Gerrit Slagmolen, Muzieklexicon, Utrecht, 1957, 269
[9] Revolusi kognitif adalah cara berpikir kita dan pengetahuan kita mengenai dunia yang memegang peranan penting untuk mengerti kenyataan yang ada.
[10] http://www.ipem.ugent.be/index.html

Musik Periode 1600-1800 II
Beberapa Komponis Penting

Antonio Vivaldi
- Lahir di Venesia, 4 Maret 1678
- Anak dari pemain seorang pemain biola di St. Markus di Venesia.
- Seorang pastor, dijuluki il prete rosso (pastor berkepala merah).
- Guru biola, komponis dan dirigen di panti asuhan anak perempuan di Venesia.
- Sering bepergian, membuat komposisi dan memimpin opera dan konser di Italia dan Eropa.
- Meninggal dunia pada tanggal 28 Juli 1741, kemungkinan karena bronchitis.
- Dilupakan orang setelah kematiannya.
- Terkenal dengan + 450 concerti dan concerti grosso.

Musik
- Tidak banyak musik vokal, yang terkenal antara lain Gloria in D major (RV 588) dan polychoral psalm-setting Dixit Dominus (RV 594).
- Menulis banyak concerti.
- Concerti yang awal banyak mendapat pengaruh dari Corelli, namun ia mengembangkan banyak idiom terutama dari Torelli dan Albinoni.
- 2/3 dari concerti Vivaldi adalah concerto untuk satu instrumen solo; biasanya biola tapi ada juga untuk cello, flute atau bassoon.
- Concerto Vivaldi biasanya terdiri dari tiga bagian: Allegro; bagian lambat biasanya dalam kunci yang sama atau yang berhubungan dekat (parallel minor, dominant atau subdominant); Allegro final yang biasanya lebih pendek daripada bagian pertama.
- Strukturnya lebih homofonik dibandingkan generasi sebelumnya.
- Dalam bagian cepat, seluruh ada ritornello untuk seluruh orkestra, bergantian dengan episode untuk soloist (sama seperti Torelli).
- Membangun tarikan dramatic antara solo dan tutti, hingga soloist sangat dominant.
- Pengaruh Vivaldi pada generasi berikut amat penting, terutama penggunaan konsep dramatik dalam peranan soloist. Ia dikagumi oleh karena tema yang pendek namun ekspresif, bentuk yang jelas, ritme yang hidup dan alunan yang logis dari ide musical.
- Musik yang paling dikenal adalah The Four Seasons.

Four Seasons Op. 8 No. 1-4
 Musik ini hanyalah sebagian dari 12 karya lainnya, Op. 8 yang berjudul The Trial
between Harmony and Invention (Il Cimento dell’ Armonica e dell’ Inventione).
 Terbit tahun 1725.
 Untuk solo biola, tiap concerto terdiri dari 3 bagian.
 Vivaldi menggunakan empat soneta yang kemungkinan ditulisnya sendiri, sebagai dasar dari musik ini.
 Di dalam partitur tertulis bagian musik apa yang sejalan dengan isi dari soneta tersebut.

Spring – Concerto in E Major
Allegro
Springtime is upon us.
The birds celebrate her return with festive song,
and murmuring streams are softly caressed by the breezes.
Thunderstorms, those heralds of Spring, roar, casting their dark mantle over heaven,
Then they die away to silence, and the birds take up their charming songs once more.

Largo
On the flower-strewn meadow, with leafy branches rustling overhead, the goat-herd sleeps, his faithful dog beside him.

Allegro
Led by the festive sound of rustic bagpipes, nymphs and shepherds lightly dance beneath the brilliant canopy of spring.
________________________________________
Summer – Concerto in g-minor
Allegro non molto
Beneath the blazing sun’s relentless heat
men and flocks are sweltering,
pines are scorched.
We hear the cuckoo’s voice; then sweet songs of the turtle dove and finch are heard.
Soft breezes stir the air….but threatening north wind sweeps them suddenly aside. The shepherd trembles, fearful of violent storm and what may lie ahead.

Adagio e piano – Presto e forte
His limbs are now awakened from their repose by fear of lightning’s flash and thunder’s roar, as gnats and flies buzz furiously around.
Presto
Alas, his worst fears were justified, as the heavens roar and great hailstones beat down upon the proudly standing corn.
________________________________________
Autumn – Concerto in F Major
Allegro
The peasant celebrates with song and dance the harvest safely gathered in.
The cup of Bacchus flows freely, and many find their relief in deep slumber.

Adagio molto
The singing and the dancing die away
as cooling breezes fan the pleasant air,
inviting all to sleep
without a care.

Allegro
The hunters emerge at dawn,
ready for the chase,
with horns and dogs and cries.
Their quarry flees while they give chase.
Terrified and wounded, the prey struggles on,
but, harried, dies.
________________________________________
Winter – Concerto in f-minor
Allegro non molto
Shivering, frozen mid the frosty snow in biting, stinging winds;
running to and fro to stamp one’s icy feet, teeth chattering in the bitter chill.

Largo
To rest contentedly beside the hearth, while those outside are drenched by pouring rain.

Allegro
We tread the icy path slowly and cautiously, for fear of tripping and falling.
Then turn abruptly, slip, crash on the ground and, rising, hasten on across the ice lest it cracks up.
We feel the chill north winds coarse through the home despite the locked and bolted doors…
this is winter, which nonetheless brings its own delights.

Jean-Philippe Rameau
- Lahir di Dijon pada tahun 1683 namun selama 40 tahun pertama dari hidupnya, ia tidak dikenal orang.
- Pada mulanya ia dikenal sebagai teoretikus dan baru di kemudian hari ia dikenal sebagai komponis.
- Belajar musik dari ayahnya yang adalah seorang organis.
- Bekerja sebagai organis di Avignon dan Dijon (1715-1722) sebelum pindah ke Paris pada tahun 1722.
- Menerbitkan Traité del’harmonie (Treatise on Harmony) pada tahun 1722.
- Bekerja sebagai organis dan guru musik sebelum akhirnya bekerja untuk La Pouplinière, seorang Perancis yang kaya raya.
- Bekerja sebagai maitre de musique sekitar tahun 1735-1753 untuk La Pouplinière, di mana Rameau banyak menghasilkan musik kamar dan juga opera serta musik untuk balet.
- Sekitar 1740-an Rameau mulai menjajakkan kakinya di Royal Court. Mulai tahun 1745 ia menjadi compositeur de la musique de la chamber du roy dan mencapai puncak karirnya.
- Meninggal dunia pada tahun 1764, di mana ibadah pemakamannya dihadiri sekitar 1500 orang, dengan 180 pemusik. Setelah itu masih banyak diselenggarakan memorial services baik di Paris maupun di provinsi lainnya.

Musik
- Atas bantuan La Pouplinière, Rameau membangun namanya menjadi komposer opera yang terkenal.
- Karya yang penting di awal karir dalam menulis opera adalah Hippolyte et Aricie, dengan syair dari libretti terkenal, Abbé Simon –Joseph Pellegrin, dipertunjukkan secara pribadi tahun 1733 sebelum akhirnya diproduksi di Paris pada tahun yang sama.
- Opera Rameau mengundang pro dan kontra.
- Para pendukung Lully menganggap musik Rameau terlalu sulit, Dipaksakan, terlalu besar, tebal, mekanik dan tidak alami – dengan kata lain terlalu baroque.
- Rameau mengatakan bahwa ia tidak mengopi Lully tetapi ia mengimitasi Lully dalam mengambil contoh alam sebagai model, dengan indah dan sederhana.
- Di periode akhir, Rameau menulis comedy-ballet Platée (1745) untuk pernikahan putra mahkota Perancis dan opera yang lebih serius Zoroastre (1749).

Karya teoretis
- Pengaruh Rameau dalam bidang teori musik amat penting dalam perkembangan musik.
- Rameau menganggap bahwa akord adalah elemen utama dalam musik dan trinada dengan sendirinya terjadi jika satu senar dibagi dalam dua, tiga, empat dan lima bagian yang sama.
- Ide penting Rameau yang lain adalah progresi akar dalam harmoni.
- Rameau menetapkan sistem yang kita kenal sekarang, yaitu pentingnya fungsi tonika, dominant dan sub-dominan dalam harmoni. Itu sebabnya ia beranggapan bahwa modulasi adalah akibat terjadi perubahan fungsi dari satu akord (dalam istilah modern: pivot chord).

Musical Style
- Setelah Lully, opera di Perancis semakin dramatis, dekor yang semakin rumit, musik yang semakin deskriptif, tarian, paduan suara dan lagu.
- Musik Rameau lebih melodis dan dipenuhi dengan harmoni berdasarkan fungsi.
- Musiknya penuh dengan kombinasi antara akord konsonan dan disonan, progresi yang langsung maupun tak langsung/dengan tarikan, modulasi untuk tujuan ekspresif dan sesekali penggunaan kromatik dan modulasi enharmonic di samping harmoni yang diatonis.


Johann Sebastian Bach
- Lahir di Eisenach pada tanggal 221 Maret 1685, dari keturunan pemusik, empat puteranya menjadi pemusik juga.
- Ohrdruf (1695-1700): tinggal dengan kakaknya, Johann Christoph dan belajar di gymnasium.
- Lüneburg (1700-1702): Belajar orgel pipa di bawah bimbingan Jan Adams Reinken di Hamburg dan dalam periode ini Bach bertemu dengan Georg Böhm serta mulai berkenalan dengan tradisi orgel pipa Hamburg yang amat terkenal.
- Weimar periode pertama (1703, amat pendek): Sambil menunggu posisi sebagai organis di Arnstadt, Bach menjadi pemain biola di orkes kamar dari DukeJohann Ernst, adik dari Duke of Weimar. Mulai belajar mengenai musik instrumental Italia.
- Arnstadt (1703-1707): Organis. Pada tahun 1705 mendapat kesempatan untuk pergi ke Lübeck selama tiga bulan untuk mengunjungi Buxtehude dan menghadiri konser malam dari Marienkirche di Lübeck di mana cantatas diperdengarkan.
- Mulhausen (1707-1708): Organis. Pada tanggal 17 Oktober 1707 menikahi Maria Barbara. Mulai menulis cantata (Gott ist mein König, BWV 71).
- Weimar (1708-1717): Court organist/conductor. Menulis banyak karya untuk orgel pipa dan semakin dikenal sebagai organis yang andal. Begitu banyak murid yang datang belajar padanya.
- Cöthen (1717-1723): Court organist/conductor. DI sini ia banyak menulis karya untuk musik kamar seperti concerto biola, sonata dan keyboard music. Maria Barabra meninggal dunia pada saat Bach pergi ke Carlsbad di tahun 1720, meninggalkan empat orang anak. Bulan Desember 1721Bach menikah dengan Anna Magdalena. Mereka menikah 28 tahun dan dikaruniai 13 anak, tetapi sebagian meninggal pada saat masih kecil.

Kewajiban Bach di Leipzig (1723-1750)
- Cantor di Thomaskirche: membuat musik untuk empat gereja kota, melatih, memimpin dan membuat komposisi untuk setiap ibadah Minggu.
- Memberikan pendidikan musik untuk 55 siswa di Thomasschule.
- Mengawasi stadtpfeiffers atau gilda musisi.
- Pemimpin dari Collegium Musicum Leipzig yang adalah organisasi mahasiswa yang menyelenggarakan konser mingguan di sebuah rumah kopi.
- Seorang organis dan teknisi orgel pipa yang andal dan menciptakan banyak karya untuk orgel pipa serta piawai dalam berimprovisasi (musik yang diciptakan pada saat bermain).
Kehidupan pribadi
- Seorang protestan yang religius.
- Dikaruniai 20 anak dari 2 istrinya.
- Menjadi buta karena katarak.
- Saat ini dikuburkan di Thomaskirche, Leipzig.
- Dilupakan setelah kematiannya dan baru mulai dikenal kembali ketika Mendelssohn membawakan Matteus Passion pada tahun 1829.

Musik
Cantata
- Sebagian besar dari musik vokalnya adalah musik sakral.
- Tidak ada perbedaan antara bentuk sakral dan sekuler.
- Bach menggunakan bentuk operatis seperti aria dan recitative di dalam kantata sakralnya.
- Bach menulis semua genre kecuali opera.
Suita Barok
Musik untuk orgel pipa: Preludium dan Fuga, Trio Sonata, Chorale Preludes, bentuk bebas lainnya (Fantasia, Toccata dsb.).
Musik untuk klavir (cembalo dan clavichord): Toccata, Das wohltemperirte Clavier, 1722 dan ca. 1740, Clavier Suites (English Suites, French Suites,),Partitas,Goldberg Variations.
Musik untuk solo biola dan cello: 6 sonata dan partita untuk biola, 6 suite untuk solo cello dan partita untuk solo flute.
Sonata untuk ensemble : 6 sonata untuk biola dan cembalo, 3 sonata untuk viola da gamba dan cembalo, 6 sonata untuk flute dan cembalo. Biasanya terdiri dari 4 bagian, – lambat-cepat-lambat-cepat.
Concerto: Brandenburg Concerto (ada 6).
Suita orkestral: 4 Ouvertures.
Musik lainnya: Musikalische Opfer, BWV 1079 yang terdiri dari ricercare 3 dan 6 suara untuk klavir dan 10 kanon, yang berdasarkan tema dari Frederick Agung dari Prusia. Di samping itu ada Die Kunst der Fuge yang belum rampung pada saat Bach meninggal dunia, yang memberikan segala kombinasi cara menulis fuga.

Suite No. 3 in D Major
- 2 ob, 3 tpt, timp, strings, basso continuo
- Prelude, Air, Gavotte, Bourée, Gigue
- Binary Form : A A B B

Georg Frederich Händel
- Lahir di Halle, Jerman pada tanggal 23 Februari 1785.
- Belajar musik di bawah bimbimngan Friedrich Willem Zachow (orgel pipa, cembalo, viola, oboe, belajar kontrapunkt dan mengenal musik karya koponis Jerman dan Italia dengan membuat kopi dari musik tersebut.
- 1703-1706 : Pergi ke Hamburg, pusat opera di Jerman, bertemu dengan Reinhard Keiser dan Johann Mattheson. Pada tahun 1705 operanya yang pertama, Altamira, dipertunjukkan di Hamburg.
- 1706-1710 : Italia, berkenalan dengan Corelli, Caldara, kedua Scarlatti (Alessandro, bapak, sedangkan Domenico anaknya, sebaya Händel). Bekerja pada Marquis Francesco Ruspoli. Karya penting di masa ini adalah motet Latin, sebuah oratorio dan sekumpulan Cantata Italia serta opera Agrippina.
- 1710: Hanover tapi akhirnya pergi ke London selama hampir satu tahun (opera Rinaldo dipertunjukkan di London).
- 1711: Ke Hanover namun langsung pergi kembali ke London.
- 1712: menetap di Inggris dan bekerja untuk kerajaan Inggris.
Dari kerajaan ke opera
- Händel menulis musik untuk kerajaan seperti misalnya anthem dan masque.
- Opera Italia sangat popular dan Händel banyak menulis opera Italia sehingga banyak menimbulkan kontroversi karena publik Inggris lebih memilih opera Inggris.
- 1720-1728: Masa kejayaan Royal Acaademy of Music, Händel menulis sebagian dari opera terbaiknya.
Dari opera ke oratorio
- Händel mulai membuat “opera” dengan cerita Alkitab, Esther¸ sekitar tahun 1720, ini semacam setengah jalan antara opera dengan oratorium. Kemudian menulis Debora dan Athalia, yang disebut sebagai oratorium Inggris agung yang pertama.
- 1737: mendapat stroke atau musibah yang menyebabkan tangan kanannya terganggu dan Händel menjadi stress hingga kawan-kawan dan pelindungnya mengirim Händel ke Ais-la-Chapelle untuk berobat.
- Dari sana, ia menjadi sangat aktif dan memproduksi banyak oratorio.
- Akhir 1730-an Händel juga banyak membuat musik untuk orkes termasuk Organ Concerts yang amat populer.
- Musim gugur 1739: Concerti Grossi Op.6.
- 1741: Diundang ke Dublin untuk mempertunjukkan karya-karyanya.
- 1742: Première Messiah di Dublin, sukses. Hingga akhirnya dipertunjukkan di Covent Garden mulai 1743, satu seri bersama dengan Samson.
- 1749: Music for the Fireworks dan karya-karya besar lainnya.
- Matanya menjadi semakin lemah, dimulai dengan mata kiri dan akhirnya mata kanannya juga menjadi lemah , hingga buta di tahun 1752. Namun ia tetap memainkan musik concerfo orgel dan voluntaries di antara bagian oratorionya. Ia juga seorang improvisator andal.
- 14 April 1759 menutup matanya dan dikubur di Westminster Abbey.
- Berbeda dengan komponis lainnya, Händel adalah seorang yang tetap diingat setelah meninggal. Ini terbukti dari banyaknya tulisan mengenai beliau dan pada peringatan 25 tahun meninggalnya, diadakan banyak seri konser peringatan dan mencapai puncak pada tanggal 29 Mei 1784 dengan pertunjukan massal dari Messiai di Abbey, yang merupakan karyanya yang amat sangat terkenal.


Christina Mandang, MM
Sekolah Tinggi Teologi Jakarta
Apreasiasi Musik dan Analisis

Pengantar Hymnologi
Selayang Pandang
Perkembangan Nyanyian Jemaat

Oleh: Christina Mandang

Pendahuluan
Liturgi atau ibadah kita sarat dengan nyanyian jemaat. Nyanyian jemaat adalah bagian dari musik gereja yang dinyanyikan bersama-sama oleh seluruh umat di dalam ibadah. Ada berbagai macam bentuk nyanyian jemaat yang masing-masing memiliki cirinya sendiri-sendiri. Itu sebabnya pengetahuan mengenai hymnologi amatlah penting bagi para pemusik gereja, baik dirigen, pemusik, penyanyi, anggota komisi liturgi dan musik gereja serta para majelis dan pendeta.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hymnologi? Secara luas, hymnologi dapat dijabarkan sebagai ilmu yang mempelajari nyanyian jemaat. Nyanyian jemaat sendiri dapat dipelajari melalui beberapa cara, antara lain nyanyian jemaat sebagai puisi, sebagai sebagai musik, sebagai teologi, sebagai alat untuk beribadah, sebagai alat untuk memberitakan Injil, sebagai pendidikan religius, pelayanan dan persekutuan.[1]
Nyanyian Jemaat sebagai puisi
Nyanyian jemaat atas syair dan melodi (tune). Syair yang dipakai disebut puisi liris. Di dalam sejarah, puisi liris adalah puisi yang dipakai dengan iringan alat musik tradisional Yunani, yaitu lira. Dengan demikian puisi liris adalah puisi yang memang diciptakan untuk dinyanyikan. [2] Plato mengatakan bahwa lagu (melos) terdiri dari pembicaraan, ritme dan harmoni.

Nyanyian jemaat biasanya terdiri dari beberapa baris yang dikelompokkan menjadi satu bait. Tiap bait dinyanyikan dengan melodi yang sama. Ada lagu yang memiliki refrein, ada juga yang tanpa refrein. Refrein adalah syair yang diulang di akhir tiap bait, biasanya berisi kesimpulan dari lagu tersebut. Ada refrein khusus yang disebut burden dalam bahasa Inggris, yaitu: refrein yang muncul di awal lagu dan di akhir lagu, ditutup dengan refrein tersebut (KJ 1).[3]

Tiap syair memiliki sajak tersendiri, biasanya ada berbagai macam bentuk saja. Misalnya AABB, ABBA, ABAB, ABCB. Tapi ada juga yang sajaknya tidak beraturan. AABB sangat sering dipakai (KJ 3:1, KJ 280). ABBA agak jarang dipakai (KJ 304:1,3,4; KJ 305). ABAB dan ABCB biasanya dipakai untuk syair yang tidak terlalu panjang (KJ 214, 206). Di samping itu kita juga mengenal sajak palsu, misalnya murid – bangkit, sedih – pergi (KJ 208:3,4). Jika ada hubungan di dalam satu baris, maka itu disebut sajak internal (KJ 6:1,3,4).

Di dalam dunia literatur, kita mengenal metrum puitis. Tiap kata terdiri dari beberapa suku kata. Tiap suku kata bisa memiliki aksen atau tidak, tergantung kata tersebut. Ada beberapa macam aksen kata, beberapa di antaranya adalah: 1. iambic (u -, tak beraksen-aksen, KJ 234, 235), 2. trochaic (- u, aksen-tak beraksen, KJ 50, 288), 3. dactylus (-uu, aksen-ringan-ringan, NKB 3 Terpujilah Allah).[4]

Di dalam buku-buku hymne berbahasa Inggris seringkali kita melihat sederetan angka-angka seperti misalnya 8.6.8.6 disebut juga C.M. (common meter, KJ 40, 285). 8.8.8.8 (NKB tallis’canon, KJ 248) atau dikenal dengan L.M. (long meter), 6.6.8.6. atau S.M. (short meter). Bilangan tersebut menunjukkan banyaknya suku kata di dalam satu baris, ini disebut metrum hymnis.
Nyanyian Jemaat sebagai Musik
Puisi liris belumlah lengkap jika tidak dinyanyikan. Sama seperti Agustinus, bapa gereja dari abad ke-6 yang berkata bahwa hymne adalah nyanyian yang berisi pujian kepada Tuhan. Jika ada pujian tetapi bukan untuk Tuhan, maka itu bukanlah sebuah hymne. Jika ada pujian dan pujian itu ditujukan pada Tuhan tetapi tidak dinyanyikan, maka itu bukanlah sebuah hymne. Oleh sebab itu supaya dapat disebut sebagai hymne, maka haruslah ada ketiga unsur tersebut yaitu pujian, pujian pada Tuhan dan itu dinyanyikan.[5]

Musik memiliki bahasa tersendiri, sama seperti literatur atau puisi. Kita juga mengenal aksen dalam musik, kalimat dalam musik, karakter lagu dan sebagainya. Lagu yang baik adalah melodi yang kuat dan dapat dengan mudah dinyanyikan oleh seluruh umat. Nyanyian jemaat adalah nyanyian komunitas, yaitu nyanyian yang mudah dinyanyikan jemaat (tapi tidak gampangan dan murahan!), dengan jangkauan nada dan ritme yang tidak terlalu rumit.

Melodi nyanyian jemaat biasanya dikenali dengan nama lagu. Di belakang Kidung Jemaat edisi Harmoni dalam not balok, terdapat indeks nama lagu. Nama lagu tersebut bisa berasal dari nama sang pencipta, penulis dari syair lagu tersebut, nama tempat dan sebagainya.

Beberapa lagu dapat dinyanyikan dengan berbagai melodi. Misalnya KJ 126 dan 449, ALLE JAHRE WIEDER. Lagu itu disebut Lagu Umum (common tune). Sedangkan lagu yang biasanya hanya dihubungkan dengan satu syair disebut Lagu Khusus (proper tune), misalnya ANTIOCH, hanya dinyanyikan dengan syair lagu “Hai Dunia, Gembiralah.” Jika kita menukar melodi satu syair dengan lagu lain, hati-hatilah karena baik metrum puitis dan ritmis haruslah diperhitungkan dan juga kecocokan lagu/melodi dengan isi atau pesan dari syair tersebut.
Nyanyian Jemaat sebagai Teologi
Nyanyian jemaat adalah medium untuk membentuk kepercayaan Kristiani di samping pewartaan firman. Dalam sejarah gereja, nyanyian jemaat memegang peranan penting dalam perkembangan ajaran gereja. Nyanyian jemaat banyak dipakai untuk merefleksikan doktrin dan konsep teologis yang ingin disebarluaskan kepada umat. Misalnya sejak abad ke-4 nyanyian jemaat digunakan untuk menyebarkan dokrin mengenai kristologi, di abad ke-18 mengenai keselematan dan di abad ke-19 sehubungan dengan keberadaan gereja.[6]

Gereja memiliki lima fungsi yaitu sebagai tempat beribadah, tempat mengabarkan kabar baik atau evangelisasi, tempat untuk pendidikan, pelayanan dan persekutuan. Musik gereja harus dapat memainkan peranan ini. Melalui musik gereja, Tuhan berbicara pada umat-Nya dan kita dapat berbicara kepada Tuhan dan kita dapat berbicara pada sesama kita. Musik gereja juga dapat dipakai untuk mengabarkan kabar baik bagi mereka yang belum percaya. Luther menggunakan musik gereja untuk mendidik anak-anak dan hingga kini, nyanyian jemaat sebagai salah satu bentuk musik gereja, adalah salah satu cara efektif untuk memperjelas hal-hal yang berhubungan dengan iman Kristiani dan pengajaran. Nyanyian jemaat juga mengingatkan kita sebagai umat untuk melayani di dunia yang menderita, kelaparan dan penuh kekacauan. Selain itu juga memberikan kekuatan pada kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai satu persekutuan kita diingatkan melalui nyanyian jemaat, misalnya melalui KJ 264 sebagai persekutuan orang percaya.

Pembahasan kita saat ini terbatas pada perkembangan nyanyian jemaat khususnya nyanyian jemaat protestan, dari masa gereja purba hingga kini, dilihat dari sisi puisi, musik dan teologis. Tidak semua contoh lagu akan membahas ketiga hal ini tetapi paling tidak, sebagian besar akan membahas ketiga hal ini di dalam tiap contoh lagu.

Klasifikasi nyanyian jemaat

Ada banyak cara membuat klasifikasi nyanyian jemaat. Misalnya klasifikasi berdasarkan waktu penciptaan, tempat atau asal nyanyian tersebut serta berdasarkan subyek dari nyanyian. Mengingat luas dan banyaknya jenis nyanyian jemaat yang ada saat ini, penulis hanya sekedar menerangkan pembagian berdasarkan periode perkembangan secara ringkas. Di pembelajaran mendatang, periode-periode tersebut dapat dibahas lebih lanjut.

Nyanyian jemaat yang ada di Kidung Jemaat, Pelengkap Kidung Jemaat dan Nyanyikanlah Nyanyian Baru terdiri dari berbagai macam periode. Tiap periode memiliki ciri khas masing-masing baik dilihat dari segi musikal, syair, makna teologisnya serta juga cara membawakan dan mengiringi nyanyian tersebut. Tidak semua nyanyian perlu diiringi atau dapat diiringi dengan alat musik organ, piano atau gitar. Tidak semua nyanyian dapat diiringi dengan band. Ada cukup banyak nyanyian jemaat yang jauh lebih indah jika dinyanyikan oleh paduan suara saja atau hanya dengan iringan perkusi yang sederhana. Itu sebabnya pengetahuan mengenai latar belakang satu nyanyian jemaat amat penting supaya sebagai pemimpin, kita dapat mengajarkan kepada anggota paduan suara dan jemaat bagaimana cara menyanyikan nyanyian tersebut dengan baik dan benar hingga maksud dan pesan yang ingin disampaikan oleh lagu tersebut dapat tercapai.

Abad Pertengahan

Paling tidak ada tiga tokoh penting di dalam perkembangan musik gereja dari masa ini, yaitu Hilarius dari Poitiers, Ambrosius dari Milan dan Greogrius I. Di samping itu ada dua bentuk nyanyian yang sangat penting yaitu hymne Ambrosianus dan nyanyian Gregorian.

Hilarius adalah seorang bishop di Poitiers di abad ke-4 yang menyelenggarakan ibadah musik, menulis chant dan menggunakan paduan suara dalam ibadah. Ambrosius mengikuti jejak dari Hilarius dan akhirnya mengumpulkan dan mengatur banyak hymne. Ambrosiuslah yang membuat hymne yang metrikal serta bersajak. Kumpulan hymne tersebut kita kenal dengan nama hymne ambrosianus. Ciri khasnya adalah bentuk lagu yang sederhana dan silabis, memiliki metrum puitis iambic atau trochaic, dinyanyikan secara responsoris (berbalasan antara soloist dan umat), syair mengenai karya ciptaan Tuhan.

Gregorius Agung pada abad ke-6 mengadakan standardisasi dari nyanyian yang beredar saat itu dan nyanyian tersebut kita kenal dengan nyanyian Gregorian. Hingga saat ini, nyanyian tersebut masih dipakai di gereja Katolik. Jika hymne ambrosianus memiliki bentuk sederhana dan mudah dinyanyikan orang banyak, nyanyian Gregorian lebih mengalir dan agak lebih rumit melodinya.

 KJ 171 Pataka Raja Majulah

Venantius Fortunatus (535-609) adalah seorang penyair yang amat terkenal dengan syairnya mengenai salib Kristus. Hymne-hymne tersebut dibuat dalam rangka prosesi relikwi dari salib Yesus di Poitiers. Dalam lagu ini salib Kristus tersebut dianalogikan dengan pohon yang elok dan
megah. Dan salib tersebut adalah tanda dari berkat Tuhan. [7] Lagu ini amatlah populer di Abad Pertengahan dan banyak dinyanyikan juga dalam Jalan Salib dan dinyanyikan oleh para milisi Kristen.

Di masa Abad Pertengahan nyanyian Gregorian semakin berkembang dan akhirnya menjadi semakin susah sehingga hanya orang yang terlatih saja yang dapat menyanyikkan nyanyian tersebut. Paduan suara akhirnya mengambil alih nyanyian jemaat dan jemaat hanya menyanyi di hari-hari perayaan tertentu daj hanya terbatas pada refrein saja atau sekedar jawaban seperti misalnya “Kyrie eleison” atau “Amin.”

Di masa inilah muncul berbagai macam hymne seperti misalnya KJ 229.

 KJ 229a O Roh Pencipta, Datanglah

Syair hymne Latin ini berasal dari abad ke-9 tapi hingga kini tidak jelas siapakah yang menulis syairnya. Dari Kaisar Charles si Gemuk, (cucu dari chalemagne), Greogorius agung, Ambrosius dan Rhabanus Maurus (archbischop Mainz). Digunakan sebagai hymne doa harian untuk jam ketiga (Tierce) atau Vespers (di sore hari) pada minggu Pentakosta dan juga pada ibadah pentahbisan Pastor dan peresmian para raja.
Luther membuat penyederhanaan dari melodi Gregorian yang asli menjadi lebih metris.

 KJ 161 Segala Kemuliaan

Syair lagu ini ditulis oleh J.M. Neale pada tahun 1854 berdasarkan syair Theodulph dari Orleans + 820, Gloria, laus et honor. Syair lagu ini ditulis berdasarkan Mzm 24:7-10, Mzm 118:26, Mat 21:1-16 dan Luk 19:37-38. Lagu ini digunakan dalam prosesi pada Minggu Palma.[8]

Melodi lagu ini ditulis oleh Melchior Teschner, lahir di Fraustadt tahun 1584. Teshcner adalah murid Gesius (salah seorang komponis masa reformasi yang amat terkenal). Ia seorang cantor di Schmiegel dan Frauenstadt dan menjadi pastor di Oberprischen hingga akhir hayatnya pada tahun 1635.[9]

Gregorian di Abad Pertengahan menjadi semakin “berbunga-bunga” melodinya dan semakin melismatis, terutama akhiran-a dari kata Alleluia. Akhirnya muncullah kebiasaan di mana “a” tersebut dengan banyak not, melodinya diisi dengan syair baru yang silabis, metode ini dikenal dengan nama sequens (jangan bingung dengan istilah sequens dalam musik). Penulis sequens yang terkenal adalah Notker Balbulus (+ 900) dan Adam dari St. Victor (+ 1150).[10]

KJ 228 Datanglah, Ya Roh Kudus
Ini adalah contoh sequens tetapi tidak lengkap karena lagu aslinya terdiri dari 6 baris lagi. .

Di akhir Abad Pertengahan (mulai sekitar tahun 1200-an), berkembanglah nyanyian rakyat rohani (sacred folksong). Salah satunya adalah nyanyian leis. Nyanyian leis berkembang dari lagu dengan tekst kyrieleison (Tuhan kasihanilah). Biasanya kata kyrieleison dinyanyikan secara melismatis (satu suku kata terdiri dari banyak nada) dan ada di awal atau akhir lagu. Nada-nada tersebut mendapat syair baru. Contoh misalnya KJ 123, S’lamat, s’lamat datang.

Beberapa contoh lain dari masa ini adalah KJ 81 O, Datanglah Imanuel dan KJ 60 Hai Makhluk Alam Semesta.

Masa Reformasi
Jika di masa Abad Pertengahan, peranan jemaat dalam ibadah amat sangat minim, juga di dalam musik, peranan tersebut semakin diambil alih oleh para rohaniwan yang memang terlatih dalam bidang itu, maka di masa Reformasi, nyanyian jemaat berkembang kembali. Jemaat berhak memiliki suara di dalam ibadah, termasuk menaikkan pujian mereka langsung kepada Tuhan. Dalam nyanyian jemaat menjawab dalam pujian dan ungkapan syukur, dalam pengakuan dan permohonan. Dengan demikian jemaat menyanyikan pengasihan Tuhan.

Ciri khas lagu pada masa Reformasi adalah lagu ini hanya tertuju kepada Tuhan saja dan perbuatan tangan-Nya dalam putera-Nya, Yesus Kristus. Melodi tunduk melayani syair, ada hubungan erat antara melodi dan syair.[11] Ini adalah salah satu kesulitan dalam menerjemahkan suatu lagu, apakah hubungan syair dan melodi dapat tetap dipertahankan?

Melodi dari nyanyian jemaat pada masa ini sebenarnya terdiri atas beberapa material melodis yang dipadukan, sama halnya seperti mozaik. Motif-motif dalam melodi itu bisa bersumber dari nyanyian gereja masa Abad Pertengahan (baik Gregorian maupun hymne) dan juga lagu rakyat Abad Pertengahan baik sakral maupun sekuler. Seringkali melodi dari sebuah syair sekuler mendapatkan syair rohani, teknik ini dikenal sebagai kontrafak.[12]

Biasanya nyanyian jemaat pada masa ini adalah bar form (AAB). Ritme yang ada adalah isometrik (ritme yang teratur, yaitu not pendek dan not panjang) dan koral ritmis (ritme yang tidak teratur dan kadang-kadang penuh dengan sinkop). Contoh adalah KJ 250a dan b, KJ 287b dan a.

Nyanyian jemaat dalam bahasa Jerman pada periode ini terdiri dari tiga jenis lagu yaitu terjemahan dari hymne berbahasa Latin, nyanyian leis (berasal dari “Kyrieleis” yang mendapatkan tekst dalam bahasa setempat (contoh KJ 123) dan nyanyian cantion (lagu non-liturgis yang berhubungan dengan drama liturgi untuk Natal dan Paskah, aslinya berbahasa Latin tetapi diterjemahkan dalam bahasa Jerman. Dalam bahasa Jerman dinyanyikan secara antifonal (bergantian antara dua kelompok) dalam bahasa setempat dan bahasa Latin.[13]

Dalam masa ini, kita melihat dua perkembangan penting yaitu nyanyian jemaat Lutheran dan Mazmur Jenewa. Luther menulis Misa Jerman atau Deutsche Messe (1526) yang berisi misa berbahasa Jerman dengan nyanyian jemaat dalam bahasa setempat. Baik Luther dan Calvin menggunakan paduan suara untuk mengajarkan lagu baru kepada jemaat dan sekaligus untuk mengiringi nyanyian jemaat, di bawah pimpinan seorang prokantor.[14]

Luther menulis cukup banyak lagu dan dia juga bekerja sama baik dengan para komponis, sastrawan dan rohaniwan.

KJ 250 Allahku Benteng Yang Teguh

Kemungkinan lagu ini diciptakan oleh Luther antara 1526-1528, pada masa penuh pergumulan dan kesedihan dalam hidupnya, di mana banyak sahabatnya meninggal dunia karena terkena wabah pest. Berdasarkan penelitian, ada banyak kata dan ungkapan yang sama dengan beberapa surat Luther yang dari periode tersebut. Ia merasa bahwa hidupnya terancam oleh iblis. Nyanyian ini bukanlah Mzm 46. Lagu ini menerangkan tentang Kristus dan penjelasan tersebut ditulis berdasarkan Mzm 46.[15]

Melodi dari lagu ini ditulis sendiri oleh Luther. Awal lagu benar-benar memproklamirkan sesuatu dan di akhir kalimat pertama, kalimat menurun satu oktaf. Lagu ini lebih cocok dinyanyikan di Minggu Invocabit (enam minggu sebelum Paska) karena sesuai dengan pembacaan Alkitabnya daripada dinyanyikan pada hari Reformasi tanggal 31 Oktober.[16]

KJ 45 Muliakan Allah yang Esa

Nyanyian ini merupakan gubahan dari Gloria Besar dalam bahasa Jerman yang ditulis oleh Nicolaus Decius, seorang komponis di masa Reformasi. Gloria Besar adalah pujian kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dengan demikian jelaslah bahwa lagu ini tidak dapat dipenggal-penggal sebetulnya karena isinya tidak sesuai dengan isi dari Gloria yang sesungguhnya.
Mula-mula Gloria in exelcis Deo hanya dinyanyikan di malam Natal saja. Lama-kelamaan juga dipakai di misa Paskah sebelum akhirnya menjadi bagian tetap (ordinarium) di dalam ibadah Minggu. Hanya ayat satu saja yang berhubungan dengan Lukas 2. Ketiga ayat lainnya membentuk pujian trinitatis yang sama seperti struktur Gloria di dalam misa.

KJ 168 Hai Dunia, Lihat Tuhan

Heinrich Isaac (1450) lahir di Belanda bagian selatan dan belajar di Florence (Italia). Akhirnya ia bekerja di Italia untuk keluarga Ferrara dan Medici serta menikah dengan orang Florence. Setelah itu ia bekerja di Innsbrücks, Austria. Ia menulis Choralis Constantinus, yaitu karya paduan suara yang memuat seluruh proprium missae dari seluruh tahun liturgis. Namun Isaac meninggal dan pekerjaan tersebut diteruskan oleh Seinfl. Tahun 1514 ia kembali ke Florence dan hidup di sana hingga akhir hayatnya di tahun 1517. Ia sangat terkenal dengan aransemen lagu Innsbruck, ich musz dich lassen.

Mazmur Jenewa adalah mazmur yang diparafrasekan hingga menjadi bentuk strofis. Calvin hanya mengijinkan mazmur dinyanyikan dalam ibadah di gereja, ditambah dengan Nyanyian Pujian Simeon, 10 Hukum Tuhan, Doa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli.
Syair Mazmur Jenewa ditulis oleh Calvin sendiri, Clémens Marot dan Théodore Bèze. Melodi dari Mazmur ditulis oleh Louis Bourgeouis (ca. 1510-?), Guillaume Franc (?-?) dan Maitre Pierre (kemungkinan adan Pierre Davantes).
Contoh jenis mazmur ini antara lain KJ 128 Sekarang, Tuhanku, Mazmur 80, 122, 42.
Di masa akhir abad ke-16, perkembangan nyanyian jemaat tidak sebesar di awal reformasi. Tidak terlalu banyak lagu baru yang dibuat. Pusat dari syair bukan hanya Allah dan pekerjaan-Nya dalam Yesus Kristus melainkan juga mengenai manusia dan kepercayaannya. Ada dua lagu yang cukup penting yang amat indah hubungan syair dan melodinya, yaitu KJ 139, 276.

KJ 139 T’rang Bintang Fajar Berseri

Lagu ini diciptakan oleh Philipp Nicolai seorang pendeta yamg amat bersemangat. Namun setelah wabah pest, kehidupannya berubah, ia begitu banyak menolong dan menguburkan korban. Hanya ada doa yang tak putus-putusnya pada Tuhan pada saat di tengah-tengah bebauan yang busuk, karena kasih setia Tuhan, ia tidak merasa takut. Karena seringnya ia menguburkan mayat, hingga akhirnya ia tidak dapat berpikir selain: aku hidup di dalam Kristus, mati di dalam Kristus, apakah aku mati atau hidup, aku adalah milik Kristus, yang telah mengasihani aku. Setelah wabah pest berlalu, ia menulis surat, “Pest telah usai. Atas kasihani Tuhan aku tetap sehat.”

Ini adalah lagu pernikahan rohani antara orang yang percaya dan Kristus, berdasarkan Mzm 45. Tentu saja kita juga harus mengingat kitab Wahyu di mana Yesus disebut sebagai Bintang Fajar yang bersinar. Ayat pertama dari ketujuh bait membentuk huruf awal dari nama Wilhelm Ernst Graf und Herr zu waldieck. Syair lagu ini berbentuk cawan dan itu mengingatkan kita akan janji keselamatan yang diberikan pada kita. Bahwa kita telah dipilih untuk menjadi pengantin-Nya hingga dapat masuk ke rumah yang kekal.

KJ 276 Bangunlah! Dengar Suara

Koral ini menjadi terkenal karena cantata Bach dengan judul yang sama. Ada begitu banyak komponis yang menulis komposisi berdasarkan lagu ini. Di sini kita diingatkan dengan kedua penjaga di dalam Yes 21:11-12, kesepuluh gadis yang pintar dan bodoh di Matius 25, cerita mengenai akhir jaman di Mat 24:27-31 dan penglihatan dari Wahyu 21 mengenai langit dan bumi baru. Kita diajak untuk berjaga-jaga supaya tidak ketinggalan ketika tiba saatnya untuk datang ke rumah Tuhan.

Masa abad ke-17 dan ke-18
Ada banyak nyanyian jemaat yang diciptakan tapi bukan untuk dipakai dalam gereja namun untuk dipakai dalam ibadah rumah tangga. Beberapa nama yang harus kita kenal adalah Paul Gerhardt (1607-1676) dan Gerhardt Tersteegen (1697-1769). Mereka amat menekankan kehidupan rohani pribadi.

Jika pada masa Reformasi pusat dari lagu adalah Allah beserta ciptaan-Nya serta manusia dan kepercayaannya, maka di masa sesudah Reformasi, pusat lagu menjadi semakin menuju ke devosi pribadi, pujian kepada Tuhan dari diri manusia sebagai individu (bukan manusia sebagai umat seperti di masa Reformasi).[17]

Sesudah Reformasi, muncullah aliran Pietisme di Jerman yang muncul di paruh kedua dari abad ke-17. Penekanan dari ajaran ini adalah pertobatan dan penyucian diri manusia agar manusia dapat hidup dalam jalan yang benar untuk hidup dalam Tuhan. Pada masa ini banyak didirikan organisasi rohani di mana orang percaya datang bersama untuk saling berbagi cerita serta saling menguatkan dan belajar mengenai Firman Tuhan, saling bersaksi serta melakukan berbagai aksi sosial dalam rangka menyalurkan berkat Allah.[18]

Lagu pietis selalu dalam bentuk “aku.” Walaupun demikian, di dalam “aku” tersebut, dapat mengacu pada jemaat dan lagu tersebut memiliki ciri penyembahan pada Allah. Seringkali lagu tersebut lebih menekankan kepada manusia (dan kepercayaannya) daripada perbuatan Allah. Dengan demikian, agak rancu di manakah batas antara lagu gereja dan lagu rohani.

Di samping pietisme, di abad ke-18 kita mengenal Aufklärung atau Masa Pencerahan. Di masa itu “perkataan” atau pidato menjadi penting, dengan kata lain rasio menjadi penting, segala sesuatu harus dapat dijelaskan dengan akal pikiran. Kata “Tuhan” seringkali akhirnya diganti dengan “Sang Maha Kuasa.”

Melodi yang muncul biasanya disusun 4 suara dengan melodi atau cantus firmus di sopran (bukan di tenor seperti pada masa Reformasi). Semakin lama hubungan antara melodi dan syair semakin renggang, tidak seperti sebelumnya. Karena seringkali syair-syair lagu dinyanyikan dengan berbagai macam melodi.

KJ 290 Takkah Patut ‘ku Bernyanyi
KJ 295 Andai ‘ku Punya Banyak Lidah
KJ 309 Biar ‘ku Tumbuh Di Batang-Mu

Musik abad ke-19 dan ke-20.
Di masa ini, ada generasi baru yang naik statusnya. Pada masa ini amat banyak lagu yang diciptakan dan lagu-lagu tersebut dapat saling ditukar melodinya. Di Indonesia sendiri terbitlah Mazmur dan Nyanyian Rohani di tahun 50-an.

Musik Gereja Anglikan
Dorongan Reformasi juga sampai ke Inggris. Raja Henry VIII akhirnya memisahkan diri dari Roma. Dengan adanya pengungsi Calvinis dari Eropa daratan, Inggris mulai mengenai reformasi. Gereja di Inggris terbagi dalam gereja tinggi (Gereja Anglican) dan gereja rendah (gereja Puritan, Presbyterian dan Congregationalist).

Kehidupan rohani di abad ke-18 sebagian besar diatur oleh kaum Methodist, di mana John Wesley adalah salah satu tokohnya. Charles mendukung kakaknya dalam kampanye dini. Di abad ke-19, Newman dan Keble setuju dengan peningkatan mutu liturgi Gereja Anglikan. Mazmur juga dibuat secara strofis di Inggris.[19]

Ada banyak nyanyian jemaat yang berasal dari Inggris yang populer di negara kita. Ada banyak lagu untuk ofisi (ibadah harian untuk pagi, siang atau malam hari).

Melodi lagu Inggris sebagian berasal dari kumpulan mazmur di abad ke-16 dan ke-17, dari lagu rakyat atau komposisi baru. Lagu Inggris memiliki karakter tersendiri. Lagunya enak didengar. Biasanya memiliki lompatan yang cukup luas (biasanya interval sext) dan berkesan lebar.

KJ 252 Batu Penjuru G’reja
KJ 288 Mari Puji Raja Sorga
KJ 328 Ya Tuhan, Hari T’lah Berakhir

Sayang sekali doa malam ini jarang dinyanyikan dalam ibadah kita. Padahal syair dan lagunya amatlah indah. John Ellerton adalah seorang rohaniwan Anglikan yang menulis Notes and Illustration, yaitu kumpulan anotasi mengenai lagu-lagu yang ada dalam Church Hymns. Ellerton beranggapan bahwa hymnologi juga penting bagi anggota jemaat yang menyanyikan lagu-lagu tersebut, bukan hanya untuk para ahli sastra atau teolog saja. Ia menulis cukup banyak lagu anak-anak dan juga berjasa untuk mempopulerkan pengetahuan mengenai hymnologi bagi kaum awam.
Dalam terjemahan bahasa Indonesia, doa malam ini berisi pujian. Di ayat kedua terdapat permintaan tolong supaya kita tetap berjaga dan beribadah. Dalam teks asli, tertera permintaan kita pada Tuhan supaya Tuhan menjaga kita di dalam malam
yang kelam, supaya kita tetap terjaga dan tidak lengah dengan gangguan musuh. Keindahan dan kekuatan dari terjemahan bahasa Indonesia adalah pujian dan penyembahan umat Tuhan yang dilakukan terus-menerus karena dunia ini sebenarnya tidak pernah tertidur.
St. Clement diciptakan oleh Clement Cotterill Scholefield yang lahir tahun 1839 di Edgbaston dekat Birmingham dan meninggal dunia di London tahun 1904. Melodi lagu ini sangat manis dan memiliki beberapa ciri khas lagu Inggris pada
masa itu. Misalnya lompatan sext di
awal lagu (g — ), 3 ketuk yang mengalir serta harmoni yang banyak menggunakan parallel terts dan sext.
Nyanyian Jemaat di Amerika
Di abad ke-19, terdapat beragam jemaat di Amerika: Baptis, Congregationalist, Episkopal, Methodist, Presbyterian, Unitarian dan sebagainya. Hampir semuanya menyumbangkan sejumlah lagu dalam khazanah nyanyian jemaat.

Sekolah Minggu dan Young Man’s Christian Association makin berkembang. Makin lama makin sering diadakan kebaktian kebangunan rohani dengan tokoh-tokoh seperti Dwight L. Moody dan Ira D. Sankey. Periode ini sering juga disebut sebagai masa Revival.Di sinilah muncul lagu-lagu gospels¸ yaitu lagu yang dipakai untuk memberitakan kabar baik. Philip P. Bliss juga menerbitkan buku kecil berisi nyanyian jemaat. Robert Lowry dan Fanny Crosby adalah dua tokoh yang andal yang juga suka bekerjasama satu dengan lainnya. Dari masa banyak sekali lagu yang kita kenal.

KJ 454 Indahnya Saat Yang Teduh
KJ 407 Tuhan Kau Gembala Kami
KJ 498 Di Jalanku ‘Ku Diiring
NKB 195 Kendati Hidupku Tent’ram
NKB 3 Terpujilah Allah

Di abad ke-20 lagu-lagu gospel semakin berkembang. Di samping itu juga khazanah nyanyian jemaat bertambah dengan adanya masukan dari tradisi Afro-Amerika. Misalnya lagu Let us break bread together, Were you there when they crucified my Lord, There is a balm in Gilead. Contoh yang lebih baru misalnya lagu How can I say thanks (My Tribute).

Nyanyian Jemaat di Indonesia
Ada berbagai macam nyanyian jemaat yang beredar saat ini, baik nyanyian jemaat konvensional (hymns), kontemporer konvensional dan populer serta nyanyian jemaat kontekstual.

Sebelum ada Kidung Jemaat, kita mengenal Mazmur dan Nyanyian Rohani. Pada tahun 1984 diterbitkan Kidung Jemaat. Hingga saat ini, Kidung Jemaat adalah buku nyanyian jemaat yang universal di Indonesia. Di samping itu, tiap sinode memiliki buku nyanyiannya masing-masing juga berupa tambahan, misalnya Nyanyikanlah Nyanyian Baru dari GKI, Gita Bhakti dari GPIB atau Kidung Kabungahan dari GKP, Buku Ende dari HKPB dan sebagainya. Di tahun 1999 terbit Pelengkap Kidung Jemaat sebagai tambahan dari Kidung Jemaat.

Di dalam Kidung Jemaat ada berbagai macam lagu dari beberapa periode dan beberapa lagu bernuansa etnik baik Indonesia maupun etnik lain (nyanyian jemaat multicultural yang lebih sering kita kenal dengan sebutan musik gereja kontekstual atau nyanyian jemaat kontekstual).

Seringkali kita meremehkan musik gereja kontekstual, apalagi jika musiknya berasal dari Indonesia. Apakah kita menganggap budaya kita itu kuno dan ketinggalan jaman? Jelek atau kampungan? Apakah musik gereja itu harus selalu musik klasik dari Eropa atau Amerika?

Bangsa yang tidak menghargai kebudayaannya sendiri, tidak akan pernah dapat maju. Mungkin kita asing dengan musik tradisional kita sendiri. Hal tersebut tidaklah membingungkan mengingat kita hidup di dunia yang sarat dengan kultur populer (pop culture).Ke mana pun dan di mana pun kitar berada, segala sesuatu adalah kultur populer. Jika kita tidak mengambil bagian maka kita dianggap aneh atau ketinggalan jaman.

Mungkin kita harus merenungkan kembali, apa benar musik gereja kontekstual itu tidak sederajat dengan musik gereja dari barat? Apakah kita tidak dapat mengekspresikan iman percaya kita dengan kebudayaan kita sendiri?

Musik gereja kontekstual merupakan bagian dari keesaan gereja. Ada begitu banyak bangsa dan bahasa di dunia ini. Semua lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan beribu lidah patut memuji nama-Nya, dengan keunikan masing-masing. Jika semua musik gereja yang dipergunakan hanyalah musik barat, hambarlah dunia ini. Tidak ada ciri khas masing-masing bangsa. Padahal kita tahu bahwa Tuhan menciptakan berbagai bangsa dengan kelebihan dan kekurangannya. Mengapa kita tidak menggunakan apa yang ada di sekeliling kita untuk memuji nama-Nya?

Dengan demikian, dalam keanekaragaman kita dapat datang menghadap hadirat Allah Bapa di sorga.

Di samping hymne tradisional, saat ini kita mengenal nyanyian jemaat kontekstual dan juga nyanyian dari tradisi Taizé dan Iona.

Taizé adalah sebuah komunitas eukomenis di Perancis sedangkan Komunitas Iona berada di Skotlandia. Keduanya menekankan rekonsiliasi dan perdamaian dunia serta memberikan perhatian kepada mereka yang tidak punya dan mereka yang tertindas.

Komunitas Taizé menyelenggarakan ibadah yang selalu dihadiri oleh ratusan umat dari seluruh dunia, termasuk generasi muda. Lagu-lagu yang dinyanyikan biasanya berupa lagu-lagu ostinato (yang selalu diulang-ulang) dan ada solois yang menyanyikan ayat. Lagu-lagu tersebut amat mudah dipelajari dan banyak dari lagu-lagu tersebut dinyanyikan dengan empat suara. Di dalam PKJ terdapat sekumpulan lagu Taizé. Lagu-lagu ini dapat diiringi dengan berbagai macam alat musik atau cukup dengan paduan suara saja.

Lagu-lagu dari komunitas Iona biasanya berasal dari negara-negara Afrika dan Amerika Latin. Beberapa lagu telah cukup dikenal di beberapa jemaat, misalnya Siyahamba, Freedom is Coming dan Halle, Halle, Halle. Di PKJ misalnya lagu nomor 20, Mari Semua, Mari Sembah Tuhan, PKJ 86, Yesus telah Bangkit dan NKB 220, Utus Daku, Tuhan Yesus.

Dari tanah air kita sendiri terdapat banyak lagu baik di KJ, PKJ, NKB dan Gita Bhakti. Tidak semua lagu tersebut cocok dibawakan dengan iringan organ dan piano. Seringkali mereka lebih cocok dibawakan secara a cappella (tanpa iringan), cukup dengan perkusi misalnya.

Lagu-lagu kontekstual harus dibawakan sesuai dengan konteks masing-masing. Lagu yang berasal dari Afrika biasanya dibawakan dengan lebih hidup dan enerjik dibandingkan lagu-lagu Melayu yang biasanya lebih tenang.

Dengan banyak mendengar contoh lagu tradisional, lama-kelamaan kita akan terlatih untuk lebih menghargai musik tersebut dan kita bisa lebih baik dalam membawakan musik tersebut.

Tiap ciptaan Tuhan adalah unik dan itu semua harus dipergunakan untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.

Ingatlah kata pemazmur dalam Mazmur 117: “Pujilah Tuhan, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa!”
Laudate omnes gentes, Laudate Dominum.

Biarlah kita semua dapat bersama-sama bekerja hanya untuk kemuliaan nama-Nya.

Bibliografi:
1. Catholic Encyclopedia vol.xvi, 1914, edisi digital www. newadvent.org
2. Compendium van achtergrondinformatie bij de 491 gezangen uit het Liedboek voor de Kerken, Amsterdam, 1978
3. Reynolds, W.J., Price, M., A Survey of Christian Hymnody, Carol Stream, IL, 19994
4. Wilson-Dickson, A., The Story of Christian Music, Minneapolis, MN, 2003
5. Zevenbergen, G.E., Luth, J.R., Kleine Geschiedenis van het Kerklied, Amsterdam, 1982

________________________________________
[1] Reynolds, W.J., Prince, M., A Survey of Christian Hymnody, Carol Stream, IL, 19994, ix
[2] Ibid, ix
[3] Ibid, ix
[4] _, Compendium van achtergrondinformatie bij de 491 gezangen uit het Liedboek voor de Kerken, Amsterdam, 1978, 1365
[5] Wilson-Dickson, A., The Story of Christian Music, Minneapolis, MN, 2003
[6] Reynolds, W.J., Price, M., xiii

[7] Compendium, 467, 468
[8] -, The Catholic Encyclopedia vol. xvi, 1914, edisi digital www.newadvent.org/cathen/16041b.htm
[9] _Compendium, 79, 152-154, 1179
[10] Zevenbergen, G.E., Luth, J.R., Kleine Geschiedenis van het Kerklied, Amsterdam, 1982,15
[11] Zevenbergen, Luth, 18
[12] Ibid, 19
[13] Reynolds, Price, 17
[14] Zevenbergen, Luth, 19
[15]_, Compendium, 907
[16] Compendium, 911
[17] Zevenbergen. Luth, 24
[18] Ibid, 26
[19] Zevenbergen, Luth, 33

Merayakan Advent

1. Lingkaran Natal
2. Advent sebagai masa persiapan
3. Merayakan Advent bersama keluarga

Ada suara yang berseru-seru:
“persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN,
luruskanlah di padang belantara
jalan raya bagi Allah kita!
Setiap lembah harus ditutup,
dan setiap gunung dan bukit diratakan;
taneh yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata,
dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;
maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan
dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama;
sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.”
(Yesaya 40:3-5)

Manusia hidup di dalam dimensi waktu. Dari hari ke hari, di mana matahari terbit dan terbenam. Ada waktu yang terang (pagi/siang) dan ada waktu yang gelap (sore/malam). Semua bangsa pasti memiliki legenda maupun cerita mengenai waktu, termasuk bangsa Yahudi. Orang Yahudi memasukkan unsur waktu ini ke dalam cerita penciptaan (Kejadian 1:1-5). Ada yang menghitung hari dari terbenamnya matahari (misalnya orang Yahudi) maupun dari terbitnya matahari (tradisi Babilonia). Ada yang menghitung hari dari tengah hari ke tengah hari maupun dari tengah malam ke tengah malam. Itu adalah contoh perhitungan hari yang tradisional. Penghitungan hari selama 24 jam baru muncul di kemudian hari.[1]

Satuan waktu berikutnya adalah minggu. Tiap minggu terdiri 7 hari. Satuan waktu “bulan” dipakai dalam bidang agrikultur. Penghitungan bulan ada yang dari bulan baru ke bulan baru berikut. Tapi saat ini kita lagi tidak menggunakan penghitungan dengan bulan karena satuan waktu kita berdasarkan sistem matahari (solar system).

Musim merupakan satuan waktu yang lebih besar lagi. Musim biasanya identik dengan “bertanam.” Ada bermacam-macam musim, tergantung letak dari tempat tersebut di bumi. Ada yang mengenal 4, 3 atau 2 musim.
Demikian pula dengan kehidupan bergereja kita. Kita mengenal “tahun liturgis.” Tahun liturgis membagi dimensi waktu dalam satuan-satuan yang lebih kecil berdasarkan peristiwa tertentu yang berhubungan dengan jalan kehidupan Tuhan kita, Yesus Kristus. Ada 2 lingkaran utama yang kita kenal, yaitu Lingkaran Paska dan Lingkaran Natal. Baik hari raya Paska maupun Natal selalu didahului oleh masa persiapan. Di dalam masa ini, umat mempersiapkan diri untuk merayakan hari besar tersebut, dengan jalan berdoa serta beribadah dan berpuasa atau menahan diri. Puji-pujian di dalam ibadah juga disimpan dulu. Sama seperti bangsa Israel di negeri pembuangan, yang harus menggantungkan kecapi, di masa persiapan kita juga hidup dengan lebih prihatin dan memperhatikan sesama kita. Itu sebabnya di masa penantian baik masa Prapaska maupun Advent, Gloria (pujian kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) tidak dinyanyikan dalam ibadah. Nyanyian pujian tersebut harus terdengar bagaikan musik yang baru. Seluruh hidup umat terarah untuk persiapan perayaan pesta besar. Pada saatnya, barulah seluruh alat musik dibunyikan dan puji-pujian dilantunkan.

Saat ini kita berada di masa Advent, tepatnya Advent ketiga. Pada hari ini kita akan bersama-sama mencoba untuk memahami, apa sebenarnya yang dimaksud dengan masa Advent tersebut. Pertama-tama kita akan melihat mengenai tahun liturgis, khususnya mengenai Lingkaran Natal. Kemudian kita akan membahas mengenai keempat minggu Advent yang mempersiapkan kita untuk merayakan hari Natal.

Lingkaran Natal merupakan satu masa yang memperingati hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Masa Natal diawali dengan empat minggu Advent. Masa Advent berakhir pada Malam Natal, di mana kita merayakan Misa Kristus (Christ’s Mass – akhirnya menjadi Christmas) pada tanggal 24 Desember. Pada tanggal 25 Desember kita merayakan Natal. Pada tanggal 26 Desember, kita mengingat Stefanus dan para martir yang dibunuh. Pada tanggal 28 Desember dalam tradisi gereja kita mengingat para bayi yang dibunuh pada saat Raja Herodes mencari Yesus. Hari Minggu pertama setelah Natal kita memperingati Simeon dan Hana. Tanggal 1 Januari adalah Tahun Baru dan tradisi gereja pada tanggal 1 Januari kita memperingati Yesus yang disunat serta pemberian nama pada Yesus.

Pada tanggal 6 Januari, kita memperingati hari Epifani di mana munculnya bintang di timur dan tiga raja datang menyembah Yesus. Itu sebabnya hari ini juga dikenal sebagai hari Tiga Raja. Setelah itu kita memperingati masa Epifani. Dalam masa Epifani kita mendalami pekerjaan Kristus di dalam dunia dan juga mengingatkan kepada kita mengenai misi kita di dalam dunia. Tradisi Lutheran merayakan Yesus dimuliakan di atas gunung dalam minggu terahir di masa Epifani. Setelah minggu Epifani, kita masuk ke Lingakaran Paska, dimulai dengan Rabu Abu.

Minggu Advent merupakan masa persiapan mental dan spiritual bagi jemaat untuk merayakan hari Kelahiran Yesus Kristus, Sang Putera Allah. Kata Advent berasal dari bahasa Ibrani adventus yang berarti kedatangan.

Perayaan Advent ini tidaklah setua perayaan Natal itu sendiri. Natal telah dirayakan oleh gereja Roma pada tanggal 25 Desember sejak tahun 336. Sekitar tahun 385, dilaporkan tentang adanya “puasa” sebelum Natal. Sayang tidak diberitahukan berapa lama puasa menjelang Natal tersebut dilakukan. Baru pada abad kelima perayaan masa Advent ditemukan dalam dokumentasi tertulis di Galia dan Spanyol. Rupanya jemaat lokal merasa memerlukan masa persiapan ini.

Awal masa Advent adalah pada hari Minggu terdekat dengan perayaan hari St. Andrew, yang jatuh pada tanggal 30 November. Masa Advent berakhir di Malam Natal (24 Desember malam hari).[2]

Di dalam tradisi gereja kuno, masa persiapan itu juga dilakukan dengan berpuasa. Tradisi kuno merayakan masa Advent dimulai pada saat perayaan St. Martin tanggal 11 November. Itu sebabnya banyak lectionariae (lectionarium=daftar bacaan untuk ibadah Minggu) dari abad ketujuh maupun delapan, menyebutkan 6 minggu masa Advent (kadang-kadang 5).[3] Baru mulai abad keenam, ada petunjuk mengenai perayaan missa mingguan dengan tematik Advent dalam 4 minggu.[4]

Isi pembacaan Injil berdasarkan tradisi klasik adalah sebagai berikut:
Advent pertama
Lukas 21:25-33 : Yesus memberitakan bahwa hari-hari terakhir telah dekat, bahwa Anak Manusia akan datang dalam segala kemuliaan-Nya.

Advent kedua
Matius 11:2-10: Yohanes berada di penjara dan bertanya melalui muridnya pada Yesus apakah Dia yang akan datang itu atau mereka harus menunggu yang lain.

Advent ketiga (Gaudete)
Yohanes 1:19-28: Yohanes menyaksikan dirinya bahwa bukan dia melainkan yang datang setelah dia, itulah sang Mesias.
Minggu ini juga disebut sebagai Minggu Gaudete, yang berasal dari antifon pada minggu ini, diambil dari Filipi 4:4-6 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Advent keempat (Rorate)
Lukas 3:1-6: Yohanes Pembaptis datang berseru untuk bertobat dan memberi diri untuk dibaptis.
Minggu ini disebut sebagai Minggu Rorate, yang berasal dari antifon, diambil dari Yesaya 45:8 “Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya.”

Masa Advent adalah Tahun Baru di dalam Tahun Liturgis. Dalam masa Advent, kita bersama dengan Israel dan Yohanes Pembaptis menunggu kedatangan dari Kerajaan Allah di dalam Mesias yang telah dijanjikan. Setapak demi setapak kita mendengarkan sabda nabi dan menerima janji mereka.[5]

Setelah abad keenam, kombinasi antara ajaran Galia dan Roma yaitu penekanan akan kedatangan Yesus yang kedua kali sebagai Hakim Agung dan Allah yang menjadi manusia, mengajarkan kita untuk merayakan masa Advent sebagai waktu yang penuh kesucian dan kebahagiaan akan kedatangan Yesus. Tema utama adalah:
a. datangnya Yesus Kristus sebagai bayi kudus;
b. penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali
c. penantian akan kedatangan-Nya yang terus-menerus di dalam hati kita.[6]

Setiap ritual Advent menekankan mengenai doktrin Inkarnasi yang penjabarannya dilakukan dalam keempat minggu Advent. Kedatangan Kristus telah diwartakan di dalam Penciptaan, di dalam Alkitab, di dalam para nabi dan oleh Yohanes Pembaptis.[7]

Apa yang terjadi sebetulnya di dalam masa Advent? Selangkah demi selangkah, kita merenungkan persekutuan kita dengan Allah. Dimulai dari Raja Daud yang merupakan nenek moyang Kristus. Bersama dengan Mikha, kita datang mencari di Betlehem dan menemukan gua dengan para magi (orang Majus). Bersama dengan Yesaya, kita meningat Sang Perawan Maria yang melahirkan Sang Immanuel, yang berarti Tuhan beserta kita.[8]
Masa Advent sebenarnya telah dimulai pada saat Adam dan Hawa harus meninggalkan Taman Eden. Bangsa Israel hidup dengan Janji Allah bahwa Dia akan mengirimkan seorang Juruselamat (Mesias). Begitu lama bangsa Israel harus menunggu. Begitu banyak generasi, dari Abraham, Ishak, Yakub, Nuh, para nabi, Yesaya dan Yeremia, mereka dengan tak bosan-bosannya menyakinkan bangsa Israel bahwa Sang Mesias akan datang. Dan Tuhan selalu menepati janji-Nya.

Masa Advent adalah masa penantian. Pernahkah Bapak, Ibu, Saudara/I sekalian menunggu seorang sahabat yang telah lama tidak Anda jumpai? Anda tidak tahu pasti kapan sahabat Anda akan datang. Jika Anda mendengar suara mobil, Anda langsung melihat ke jendela tapi sayang sekali, mobil itu hanya lewat saja, tidak berhenti.

Dalam masa Advent, kita mengingat kembali bagaimana rasa penantian tersebut dan mempersiapkan diri untuk merefleksikan diri, mengingat-ingat kembali, merenungkan kembali akan kelahiran Juruselamat kita. Mengapa kita merayakannya, mengapa kita bersyukur atas kelahiran-Nya, bagaimana kita telah bebas oleh karena kematian-Nya. Kita juga bersyukur atas kehadiran-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Di samping itu kita juga mengingat kembali supaya kita tetap hidup sebagai anak-anak Allah untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali. Kita mengingat janji tersebut, bahwa Dia akan datang sebagai Hakim yang Agung. Persiapan hati dalam masa Advent ini haruslah terdiri dari ketiga elemen ini, yaitu masa lalu (kelahiran Yesus di Betlehem), masa kini (Yesus datang di hati kita tiap hari) dan masa mendatang (Yesus datang untuk yang kedua kali).

Advent adalah masa tenang. Ada baiknya di masa ini kita lebih banyak merenung dan bermeditasi di tengah dunia yang hiruk-pikuk ini. Gurun atau daerah liar di dalam Alkitab biasanya berarti tanah yang kering, berbatu dan tidak subur. Di dalam Markus 4:1-20, Yesus menceritakan tentang berbagai jenis tanah. Kita dapat menggunakan perumpamaan ini untuk menguatkan diri kita dalam persiapan menjelang Natal. Kita membersihkan jalan yang telah penuh dengan kotoran, rintangan, untuk menyambut kebesaran nama-Nya, yang akan datang ke dunia. Janganlah kiranya perayaan kita menjadi kosong atau membosankan. Marilah kita persiapkan kedatangan Yesus sama seperti kita akan menyambut kedatangan sahabat kita.



Ada banyak cara untuk merayakan masa Advent ini di dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal praktis yang bisa mengingatkan kita bahwa kita sedang dalam masa penantian adalah dengan meletakkan sesuatu di tempat yang bisa kita lihat sehingga mata kita dapat mengingatkan hati kita.

Ada tiga hal yang dapat membantu kita dalam menghayati masa Advent ini, yaitu: persembahan, puasa/menahan diri/berpantang dan doa. [9]

Persembahan
Untuk mengingat kasih karunia Tuhan atas “hadiah”-Nya kepada kita melalui pemberian Anak-Nya, kita dapat mempersiapkan “hadiah” atau persembahan untuk Yesus. Bersama dengan seluruh keluarga, kita mengingat apa saja yang telah dikaruniakan pada Tuhan dari hari ke hari. Pada akhir masa Natal, hasil persembahan ini dapat dipersembahkan sebagai persembahan Natal dari keluarga yang bersangkutan.

Puasa
Tradisi berpuasa telah ada sejak masa Perjanjian Lama. Pilihlah hari-hari tertentu untuk berpuasa. Tradisi Orthodox berpuasa pada hari Rabu dan Jumat. Jika tidak mungkin untuk berpuasa, cobalah untuk berpantang. Misalnya dengan makan makanan yang sederhana, tanpa daging, hanya dengan sayuran, tanpa kue atau makanan sekunder lainnya atau cemilan. Kita mengingat mereka yang berkekurangan dan turut mencoba mengerti dan merasakan penderitaan mereka. Dengan demikian kita menyadari dan bersyukur bahwa berkat Allah bagi kita tidaklah berkekurangan.

Berdoa
Seringkali sulit sekali bagi kita untuk memusatkan pikiran dan meluangkan waktu untuk berdoa. Ada cara praktis untuk membantu kita dalam berdoa dengan bantuan tangan kita.

Di tempat yang tenang, mulailah kita berdoa dengan bantuan jari-jari kita. Yang pertama adalah ibu jari, kita membuka diri kepada Tuhan. Kita bersyukur atas berkat-Nya dan meminta khidmat dan kebijaksanaan. Kita dapat berbicara dengan Allah untuk mengemukakan pendapat maupun curahan hati kita.

Jari telunjuk kita menyimbolkan mereka yang bekerja untuk memberi petunjuk bagi orang lain. Misalnya para pelayan Tuhan/pendeta/penginjil majelis jemaat, guru, dokter dan pengacara.

Jari tengah adalah jari yang terpanjang. Ini merupakan simbol dari para pemimpin kita. Mereka juga perlu didoakan supaya dapat memimpin dengan baik di bawah tuntunan Tuhan.

Jari manis biasanya tempat untuk sebentuk cincin. Itu adalah tanda kekeluargaan. Berdoalah untuk keluarga dan teman-teman supaya tetap saling mengasihi satu dengan lainnya.

Jari kelingking adalah jari yang terkecil. Ini adalah simbol dari mereka yang terlupakan dalam masyarakat, mereka yang tak berdaya, lemah dan sakit. Jika perlu dilakukan sesuatu, doa ini harus diikuti dengan perbuatan yang nyata.

Akhirnya kita melihat kelima jari yang menjadi satu di tangan kita. Berapa sering kita lupa untuk mengucap syukur atas karunia pemberian Allah? Tangan itu adalah sebagaian kecil dari anggota tubuh kita. Seluruh tubuh kita adalah karya unik dari Allah Pencipta. Allah yang besar dan kreatif, Sang Pencipta.

Kita mengucap syukur untuk semuanya. Setelah itu, giliran kita untuk mendengar sabda Allah dan bertindak sesuai dengan petunjuk-Nya.

Nantikan Tuhan ….
Tunggulah kedatangan-Nya …
Bersiaplah dalam doa ketika menunggu …

“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain ….”
(I Petrus 4:7-8)



Cara lain adalah dengan menghitung hari menjelang Natal. Seringkali kita menandai kalender kita jika ada peristiwa penting. Kita juga dapat melakukan hal ini dalam masa Advent.

Kalender Advent
Kalender Advent adalah tradisi yang berasal dari Jerman. Awalnya ada “rumah Nalal” dengan banyak jendela dan satu pintu. Tiap jendela yang tertutup dibuka memewakili satu hari. Pintu rumah dibuka pada saat Malam Natal pada tanggal 24 Desember.

Saat ini ada berbagai macam bentuk kalender advent yang berisi bermacam-macam. Ada permen, ada hadiah-hadiah kecil, ayat-ayat Alkitab, gambar-gambar tertentu yang mengingatkan kita pada membantu kita melalui masa Advent dan lain-lain.

Krans Advent
“Terang” adalah salah satu tema utama di dalam perayaan Advent. Inspirasi untuk penyalaan lilin di rumah sebagai simbol Advent dimulai sejak abad keenambelas di Jerman Timur. Sejak itu tradisi tersebut menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Jauh sebelum Kristus lahir, di musim dingin, pada saat matahari terbenam dengan cepat dan malam semakin panjang, para manusia tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari mereka seperti biasa. Mereka berangkat dari ladang, kembali ke rumah, serta memasukkan kereta mereka ke dalam rumah. Ketakutan mereka akan kelamnya malam membuat mereka menyalakan lilin di atas roda gerobak dan dihiasi dengan daun-daun hijau. Roda-roda tersebut diputar dengan harapan bahwa matahari akan terbit kembali untuk mengalahkan kegelapan.

Ada baiknya kita renungkan kembali, betapa tergantungnya kita pada Allah. Hidup dalam penantian haruslah dilatih. Dalam masa Advent, kita berlatih untuk menanti, menanti sesuatu yang besar, kedatangan Kristus yang kedua kali. Simbol-simbol itu membantu kita melewati masa penantian kita dan memperkuat harapan kita bahwa yang dinantikan itu akan datang.

Krans merupakan simbol kemenangan. Krans Advent merupakan simbol dari awal kemenangan Allah atas dosa dan kematian dengan kedatangan Kristus dan kelahiran-Nya bersinar tiap saat.

Krans Advent terbuat dari daun hijau. Di tempat-tempat empat musim, hanya beberapa jenis pohon yang tetap hijau, misalnya cemara. Dedaunan hijau ini mengingatkan kita akan keberlangsungan hidup yang terus-menerus dan simbol dari keabadian Tuhan dan janji_nya akan hidup abadi dalam Kristus. Dedaunan itu dirangkai dalam bentuk lingkaran yang tak ada ujungunya. Ini menjadi peringatan bagi kita akan kasih Allah yang tak putus-putusnya.

Keempat lilin advent menandai penantian kita. Tiap lilin merupakan satu minggu. Biasanya warna lilin tersebut adalah warna ungu, warna kerajaan, warna masa penantian. Di tengah-tengah, dapat ditempatkan satu lilin putih, yaitu Lilin Natal. Putih, mengingatkan kita akan kesucian dan kemurnian-Nya. Kita melihat kelahiran-Nya yang bagaikan “anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat…” (I Petrus 1:9). Di pagi hari Natal, hendaknya lilin ini mengingatkan kita akan Anak domba Allah dan perkataan Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia.”

Apakah kita telah siap untuk Natal? Ingatlah perkataan Petrus, “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.”

Nyalakanlah lilin-lilin Advent di krans Advent dan nantikanlah kedatangan-Nya.

Crèche
Tradisi Christmas Crèche bermula di tahun 1223 AD. Franciscus dari Asisi ingin memberitakan kabar baik kepada orang biasa yang tidak dapat membaca dan menulis. Ia ingin menceritakan tentang kelahiran Yesus di tempat yang rendah dan akhirnya Franciscus memilih satu gua, beberapa binatang dan beberapa anggota paroki untuk menceritakan kembali cerita tersebut. Hal ini dikenal dengan nama tableau. Dari Italia, ide tersebut menyebar ke seluruh daratan Eropa melalui Perancis dan Spanyol. Lama kelamaan, dibuat patung baik besar maupun kecil. Di Indonesia itu sering disebut dengan “Nativity.”

Ini bisa dimulai di Minggu Advent ketiga. Dibuat kandang dan palungan kosong. Maria dan Yusuf berangkat dari satu tempat di ruangan itu. Para gembala ada bersama domba-domba di dekat kandang. Pada malam Natal, cerita Natal dilantunkan dan Maria, Yusuf serta keledai, ditempatkan di kandang. Bayi Yesus ditempatkan di Hari Natal pada pagi hari, para gembala di sore hari. Tiga raja ditempatkan di kandang pada hari Epifani. Dengan demikian, lengkaplah cerita Natal tersebut.

Pohon Natal

Pohon selalu memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Di abad pertengahan, mulai pada abad kesebelas, diadakan sandiwara mengenai cerita Alkitab. Salah satu cerita favorit adalah Sandiwara Sorgawi (Paradise Play). Taman Eden disimbolkan dengan pohon cemara yang digantungi apel (sombol dari dosa). Lama-kelamaan sandiwara ini makin populer, dimainkan di luar gereja tapi akhirnya menjadi sekular hingga akhirnya pada abad kelimabela dilarang. Tapi pohon sorgawi tetap hidup dan pindah ke rumah-rumah untuk mengajarkan pelajaran penting bagi anak-anak. Roti digantung di pohon yang menjadi lambang Pohon Kehidupan.

Pada saat yang bersamaan muncul tradisi penyalaan lilin, yang merupakan simbol dari Tuhan, sang Terang Dunia. Kedua tradisi tersebut akhirnya menjadi satu, pohon Natal yang kita kenal saat ini.

Biarlah pohon tersebut menjadi simbol dari Pohon Kehidupan., yang mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah Terang Dunia. Pohon cemara yang terus hijau di musim dingin, mengingatkan kita akan keabadian. Hiasan apel di pohon Natal mengingatkan kita bahwa kita memerlukan kedatangan Yesus. Pada saat kita memasang lampu Natal, ingatlah bahwa Terang telah datang untuk menerangi dunia yang gelap. Letakkanlah bintang di atas puncak pohon, sebagai petunjuk bahwa Kristus lahir di Betlehem. Bacalah yang tertera di dalam Matius 2:2,“Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” dan di dalam Wahyu 22:16,“Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu agi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.” “Put something (on your tree) where you can see it so your eye will remind your heart.”[10]



Begitu banyak yang bisa kita lakukan dalam mempersiapkan diri kita memasuki masa raya Natal. Dalam penantian, kita berharap. Dengan penuh cinta kasih dan sukacita kita mengharapkan kedatangan-Nya. Kiranya dalam segala kesederhanaan kita mengingat sesama kita dan dengan kebersamaan, kita menyambut Natal.

________________________________________
[1] Gibson, G.M., The Story of the Christian Year, Nashville, 1945, 21
[2] Gibson, 95
[3] Talley, T.J.,The Origins of the Liturgical Years, Collegeville,152
[4] Talley, 152, Lamberts, J., Hoogtepunt en bron – Inleiding tot de liturgie, 1991, 155
[5] Vrijlandt, M.A., Liturgiek, Zoetermeer3, 268
[6] Gibson, 95
[7] Gibson, 95
[8] Aslanoff,C.,ed, Meyendorff, P., transl, The Incarnate God – The Feasts of Jesus Christ and the Virgin Mary vol. 1, Crestwood,1995, 93
[9] Ide ini semua diambil dari Celebrating the Christian Year, oleh M. Zimmerman, Minneapolis, 1993, 26-38
[10] Zimmerman, 37

PERANAN PADUAN SUARA DALAM IBADAH

Fungsi pemusik gereja di banyak gereja protestan di Indonesia bisa dibilang belum banyak dikenal. Fungsi tersebut biasanya diisi oleh mereka yang kebetulan punya hobby bermusik dan kebetulan bisa sedikit-sedikit main organ atau piano, atau kebetulan berani untuk memimpin paduan suara atau vocal group. Janganlah bingung jika banyak orang yang berpendapat bahwa lagu-lagu jemaat yang dinyanyikan di dalam ibadah gereja konvensional sangat membosankan, berat dan “kuno”.

Artikel pendek ini sekedar menarik perhatian kita semua bahwa sudah tiba saatnya bagi kita di Indonesia untuk memiliki tenaga pemusik gereja yang profesional. Tenaga pemusik gereja yang benar-benar dididik dan dilatih untuk berfungsi penuh sebagai pemusik gereja dan bukan sekedar mengisi waktu luang. Banyak gereja yang merasa bahwa hal itu tidak perlu karena sudah selayaknya penyelenggaraan musik gereja itu cukup dengan yang namanya ”pelayanan” saja. Sebagai seorang pemusik gereja yang memang belajar dan dididik untuk menjadi tenaga ahli, penulis keberatan dengan pandangan umum yang berlaku di sebagian besar gereja protestan di Indonesia ini. Di samping seorang pemusik gereja, kita juga memerlukan paduan suara yang benar-benar berfungsi secara maksimal di dalam ibadah dan tidak sekedar menyanyi asal bunyi saja.

Jika kita ingin ibadah yang dinamis, ekspresif dan penuh peran serta secara sadar dan aktif dari jemaat, maka kita harus membereskan hal yang paling essensial, yaitu liturgi. Liturgi atau ibadah sendiri, adalah hal yang integral dengan musik gereja. Harapan penulis yang terutama adalah pihak gereja sadar bahwa fungsi tersebut penting. Pemusik gereja haruslah orang yang bertanggungjawab penuh dalam penyelenggaraan musik di dalam ibadah, bekerja sama dengan pendeta dan komisi liturgi/musik gereja. Dan untuk menjadi pemusik gereja, semuanya itu haruslah dipelajari, dididik dan dilatih.

Ada beberapa hal yang akan dipaparkan di dalam artikel ini. Di bagian awal, kita akan melihat tradisi Yahudi di masa Perjanjian Lama sebagai dasar bahwa fungsi pemusik dalam ibadah itu memang benar ada dan bukan merupakan hal yang baru. Setelah itu kita akan melihat apa saja tugas dan tanggung jawab seorang pemusik gereja dan apakah fungsi utama paduan suara. Hal ketiga adalah beberapa argumen yang berusaha memperjelas mengapa sudah tiba saatnya bagi kita di Indonesia untuk memiliki fungsi pemusik gereja. Artikel ini diakhiri dengan penutup mengenai penyelenggaraan ibadah yang membangkitkan peran serta aktif jemaat yang didukung dengan penyelenggaraan musik gereja yang baik dan benar.
Masa Perjanjian Lama
Ibadah yang kita kenal dan laksanakan pada saat ini berakar di dalam ibadah orang Yahudi dari Masa Perjanjian Lama. Ada beberapa petunjuk dari Alkitab yang menjelaskan bahwa dari masa pemerintahan Raja Daud, fungsi pemusik di dalam ibadah telah ada.

Di dalam I Tawarikh 25: 1 dijelaskan mengenai pengangkatan para pemusik ibadah yang bertugas untuk bernubuat dengan iringan instrumen:

“Selanjutnya untuk ibadah Daud dan para panglima menunjuk anak-anak Asaf, anak-anak Heman dan anak-anak Yedutun. Mereka bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap.”

Di samping itu kita juga mengetahui bahwa tenaga pemusik ibadah itu adalah orang-orang yang memang dilatih dan adalah ahli seni, jadi bukan sembarang orang saja. Janganlah lupa, bahwa hanya suku Lewi yang dapat memiliki fungsi di dalam ibadah. Dalam hal ini kita juga dapat melihat bahwa fungsi ini adalah fungsi yang cukup eksklusif karena tidak semua orang dapat memiliki fungsi tersebut. Di dalam I Tawarikh 25:7 tertera:

“Jumlah mereka bersama-sama saudara-saudara mereka yang telah dilatih bernyanyi untuk TUHAN – mereka sekalian adalah ahli seni – ada dua ratus delapan puluh delapan orang.”

Selanjutnya di awal masa pemerintahan Raja Hizkia, beliau menguduskan kembali rumah Tuhan. Tradisi musik dalam ibadah berjalan kembali seperti yang tertulis di dalam II Tawarikh 29:25-30. Nyanyian dinyanyikan bagi Tuhan dengan iringan alat musik dan nafiri juga dibunyikan sementara korban bakaran dipersembahkan.

Tradisi tersebut terus berlanjut hingga masa kini. Di dalam gereja Katolik, para pemusik dilatih dan dididik secara khusus. Malahan setelah Masa Abad Pertengahan hingga sebelum masa Reformasi, penyelenggaraan musik gereja hanya diikuti oleh tenaga ahli saja. Jemaat hanya sekali-sekali mendapat kesempatan untuk turut menyanyikan antifon atau refrein di dalam ibadah perayaan hari besar (jadi tidak setiap hari Minggu). Hal ini tentu saja patut disayangkan tetapi dengan adanya Reformasi oleh Martin Luther di tahun 1517, jemaat mendapat kesempatan untuk berperan serta aktif di dalam ibadah antara lain melalui nyanyian jemaat.
Peranan seorang Pelayan Musik
Apa sebenarnya yang menjadi tugas dan tanggung jawab seorang pemusik gereja? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita haruslah lebih dulu melihat, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pemusik gereja.

Sama seperti di dalam Alkitab, sebenarnya ada beberapa macam pemusik gereja. Yang dimaksud dengan pemusik gereja di artikel ini adalah seseorang yang memiliki tanggung jawab penuh dalam penyelenggaraan musik gereja di dalam ibadah. Baik dari persiapan hingga hasil akhirnya.

Seseorang yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan musik di dalam ibadah disebut sebagai Pelayan Musik (Minister of Music) atau dapat juga disebut sebagai Prokantor. Tapi mengingat bahwa pengertian prokantor di Indonesia masih belum merata, penulis cenderung mempergunakan istilah Pelayan Musik.

Di dalam ibadah kita ada dua pelayan yang memegang peranan penting, yaitu Pelayan Firman (Minister of the Words) dan Pelayan Musik (Minister of Music). Keduanya adalah rekan sejawat yang menguasai bidangnya masing-masing. Keduanya harus dapat bekerja sama dalam mempersiapkan ibadah dan dalam menyelenggarakan ibadah tersebut.

Keadaannya pada saat ini cukup menyedihkan karena banyak pelayan firman yang menganggap bahwa pemusik gereja itu tidak tahu apa-apa. Sebenarnya tidak dapat dipungkiri, pemusik gereja yang profesional hingga saat ini masih amat sedikit. Andaikata ada orang-orang yang pernah mengikuti kursus musik gereja, itu juga belum mencukupi karena pengetahuan mengenai liturgi, hymnologi (sejarah nyanyian jemaat), sejarah musik gereja dan perkembangannya, pengetahuan Alkitab, seni pertunjukan (performance practice), kantorat (cantorship) dan lain-lain, masih amat sangat kurang. Seringkali mereka harus mendapat bantuan dari pihak yang lebih ahli, belum dapat benar-benar mengambil keputusan dalam menghadapi masalah yang dihadapi.

Pelayan Musik sebagai orang bertanggung jawab di dalam penyelenggaraan musik gereja dalam ibadah dibantu oleh banyak unsur antara lain paduan suara dan para pemusik. Paduan suara di dalam ibadah memiliki fungsi yang amat penting. Paduan suara tidak sekedar mengisi bagian “luang” di dalam ibadah atau sekedar menyanyi setelah khotbah. Paduan suara haruslah menjadi satu kesatuan dengan jemaat untuk menyampaikan nyanyian pujian dan ratapan kita kepada Tuhan.
Fungsi paduan suara dalam ibadah
Dari masa Perjanjian Lama hingga kini, paduan suara memegang peranan penting di dalam ibadah jemaat.

Di Abad Pertengahan, schola cantorum (kelompok penyanyi) adalah kelompok yang bertugas untuk menyanyikan lagu-lagu yang ada di dalam ibadah.

Pada masa Reformasi, Luther menggunakan paduan suara (anak) untuk mengajarkan nyanyian baru kepada jemaat. Calvin bahkan hanya memperkenankan paduan suara untuk mengiringi nyanyian jemaat di gereja.

Baik Luther maupun Calvin memandang muziek gereja itu penting demi pertumbuhan iman jemaat.

Melalui dokumentasi yang ada kita melihat bahwa paduan suara anak di Geneva yang merupakan bagian dari sekolah, memiliki tugas untuk membentuk dan mendukung nyanyian jemaat. Paduan suara anak tersebut menyanyi mazmur satu suara. Aransemen mazmur lebih digunakan untuk di rumah, bukan untuk di gereja.

Calvin membedakan antara nyanyian jemaat, musik paduan suara, permainan orgel dan nyanyian liturgi. Bagi Calvin nyanyian paduan suara di dalam ibadah dapat membuat perhatian orang teralih dari syair hingga orang hanya mendengarkan musiknya saja tanpa memperhatikan pesan yang ada di dalam lagu tersebut. Itu adalah salah satu keberatan Calvin.

Luther sebaliknya, banyak memakai musik di dalam ibadah. Musik adalaah ciptaan Tuhan dan itu adalah karunia Tuhan, menurut Luther.

Luther menghubungkan musik gereja dengan Pekabaran Injil:
- Kabar Baik itu penuh dengan nyanyian dan permainan musik,
- Iman dan percaya menginginkan kita menyanyi,
- Musik dapat membantu untuk membangkitkan iman.

Di dalam ibadah, Luther menggunakan paduan suara untuk mendukung pelaksanaan nyanyian jemaat.

Itu adalah tugas dan tanggung jawab paduan suara yang terutama. Bukan sekedar menyanyi untuk “mengisi” ibadah seperti yang sering terjadi pada saat ini.

Seringkali paduan suara yang bertugas, tidak mau menjadi kantoria yang bertugas menuntun jemaat dalam menyanyikan nyanyian jemaat. Andaikata ada kantoria, para anggota sebagian besar mengganggap remeh karena hanya menyanyikan satu suara. Padahal justru menyanyi unisono itu amat sulit.

Idealnya sebuah kantoria menyanyikan semua nyanyian jemaat yang ada dengan susunan 4 suara, SATB, baik yang sederhana maupun aransemen khusus. Untuk dapat mencapai hal tersebut, diperlukan pendidikan paduan suara yang progresif hingga tiap anggota dapat menyanyi dengan mandiri tanpa harus “nebeng” kiri-kanan.

Jika nyanyian jemaat dapat dilagukan dengan baik dan benar, penuh semangat, maka dengan sendiri ibadah kita akan lebih hidup dan berarti. Ingatlah bahwa seringkali kita lebih mengingat musik yang dinyanyikan di dalam satu ibadah, dibandingkan dengan hal-hal lain.

Ada banyak hal yang harus diperhatikan di dalam pelayanan kita sebagai kantoria. Yang terpenting adalah persiapan kita untuk menyanyikan lagu-lagu jemaat haruslah matang. Jangan sampai kita tidak tahu pasti bagaimana cara menyanyikan lagu-lagu tersebut. Hingga jemaat tidaklah terganggu ketika beribadah, dengan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Hal yang juga harus diperhatikan adalah fungsi paduan suara di dalam ibadah adalah sebagai salah satu unsur ibadah. Tidak ada unsur pertunjukan sama sekali jika paduan suara tersebut berfungsi di dalam ibadah. Karena lagu yang dinyanyikan adalah satu kesatuan dalam keseluruhan ibadah dan bukan merupakan konser. Itu sebabnya, jika kita ingin menyampaikan apresiasi kita kepada paduan suara tersebut karena telah menyentuh hati kita, sebaiknya ucapan terima kasih dan pujian tersebut disampaikan setelah ibadah selesai melalui kata-kata yang tulus dan bukan dengan tepukan tangan di tengah ibadah.

Ingatlah, hanya TUHANlah yang menjadi pusat perhatian kita di dalam ibadah. Kita beribadah di hadapan Tuhan, kepada Tuhan, untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Hanya DIA-lah yang layak menjadi pusat perhatian.

Bukan berarti kita tidak boleh menghargai paduan suara yang menyanyi tetapi kita harus dapat membedakan dan menempatkan diri, sebagai apa fungsi paduan suara tersebut pada saat itu. Jika kita sedang berada di malam pentas seni, tentu sudah selayaknya kita menunjukkan apresiasi kita melalui tepuk tangan kita namun di dalam ibadah, pusat perhatian kita hanyalah untuk Tuhan kita.

Penutup
Martin Luther menginginkan peran serta jemaat secara sadar dan aktif di dalam ibadah. Bukan sekedar menjadi penonton dari kaum rohaniwan yang merayakan perayaan ekaristi dan tidak dapat datang sendiri ke hadirat Allah. Sebagai umat percaya kita diberi kesempatan untuk mengekspresikan syukur kita atas karya keselamatan Allah melalui Putera Tunggal-Nya, Yesus Kristus.

Ibadah yang ada saat ini dapat menjadi lebih hidup jika jemaat disegarkan kembali dengan esensi ibadah tersebut, yaitu pengucapan syukur dan bakti kita pada Allah Bapa di sorga. Perayaan yang dirayakan,haruslah dengan penuh suka cita dan bukan sekedar formalitas menyanyikan nyanyian jemaat dan membaca beberapa bagian Alkita serta mendengar Pemberitaan Firman. Ibadah adalah perayaan. Semua dapat berperan serta aktif.

Ibadah harus dipersiapkan. Semua telah memiliki tugas masing-masing dan semuanya harus saling bekerja sama. Jemaat adalah pemeran utama dalam ibadah, bukan para pelayan atau pemusik. Melalui nyanyian jemaat, jemaat dapat mengekspresikan ungkapan syukur mereka. Di samping itu, melalui nyanyian liturgis, mereka juga dapat menyampaikan doa-doa mereka serta respons mereka atas Firman Allah. Tanpa seorang pemimpin yang dapat menuntun jemaat supaya menyadari betapa pentingnya mereka di dalam ibadah, jemaat tidak akan tahu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam ibadah itu.

Itu sebabnya pembinaan sangat diperlukan. Ada berbagai macam cara untuk membina jemaat, antara lain melalui musik gereja. Bukan hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak, para remaja serta pemuda-pemudi, mereka dapat belajar banyak melalui musik gereja.

Seorang Pelayan Musik tidak sekedar bertugas untuk melatih paduan suara atau memainkan organ/piano. Pelayan Musik juga bertanggung jawab atas pembinaan warga jemaat bersama dengan Pelayan Firman. Fungsi tersebut bukan sekedar pelengkap tetapi benar-benar diperlukan di dalam jemaat.

Paduan suara yang bertugas juga bukan sekedar mempertunjukkan kemampuan paduan suara tersebut. Namun benar-benar menunjang jemaat dalam menyanyikan nyanyian jemaat. Itulah fungsi utama paduan suara di dalam ibadah kita. Jika ada lagu baru yang belum dikenal, paduan suara dapat mengajak jemaat untuk menyanyikan lagu baru tersebut.

Jalan yang harus ditempuh masih panjang. Kita semua menginginkan yang terbaik bagi Tuhan. Ibadah adalah pesta kita semua. Pesta tersebut akan berhasil dengan sukses jika unsur-unsur yang ada di dalamnya dipersiapkan dengan serius dan sebaik mungkin, termasuk unsur musik gereja. Paduan suara sebagai salah satu unsur penting di dalam penyelenggaraan musik ibadah, harus lah dipersiapkan dengan serius. Dengan mempersiapkan calon-calon pemusik gereja baik pemain organ, piano, penyanyi maupun dirigen, jemaat dapat dibina untuk bersama memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Ibadah kita menjadi dupa yang harum di mata Tuhan.

Soli Deo Gloria!

Christina Mandang

Ini adalah salah satu paper yang cukup banyak dipakai dalam seminar maupun lokakarya musik gereja.
tidak ada komentar bagi

Instrumen Musik
Pendahuluan

Ada begitu banyak macam instrumen musik di masyarakat, baik alat musik tradisional maupun alat musik modern. Alat musik telah menjadi bagian kehidupan manusia, dari masa pra sejarah hingga kini.Tiap alat musik mempunyai ciri khas masing-masing dan cara penggunaannya yang unik. Sebagian besar dari alat musik modern yang kita kenal saat ini telah melalui beberapa tahap perkembangan. Di dalam ilmu musik, ada satu cabang yang disebut dengan organologi. Organologi adalah ilmu pengetahuan mengenai alat musik.

Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani organon yang berarti instrumen atau alat yang dipakai untuk melakukan aktivitas tertentu (bahkan di dalam tubuh kita juga terdapat organ-organ tubuh). Istilah tersebut digunakan baik untuk menyebutkan instrumen musik maupun organ yang berhubungan dengan suara manusia. Dalam bahasa Latin, istilah organum (organa) dipakai untuk menerangkan salah satu jenis musik vokal polifoni. Michael Praetorius adalah orang pertama yang menggunakan istilah organologi di dalam bukunya, De Organographia, yang merupakan volume kedua dari Syntagma musicum yang diterbitkan pada tahun 1619.

Di dalam organologi dijelaskan mengenai detail dari alat-alat musik, fungsi mereka di dalam masyarakat (terutama untuk alat musik tradisional) dan klasifikasi dari alat musik. Dengan demikin, dalam organologi tercakup semua instrumen musik dari berbagai macam tradisi musik. Baik musik klasik atau art music, musik rakyat atau musik etnik dan juga musik barat maupun musik non-barat (western and non-western music). Di edisi perdana ini, kita akan melihat bagaimana klasifikasi alat musik berdasarkan beberapa tokoh musik dari abad ke-16 hingga abad ke-20. Di edisi-edisi berikut, kita akan membahas mengenai alat musik tertentu.
Selayang pandang sejarah
Di abad ke-16, beberapa teoretikus musik mulai menulis mengenai organologi. Pada tahun 1511, Sebastian Virdung menerbitkan bukunya: Musica getutscht und ausgezogen. Martin Agricola menulis mengenai organologi dalam bukunya Musica instrumentalis deudsch (1529). Michael Praetorius telah kita kenal dengan De Organographia. Di samping itu, Praetorius juga menerbitkan buku pertama yang berisi gambar dan keterangan mengenai alat musik yang berasal dari Afrika, di dalam Theatrum instrumentorium (1620). Pada abad ke-17, ada tulisan dari Marin Mersenne di dalam bukunya Harmonie universelle (1636-1637), Pierre Trichet dalam Traité des instruments de musique (1640) dan Athanasius Kircher dengan bukunya Musurgia universalis (1650).

Sebagian besar dari para penulis membagi instrumen di dalam tiga kelompok besar. Virdung membagi instrumen dalam tiga kelompok, yaitu instrumen berdawai, instrumen yang terbuat dari pipa atau pembuluh yang berlubang dan ditiup dengan udara serta instrumen yang terbuat dari logam atau bahan lain yang berdenting. Virdung tidak memasukkan alat musik perkusi di dalam klasifikasinya karena ia menganggap bahwa alat musik perkusi (terutama berbagai macam bentuk drum) menyebabkan “gangguan pada mereka yang sakit, mereka yang sedang bermeditasi di biara, mereka yang harus membaca dan belajar serta mereka yang sedang berdoa.”[1]

Praetorius tidaklah sesistematis Virdung di dalam pembagiannya. Ia memasukkan semua alat musik yang ada di masanya. Pengelompokkan yaang ia lakukan kadang-kadang tidak teratur. Praetorius membagi alat musik dalam dua kelompok besar: inflata dan percata. Inflata adalah alat musik yang terbuat dari pipa atau alat musik yang memerlukan tiupan udara. Udara yang diperlukan bisa dihasilkan dari napas atau dari gudang udara seperti misalnya orgel pipa. Percata adalah alat musik yang dipukul (struck instruments). Dalam kelompok ini, pembagian Praetorius tidak teratur. Instrumen dikelompokkan berdasarkan bagaimana bunyi alat musik tersebut dihasilkan. Ia membagi kelompok percata dalam tiga bagian, yaitu instrumen yang dipukul, instrumen yang digesek (dipukul/dibunyikan dengan obyek yang terbuat dari kayu atau materi lain) dan instrument yang dipetik dengan jari dan atau plectrum. Itu adalah kelemahan dari pengelompokkan Praetorius.

Baik Mersenne maupun Kircher membagi instrumen dalam tiga kelompok. Yaitu alat musik tiup, alat musik yang dipukul dan alat musik berdawai. Orgel pipa termasuk dalam alat musik tiup karena bunyinya dihasilkan dari udara yang dipompa ke dalam pipa dan piano adalah alat musik berdawai yang dipukul dengan palu.
Standard Klasifikasi Instrumen Musik
Klasifikasi yang dipergunakan hingga saat ini dikenal dengan nama Standard Klasifikasi Instrumen Musik Hornbostel-Sach. Hornbostel dan Sach menulis Systematic der Musikinstrumente yang dimuat dalam Zeitschrift für Ethnologie no. 46 tahun 1914. Erich Moritz von Hornbostel adalah seorang etnomusikolog dan cendekiawan musik (music scholar) dari Austria. Sedangkan Kurt Sach adalah seorang musikolog dari Jerman.

Sebenarnya klasifikasi Hornbostel dan Sach adalah sistem klasifikasi instrumen musik yang merupakan perluasan dari klasifikasi yang dilakukan oleh Victor Mahillon (kurator dari koleksi alat musik di Brussell Conservatorium) pada akhir abad ke-19. Mahillon mengelompokkan instrumen berdasarkan apa yang bergetar di dalam instrumen untuk menghasilkan bunyi instrumen tersebut. Namun sistematika Mahillon masih terbatas untuk alat musik dari barat saja. Hornbostel dan Sach memperluas sistematika tersebut hingga dapat dipakai untuk alat musik tradisional yang bukan berasal dari barat.

Klasifikasi Hornbostel dan Sach disusun dengan menggunakan Dewey Decimal Classification (sistem klasifikasi perpustakaan yang menggunakan angka). Klasifikasi ini memiliki 4 kelompok utama yang diikuti dengan beberapa tingkatan kelompok di bawahnya. Total ada sekitar lebih dari 300 kategori dasar.

4 kelompok utama tersebut adalah:
1. Idiophones
2. Membranophones
3. Chordophones
4. Aerophones

1. Idiofon
Idiofon adalah bunyi yang dihasilkan dari getaran instrumen itu sendiri, bukan dari dawai, membran maupun kolom udara. Dalam kelompok ini terdapat semua jenis alat musik perkusi kecuali drum ditambah beberapa macam alat musik lainnya.
11. Idiofon yang dipukul.
12. Idiofon yang dipetik.
13. Idiofon yang digesek tapi materialnya bukan dari dawai melainkan dari metal yang solid atau kayu.
14. Idiofon yang memakai udara.

2. Membranofon
Membrafon adalah bunyi yang dihasilkan dari getaran membran yang dengan tegang direntangkan. Contohnya adalah semua jenis drum dan kazoo.
21. Drum yang dipukul.
22. Drum yang dipetik, misalnya beberapa drum yang memiliki dawai yang disimpul dan diletakkan di membran.
23. Drum yang digesek, baik dengan tangan, tongkat maupun benda lainnya.
24. Membran yang menyanyi. Alat musik yang termasuk di sini adalah alat musik yang tidak menghasilkan bunyi sendiri melainkan mengubah bunyi lain dengan menggetarkan membran. Contohnya adalah kazoo.[2]

3. Kordofon
Kordofon adalah bunyi yang dihasilkan dari getaran dawai. Termasuk di dalam kelompok ini adalah semua alat musik yang berdawai seperti alat musik gesek dan juga beberapa jenis alat musik klaviatur seperti piano dan cembalo.
31. Kordofon sederhana, alat musik yang hanya memiliki dawai saja. Instrumen ini mungkin memiliki resonator.[3] Contohnya misalnya piano, siter dan berbagai macam harpa yang bukan dari barat.
32. Kordofon gabungan, instrument dalam kelompok ini memiliki dawai dan sekaligus resonator yang merupakan satu kesatuan dengan instrumen tersebut. Termasuk dalam kelompok ini adalah kelompok biola, gitar dan harpa modern.

4. Aerofon
Aerofon adalah bunyi yang dihasilkan dari getaran udara. Instrumen tersebut tidak bergetar dan tidak ada dawai atau membran.
41. Aerofon bebas, udara yang bergetar tidak ada dalam instrumen itu sendiri melainkan di luar instrumen tersebut. Misalnya klakson mobil yang kuno.
42. Alat musik tiup, semua alat musik tiup yang kita kenal dan juga orgel pipa serta kerang yang dapat berbunyi jika ditiup.

Revisi menambah kelompok baru sesuai dengan perkembangan teknologi, yaitu
Electrophones atau alat musik yang bunyinya dihasilkan dari reaksi elekronis seperti misalnya synthesizer, keyboard, electone dan alat alat musik elektronik lainnya.

Di bagian ini telah dipaparkan mengenai dua kelompok teratas dari klasifikasi Hornbostel-Sach. Kelompok-kelompok di bawahnya masih cukup panjang dan cukup rumit. Masih ada tambahan dan juga alat musik gabungan yang merupakan gabungan dari beberapa kelompok.
Penutup
Ada begitu banyak alat musik di sekeliling kita yang tidak semuanya kita ketahui nama dan cara memainkannya. Dengan mengetahui klasifikasi dari alat musik ini, kita dibantu untuk mengenal lebih jauh beraneka-ragam alat musik. Di edisi-edisi berikut, kita akan mengenal lebih mendalam mengenai instrumen musik yang ada sehingga kita tidak merasa asing jika mendengar nama atau melihat satu alat musik tertentu. Hingga kita dapat lebih menghargai instrumen yang ada di sekeliling kita dan lebih dapat menikmati musik yang kita dengar.

Daftar pustaka:
Dourmon, Geneviéve, “Organology,” di dalam Ethnomusicology: An Introduction,ed. Helen Myers., W.W. Norton & Co., 1992, pp.245-260, 286-295
Rademacher, Johannes, Musical Instruments, Barron’s Educational Series Inc., 1997, pp.16-24,36-39

(Artikel ini diambil dari Majalah Musik Chorale, Edisi Perdana, Desember 2004)

________________________________________
[1] Rademacher, Musical Instruments,1997, pp.16-17
[2] Kazoo adalah alat musik sederhana yang menambah kwalitas tonal/kwalitas bunyi pada saat pemain bergumam di alat musik tersebut.
[3] Resonator: medium untuk meneruskan getaran supaya bunyinya lebih keras atau indah. Garpu tala memerlukan resonator supaya bunyinya bisa terdengar.

Asal-muasal tradisi Pohon Natal

Mengapa sih kita memasang pohon natal di bulan Desember? Seringkali belum masa Advent pun, pohon natal sudah bertengger di rumah-rumah. Apa sebenarnya makna dari pohon natal tersebut? Apa pohon natal itu sekedar hiasan belaka dan telah kehilangan makna simboliknya?

Cikal bakal pohon natal yang kita kenal saat ini cukup panjang asal-usulnya. Seperti kita ketahui, perayaan Natal sendiri sebenarnya merupakan perayaan yang baru dirayakan lama setelah kelahiran Kristus karena dalam tradisi Yahudi, perayaan kelahiran bukanlah perayaan yang populer. Dari berbagai tradisi yang ada di Eropa, akhirnya membuat kita mengenal tradisi pohon natal yang diimport ke Indonesia dengan masuknya kekristenan. Bagaimana, sih ceritanya? Nah, selamat membaca.

Perayaan musim dingin (Yule). Tradisi NorwegiaYule merupakan simbolik kelahiran dewa matahari, Mitras di hari terpendek (solastika, 21 des-22 des). Dewa matahari bertumbuh hingga hari-hari menjadi makin panjang dan hangat. Adalah biasa untuk menyalakan lilin untuk mempercepat pertumbuhan Mitras dan matahari supaya muncul di tahun mendatang.

Tanaman hijau digunakan supaya dewa matahari menjadi sembuh. Ayah dan anak laki-laki akan kembali dengan log kayu yang besar dan akan dibakar. Pesta Jerman Kuno, penanaman pohon Yule. Pestanya mulai November, selama 2 bulan.
Orang Mesir kuno memuja dewa Ra, memiliki kepala tombak (hawk) dan menggunakan matahari sebagai simbol dalam mahkotanya. Pada solstice, ketika Ra mulai sembuh dari sakit, orang Mesir mengisi rumahnya dengan tangkai palm yang melambangkan kemenangan kehidupan dari kematian.

Tradisi Romawi merayakan solastice dengan pesta Saturnalia, sebagai penghargaan bagi Saturnus, dewa pertanian. Hari terpendek berarti pertanian dan kebun buah akan menjadi hijau dan berbuah. Untuk menandai, rumah dan kuil dihiasi dengan dedaunan hijau (boughs).
Di Eropa Utara, rohaniwan Keltik Kuno juga menghias kuil mereka dengan hiasan hijau sebagai simbol kehidupan abadi. Orang Viking yang kejam di Skandinavia percaya bahwa tanaman hijau adalah tanaman khusus dari Dewa Matahari, Balder.

Penggunaan pohon Natal pertama yang dihias adalah di Riga (Latvia tahun 1510). Di awal abad ke-16, Luther menghiasi pohon natal kecil dengan lilin, untuk menunjukkan bagi anak-anak bintang yang bersinar di kegelapan malam.
Penggunaan pohon Natal semakin popular sejak abad ke-19. Ratu Victoria dan suaminya, Pangeran Albert dari Jerman, masuk Koran Illustrated London News. Dalam gambar itu keluarga ratu sedang berdiri bersama anak-anak di sekitar pohon natal. Hal ini menjadi trend dan popular bukam hanya di Inggris namun juga di pantai timur Amerika.
Sandiwara misteri (mystery plays), populer mulai abad ke-11 di Eropa. Dimainkan di udara terbuka ataupun di gereja. Sandiwara yang terkenal adalah Paradise Play atau Sandiwara Sorga. Menceritakan tentang penciptaan Adan dan Hawa, dosa mereka dan pengusiran mereka dari taman Firdaus. Sandiwara ini berakhir dengan janji kedatangan Juruselamat dan inkarnasinya (Kej. 3:15). Sandiwara ini amat sederhana. Dekor di panggung hanyalah Pohon Firdaus, yaitu pohon cemara yang dihiasi dengan apel. Di satu bagian, Hawa mengambil buah itu, memakannya dan memberikannya kepada Adam.
Di abad ke-15, gereja melarang sandiwara misteri karena ada penyalahgunaan sandiwara dan kelakuan yang tak bermoral. Namun orang telah terbiasa dengan pohon firdaus dan membuatnya di rumah pada tanggal 24 Desember karena ini adalah perayaan Hari Adam dan Hawa (dalam tradisi Gereja Timur). Pohon Firdaus ini menyimbolkan pohon kehidupan dan dosa kita. Itulah sebabnya pohon ini dihiasi dengan apel (lambang dosa) dan wafer buatan sendiri (seperti hosti, lambang buah kehidupan). Di kemudian hari, permen juga ditambahkan sebagai hiasan.
Tradisi lain adalah mulai akhir Abad Pertengahan. Lilin besar, Lilin Natal, melambangkan Kristus adalah terang dunia, dinyalakan di Malam Natal pada tanggal 24 Desember. Di Jerman Barat, lilin kecil diletakkan di piramit kayu dan dinyalakan. Di samping lilin diletakkan bola-bola gelas, dan slingers serta Bintang Betlehem diletakan di puncaknya.
Tradisi pohon Natal di Jerman pada awal abad ke-16, muncul dari tradisi ini, paradise tree, Christmas pyramids dan terang. Paradise tree menjadi pohon natal kita. Hiasan Natal di piramit pindah ke pohon natal.
Kita diingatkan kejatuhan Adam dan Hawa tapi lebih penting lagi, mengingatkan bahwa dosa kita telah diampuni, dihapuskan dengan kematian dan kebangkitan Yesus (Gal. 3:13).
Ucapan Natal
Tradisi mengirim kartu Natal mulai sejak diproduksinya kartu Natal oleh John Calcott Horsely, ketika ia mulai mencetak kartu kecil dengan gambar dan ucapan selamat di akhir tahun 1830-an. Hal yang sama juga terjadi di Amerika oleh pencetak kartu pertama, R.H. Pease dan Louis Prang, orang Jerman yang berimigrasi ke Amerika tahun 1850. Kantor pos yang efisien di Inggris dan Amerika membuat tradisi juga makin berkembang.
Saat ini, dengan berkembangnya teknologi, ucapan Selamat Natal tidak hanya melalui pengiriman kartu (snail mail) tapi juga secara elektronik baik melalui fasilitas e-mail maupun e-greeting. Bahkan, dengan adanya sms, seringkali juga kita mengucapkan Selamat Natal melalui sms.
Bagaimanapun juga cara kita mengucapkan Selamat Natal, tidak akan ada artinya jika hanya sekedari formalitas mengucapkan Selamat Natal. Kesadaran akan arti Natal bagi kehidupan kita lebih penting daripada sekedar ucapan di mulut. Kesadaran bahwa sebagai sesama orang percaya, sesama murid Kristus, kita memiliki kewajiban untuk mengabarkan Kabar Baik bagi seluruh dunia, terutama melalui tutur kata dan perbuatan kita, bukan sekedar omong-omong basa-basi saja. Dengan demikian, ucapan selamat kita, merupakan ucapan yang tulus bagi mereka yang merayakan Natal.

Nama lain Sinterklas
Asal muasalnya adalah St. Nicholas dari Myra (di Turki), 280 AD. Ia adalah seorang kaya yang menjual seluruh hartanya menolong orang banyak. Ia menjadi pelindung anak-anak dan pelaut. Hari rayanya dirayakan pada tanggal 6 Desember. Hari ini dianggap sebagai hari keberuntungan untuk membeli sesuatu yang besar atau menikah. Di Belanda, tradisi Sinterklas dirayakan di malam hari tanggal 5 Desember di mana seluruh keluarga berkumpul dan merayakannnya dengan memberikan hadiah kejutan (surprise), diiringi pembacaan puisi yang biasanya isinya penuh humor.
Santa Claus dipopulerkan karena puisi Natal dari Pdt. Clement Clarke Moore tahun 1822, An Account of a Visit from St. Nicholas. Di tahun 181, kartunis politis Thomas Nast, menggambar ilustrasi dari puisi Moore ‘Twas the Night Before Christmas dan dari situlah muncul imago Santa Claus seperti yang kita kenal saat ini. Di Jerman dan Swiss, dikenal Christkind atau Kris Kringle yang dipercai membawa hadiah bagi anak-anak yang berkelakuan baik. Di Skandinavia, ada peri riang yang bernama Jultomten yang mengantarkan hadiah dengan kereta Natal yang ditarik kambing. Legenda Inggris menjelaskan bahwa Father Christmas mengunjungi tiap rumah di Malam Natal untuk mengisi kaus kaki anak-anak dengan hadiah. Pere Noël mengisi sepatu anak-anak di Perancis. Sedangkan di Rusia, mereka percaya bahwa seorang wanita tua, Babouschka, dengan sengaja memberikan petunjuk yang salah pada Orang Majus supaya mereka tidak menemukan Yesus. Akhirnya ia menyesal tapi tidak bisa lagi diperbaiki kesalahan tersebut. Pada tanggal 5 Desember, Babouschka mengunjungi anak-anak Rusia, meninggalkan hadiah di samping tempat tidur mereka dengan harapan bahwa salah satu dari mereka adalah bayi Yesus, dan dia akan dimaafkan. Di Itali ada cerita yang sama, yaitu La Befana. Ia adalah seorang penyihir ramah yang mengendarai sapu terbang. Ia masuk ke cerobong asap di rumah-rumah untuk mengantarkan mainan ke dalam kaus kaki anak-anak yang beruntung mendapatkan hadiah.
Itulah sekilas cerita di balik beberapa tradisi Natal yang ada di sekitar kita. Apapun tradisi rakyat yang ada, hendaknya kita tidak melupakan makna Natal yang sesungguhnya. Bahwa dengan kelahiran Kristus tersebut, kita diingatkan kembali akan keselamatan yang diberikan pada kita dan persiapan kita untuk menyambut Kristus Sang Hakim yang Agung.
NATAL
Natal sebenarnya berarti kelahiran. Dengan arti yang demikian, kata “natal” bisa digunakan secara luas, msalnya: dies natalis yang menunjuk pada hari ulang tahun suatu lembaga (biasanya perguruan tinggi) atau Natalis Solis Invictus (kelahiran/kemunculan Dewa Matahari). Namun, bagi orang Kristen kata “natal” identik dengan kelahiran Yesus. Bahkan tidak hanya bagi orang Kristen, juga bagi banyak orang. Jika mendengar frasa “hari Natal”, maka orang lantas merujuk pada kelahiran Yesus.
Orang Yahudi tidak memandang istimewa hari kelahiran. Itu sebabnya, 300 tahun lebih setelah kelahiran Yesus tidak ada perayaan Natal. Kalaupun dalam Perjanjian Baru ada catatan tentang perayaan hari ulang tahun Herodes Antipas (Mat. 14:6), perayaan hari ulang tahun bukanlah tradisi bangsa Yahudi.
Dalam 1 Korintus 11:24-25, Tuhan Yesus memberi perintah kepada para murid-Nya untuk mengenang kematian-Nya, bukanlah kelahiran-Nya. Alkitab sendiri memiliki catatan khusus tentang kematian. Kita tahu bahwa kelahiran adalah sebuah permulaan, sementara kematian adalah akhir kehidupan. Lalu, kenyataannya menunjukkan bahwa hidup ini dinilai dari akhirnya, bukan dari awalnya. Artinya, seseorang dinilai berhasil dalam hidup ini kalau pada saat kematiannya ada banyak karya yang dihasilkan, ada nama baik yang ditinggalkannya, ada banyak orang yang merasa kehilangan dan sebagainya.
Selain itu, Ia ingin agar manusia memiliki pemahaman yang benar tentang kedatangan-Nya ke dunia ini, yaitu untuk menyelamatkan dunia yang dikasihi-Nya (Yoh. 3 : 16). Dan itu disempurnakan dalam kematian-nya, bukan kelahiran-Nya. Kematian-Nya di atas kayu saliblah yang merupaka penanda dari penebusan-nya atas dosa manusia. Kelirulah kita jika berpesta saat Natal, sementara lupa pada Paska.
Natal juga merupakan peristiwa kontras. Setidaknya ada dua realitas yang menyebabkan Natal menjadi kontras. Pertama, dalam peristiwa Natal ada realitas sukacita, tetapi juga dukacita. Kelahiran, pada umumnya disambut dengan tawa dan sukacita. Bahkan jauh hai sebelum masa kelahiran tiba, orangtua telah mempersiapkan segala sesuatunya menyambut kelahiran sang anak. Akan tetapi, situasi yang dialami oleh Yusuf dan Maria justru terbalik. Yusuf gelisah dengan kehamilan Maria, malah ia sempat berencana menceraikannya diam-diam (Mat. 1:19). Maria juga bingung dengan kehamilannya, sebab ia belum bersuami (Luk. 1:34).
Lalu, ketika Yesus usai dilahirkan, memang ada sukacita yang besat dan puji-pujian, baik di bumi (Luk. 2:20) maupun di surga (Luk. 2:13 – 14). Namun, ada juga orang banyak yang berdukacita, yakni ketika Herodes Agung membunuh semua bayi berusia dua tahun ke bawah di Betlehem. Begitu kontras, bukan?
Namun, yang kontras itu tidak hanya terjadi pada waktu yang lampau. Kini pun terjadi. Coba tengok anggaran perayaan Natal di setiap gereja! Berapa persen dana yang disiapkan untuk memberdayakan mereka yang menderita? Jangan-jangan semua anggaran itu ditujukan untuk dinikmati sendiri. Ingatlah, ketika kita bersukacita saat Natal tiba, ada juga orang yang berdukacita!
Kedua, manusia pra-Natal dapat digambarkan sebagai sosok yang miskin, karena tidak memiliki jaminan akan hidup yang kekal. Manusia juga merupakan sosok yang miskin karena dosa dan keberdosaannya. Egoisme dan egosentrisme manusia membuat manusia juga kehilangan kemanusiaannya. Bahkan, manusia bertambah miskin karena ia tidak dapat menolong dan menyelamatkan dirinya sendiri dari kuasa maut.
Akan tetapi, saat Natal tiba, manusia yang miskin itu menjadi kaya. Allah memberi jaminan hidup kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya (Yoh. 3:16). Namun, semua itu dicapai melalui peristiwa yang tidak mudah. Yesus Kristus, yang begitu kaya, merelakan diri-Nya untuk menjadii miskin, menjadi seorang hamba sama seperti manusia (Flp. 2:7), supaya kita menjadi kaya karena kemiskinan-Nya (2 Kor. 8:9).

Jadi, ketika Natal tiba, kita diingatkan tentang kemiskinan kita. Namun, bukankah segala persiapan kita menyambut Natal tidak menunjukkan keprihatinana kita sebagai sosok yang miskin? Bukankah persiapan-persiapan Natal yang kita lakukan hendak menunjukkan tentang kelimpahan dan kekayaan kita?
Lalu, apakah perayaan-perayaan yang demikian harus kita cegah? Tidak cukup dengan itu, karena perayaan-perayaan yang wah, mewah, meriah, dan megah hanyalah penyebab dari ketidaksadaran betapa miskinnya kita.
Namun, Natal juga hendak mengingatkan kita tentang kekayaan yang kita miliki karena Kristus. Bukan berarti realitas ini membenarkan pesta pora Natal yang terjadi. Kekayaan kita tidaklah terletak pada seberapa besar kemampuan kita menyelenggarakan acara Natal, seberapa besar anggaran yang mampu kita sediakan, seberapa baik latihan yang dilakukan. Eka Darmaputera menyatakan bahwa pesta Natal lebih sering merupakan pesta untuk diri sendiri; pesta yang diadakan tanpa Dia.
Kekayaan itu hanya dimiliki ketika kita menemukan esensi diri kita kembali: makhluk yang semula miskin, namun kini menjadi kaya; makhluk yang lemah tak berdaya, namun kini gagah perkasa, sebab Kristus beserta kita (Mat. 1: 23).

Kantika dan Nyanyian Alkitab Lainnya
Tradisi Awal dan Abad Pertengahan
Ada beberapa kantika dan nyanyian Alkitab lainnya yang kita temukan dalam koleksi nyanyian jemaat kita. Yang paling sering kita temui adalah tentu saja Nyanyian Pujian Maria (Lukas 1:46-55), Nyanyian Pujian Zakharia (Lukas 1:68-70) dan Nyanyian Pujian Simeon (Lukas 2:29-32). Namun kita juga mengenal Nyanyian Tiga Orang Muda (ada di kumpulan lagu Taizé).
Tradisi Bizantin mengenal penggunaan 9 kantika. Ada ode untuk ibadah pagi (disebut juga Orthos) pada hari Minggu dan hari raya:
Keluaran 15:1-18 (Nyanyian Syukur Musa)
Ulangan 32:1-43 (Nyanyian Musa menjelang ajal)
I Samuel 2:1-10 (Doa Hana)
Habakuk 3:2-19 (Doa Habakuk)
Yesaya 26:1-21 (Doa Yesaya)
Yunus 2:2-9 (Doa Yunus)
Apokrif Daniel 3:24-45 (Doa Azarya), 52-56 (Pujian Pertama Ketiga Pemuda)
Apokrif Daniel 3:57-88 (Pujian Ketiga Pemuda)
Lukas 1:46-55 (Nyanyian Pujian Maria), Lukas 1:68-79 (Nyanyian Pujian Zakharia)
Saat ini, susunan kantika Bizantin dikenal sebagai kanon (artinya peraturan). Pada abad ketujuh bangkitlah praktek paraphrase dari kantika dan membuat bentuk puitis dari kanon. Beberapa di antaranya dikenal sebagai hymne Paska
Di gereja barat, kita mengenal Peraturan dari Benedictus (540), yang menggunakan kantika dan mazmur di dalam ibadah harian, tanpa menyebutkan nama individual dari tiap kantika. Kantika yang sering dipakai untuk Lauda (di samping beberapa variasi kecil berdasarkan daerah):
Minggu: Apokrif Daniel 3:57-88 (Nyanyian Ketiga Pemuda)
Senin : Yesaya 12:1-6 (Nyanyian Yesaya)
Selasa : Yesaya 38:10-20 (Doa Hizkia)
Rabu : I Samuel 2:1-10 (Doa Hana)
Kamis : Keluaran 15:1-8 (Doa Musa)
Jumat : Habakuk 3:2-19 (Doa Habakuk)
Sabtu : Ulangan 32:1-43 (Doa Musa)
Kantika lain dipakai untuk Matins. Misalnya Matins Hari Natal menggunakan Yesaya 9:2-7, 26:1-12, 66:10-16. Dalam tradisi Katolik Roma, kantika dari Lukas dipakai dalam puncak ofisi: Nyanyian Zakharia (Benedictus) dipakai untuk Lauda, Nyanyian Maria (Magnificat) dipakai untuk Vespers, dan Nyanyian Simeon (Nunc Dimittis) dipakai untuk Compline.
Dalam tradisi Roma Katolik modern, ofisi menggunakan kantika utama dalam Lukas dan sekitar 35 kantika minor dari Alkitab. Termasuk di dalamnya Yesaya 40:10-17; 61:10-62:5; Yeremia 31:10-14, Yehezkiel 36:24-28, serta beberapa nyanyian dari kitab apokrif. Sedangkan dari Perjanjian Baru misalnya dari Filipi 2:6-11, Efesus 1:3-10, Kolose 1:12-20 dan Wahyu 5:9-12; 19:1-7.
Tradisi Reformasi dan Protestan
Luther mengadaptasikan banyak syair Abad Pertengahan untuk nyanyian jemaat. Namun Luther juga membuat nyanyian yang dipakai setiap Minggu yaitu: 10 Hukum Tuhan, Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Nicea dan Nyanyian Maria. Ia juga membuat lagu “Jauh dari Sorga Datangku” yang berdasarkan Lukas 2. Walaupun tradisi Lutheran dikenal dengan banyaknya koral, namun banyak penyair Lutheran yang membuat paraphrase nats Alkitab sebagai nyanyian jemaat.
Semasa reformasi, mazmur amat sering diparafrasekan hingga menjadi nyanyian jemaat. Contohnya antara lain Mazmur Jenewa. Mazmur Jenewa bukan hanya memuat Mazmur tapi juga termasuk Nyanyian Zakharia, Maria, dan Simeon, serta Nyanyian Musa, 10 Hukum Tuhan dan Te Deum.
Tradisi Inggris dengan bukunya Book of Common Prayer, pada awalnya menggunakan istilah canticle hanya untuk Nyanyian Pujian Ketiga Pemuda. Namun saat ini istilah itu dipakai untuk menyebutkan mazmur, hymns, dan Nyanyian Alkitab yang dipakai dalam Doa Pagi dan Doa Malam. Biasanya diberikan judul Latin. Susunannya sebagai berikut:
Doa Pagi
Venita (Mazmur 95)
Te Deum, atau Benedicite (Nyanyian Ketiga Pemuda)
Benedictus (Nyanyian Pujian Zakharia) atau Jubilate (Mazmur 100)
Doa Malam
Magnificat (Nyanyian Pujian Maria) atau Cantate Domino (Mazmur 98)
Nunc Dimittis (Nyanyian Pujian Simeon atau Deus misereatur (Mazmur 67)
Tradisi Anglikan juga menggunakan Beatitudes (Matius 5:3-10), dan I Kor 29:10-13, bagian dari Yesaya 60 dan kantika khusus untuk Natal, Jumat Agung, Paska dan Pentakosta. Canticles bisa diucapkan secara responsorial atau didaraskan (chanted).
Analisis Nyanyian Jemaat
Baik dalam memilih nyanyian yang tepat untuk ibadah, terutama ibadah di gereja untuk hari Minggu, maupun dalam menciptakan nyanyian jemaat, hendaknya kita memperhatikan hal-hal berikut yang harus dianalisis:
1. Sastra
2. Isi
3. Karakter Musikal
4. Evaluasi
1. Struktur sastra
a. Metrum Imisalnya CM, 8.7.8.7)
b. Poetic feet (iambic, trochaic etc)
c. Skema rima (misalnya abab)
d. Unsur-unsur puisi
e. Pengelolaan kalimat
2. Isi syair
a. Berdasarkan Alkitab (jika perlu, berikan referensi)
b. Ajaran teologis (berhubung dengan ajaran tertentu dan jika perlu dengan menggunakan frase tertentu dari doktrin yang menjadi bahan)
c. Arah isi lagu (kepada Allah, kepada manusia, untuk diri kita sendiri)
d. Pengelolaan (misalnya pola pokok pikiran, paradoks dll)
3. Karakter musikal
a. Struktur frase (pengulangan, terusan/through-composed)
b. Gerakan melodis (melangkah, melompat, naik, turun, interval)
c. Harmoni (akord dasar, akord pengganti, modulasi, ritme harmonis)
d. Metrum (tunggal, jamak)
e. Ritme (biasa, dengan titik, sinkop)
f. Kontrapunt (relasi antara bass dan melodi)
g. Bentuk (misalnya AAB)
4. Evaluasi
4.1. Syair
a. Apakah pokok pikiran yang ada bersifat teologis?
b. Apakah lagu tersebut berpusat pada pikiran mengenai Allah atau berpusat pada perasaan si penyanyi?
c. Apakah pokok pikiran yang tertera dalam lagu tersebut dapat dimengerti oleh rata-rata anggota jemaat?
d. Adakah kata-kata, istilah, nama, frase atau apapun juga, yang harus dijelaskan dari syair tersebut?
e. Apakah syair lagu memiliki kesederhanaan dan keindahan?
f. Apakah pokok pikiran mengekspresikan realitas spiritual? Apakah itu akan menjawab keperluan jemaat secara umum?
g. Apakah pokok-pokok pikiran dalam lagu saling berhubungan? Apakah pokok-pokok pikiran tersebut menghindari hal-hal klise dari nyanyian jemaat?
4.2. Musik
a. Apakah musiknya memperkaya dan memperjelas syair?
b. Apakah musiknya dapat dinyanyikan oleh orang banyak tanpa kesukaran? (misalnya ambitus, tessitura, lompatan melodis, ritme yang kontras)
4.3. Penggunaan
a. Untuk peristiwa apakah lagu tersebut cocok dinyanyikan? (ibadah formal, ibadah di sekolah, pertemuan evangelistis, dll)
b. Untuk golongan umur berapakah lagu tersebut cocok dinyanyikan?
c. Jika lagu tersebut belum dikenal, bagaimanakah cara memperkenalkannya pada jemaat?
d. Jika sudah dikenal, bagaimanakah caranya supaya kita dapat menyanyikan lagu tersebut dengan lebih hidup dan berarti?

ORGEL PIPA

Apa sih orgel pipa itu?
Orgel pipa sebenarnya alat musik tiup yang menggunakan mekanik untuk menggerakkan katup penutup udara. Prinsip cara kerja orgel pipa sama dengan prinsip cara kerja sebuah suling. Udara dialirkan ke dalam tabung dengan diameter dan panjang tertentu, akibatnya terjadilah bunyi.

Ada berbagai macam bunyi pada instrumen ini. Itu sebabnya orgel pipa juga mendapat julukan Raja Alat Musik karena instrumen ini memiliki begitu banyak kemungkinan kombinasi bunyi. Pengaturan bunyi dalam orgel pipa disebut registrasi, jenis suaranya disebut register.

Ada dua kelompok pipa, yaitu pipa biasa (seperti suling) dan pipa yang memiliki lidah (seperti hobo atau fagot). Masing-masing memiliki bermacam variasi. Ada yang pipanya rata, ada yang mengecil ujungnya, ada yang membesar, ada yang memiliki diameter kecil, sedang atau besar, ada juga yang ditutup. Nah, semua itu yang membuat bunyi yang dihasilkan amat kaya.

Ada banyak cara menyusun registrasi karena kita mengenal banyak tradisi. Namun, musik apapun yang kita mainkan, hendaklah disesuaikan dengan instrumen yang kita miliki.
Jika kita memainkan musik tertentu, maka perdengarkanlah keindahan musik tersebut dengan kombinasi registrasi yang indah. Namun, jangan sampai terlalu banyak bunyi yang dihasilkan sehingga musiknya sendiri, yang dihasilkan oleh teknik permainaan, dilupakan.

Apapun juga musik yang dimainkan, pergunakanlah kombinasi suara yang paling cocok. Dengan kemampuan instrumen yang seminim mungkin, kita harus menghasilkan musik yang mutunya semaksimal mungkin. Have fun!

PROCANTOR DAN CANTORIA
Akhir-akhir ini banyak gereja yang mulai mempraktekkan penggunaan kantoria untuk menuntun nyanyian jemaat. Namun sayang sekali, masih banyak orang yang masih bingung mengenai penggunaan istilah kantoria, prokantor dan pemnadu lagu.
Prokantor dan kantoria merupakan satu kesatuan. Tidak ada prokantor tanpa kantoria dan tidak ada kantoria tanpa prokantor. Istilah ini diambil dari bahasa Latin. Cantare adalah bahasa Latin yang berarti menyanyi. Cantor adalah sebutan dalam bahasa Latin untuk orang yang menyanyi. Beberapa orang penyanyi yang bernyanyi bersama dalam satu kelompok dikenal dengan nama schola cantorum atau kelompok biduan. Kelompok biduan ini dipimpin oleh procantor. Procantor adalah pemimpin biduan yang berdiri di depan para biduan (pro = di depan, cantor = penyanyi).
Schola cantorum ini berfungsi dalam ibadah sejak masa Abad Pertengahan. Sebetulnya sejak masa Perjanjian Lama, di masa Raja Daud telah dikenal kelompok biduan yang bertugas di dalam ibadah orang Yahudi. Kira-kira di akhir tahun 80-an, H.A. Pandopo mulai mempopulerkan penggunaan istilah schola cantorum, antara lain melalui bukunya, Menggubah Nyanyian Jemaat dan melalui pengajarannya di Kursus Musik Gereja dan pembinaan-pembinaan yang diberikannya. Di akhir tahun 90-an, istilah ini makin berkembang dan dibuat terjemahan dalam bahasa Indonesia yaitu kantoria dan prokantor (yang kadang-kadang disebut juga sebagai dirigen umat).
Sejak itu makin banyak gereja yang menggunakan istilah ini. Namun seringkali istilah prokantor dipakai untuk seseorang yang menyanyi di depan tanpa memimpin paduan suara. Jika seperti ini, maka sebenarnya istilah yang lebih cocok dipakai adalah pemandu lagu atau song leader. Akhir-akhir ini juga muncul “kantoria” yang terdiri dari dua atau tiga orang yang menyanyi dengan mikrofon hingga suaranya menutupi suara jemaat. Sebenarnya hal itu bukan kantoria tapi lebih baik disebut sebagai kelompok pemandu lagu. Mengapa? Kantoria sebaiknya terdiri dari sekelompok orang yang menyanyi selaras dengan jemaat, bukannya menutupi suara jemaat.
Berapa banyak patokan jumlah anggota kantoria untuk suatu ibadah? Minimal 10% dari jumlah jemaat. Misalnya jika ibadah tersebut biasanya dihadiri oleh 100 orang berarti jumlah penyanyi dalam kantoria minimal 10 orang. Jika lebih banyak tentu lebih enak, karena volumenya juga lebih besar.
Sebaiknya kantoria tidak menyanyi dengan mikrofon. Jika memang diperlukan untuk menyanyi dengan bantuan mikrofon,maka sebaiknya volume mikrofon diatur sedemikian rupa hingga kesannya tidak artifisial namun sekedar menguatkan, bukan mendominasi.
Sebaiknya kantoria terdiri dari laki-laki dan perempuan yang menyanyikan lagu jemaat 4 suara, SATB. Namun paduan suara sejenis juga dapat berfungsi sebagai kantoria, tentu saja dengan menyanyikan aransemen khusus untuk suara sejenis. Namun tidak selamanya kantoria harus menyanyikan nyanyian jemaat dalam beberapa suara. Bisa juga kantoria menyanyikan nyanyian jemaat secara unisono.
Pada bagian bergilir-ganti, jika ada refrein, maka bagian refrein selalu dinyanyikan bersama-sama. Jadi bukan hanya solois, perempuan atau laki-laki saja, tapi oleh seluruh jemaat.
Sebenarnya kita tidak perlu membuat kantoria secara khusus. Kantoria merupakan sebuah fungsi. Paduan suara yang ada, paduan suara yang bertugas pada ibadah, dapat berfungsi sebagai kantoria. Hingga kita tidak perlu repot mengumpulkan orang dan membuat paduan suara baru. Hendaknya makin banyak paduan suara yang menyadari bahwa fungsi utama paduan suara adalah untuk menuntun nyanyian jemaat dan bukan sekedar menyanyi dua lagu paduan suara saja.
Tentu saja tanggung jawab paduan suara yang berfungsi sebagai kantoria amatlah besar. Di samping itu, kemampuan teknisnya harus cukup karena tidak mudah untuk mempersiapkan lima-enam nyanyian jemaat di samping mempersiapkan lagu paduan suara solo. Di situlah tantangan bagi paduan suara. Jangan sekali-sekali menganggap kantoria itu paduan suara ranking kedua. Justru tidak mudah untuk menjadi kantoria karena anggota paduan suara dituntut untuk dapat mempersiapkan diri dalam waktu singkat, menyanyikan beberapa lagu dalam 4 suara. Jika tugasnya hanya sebulan sekali mungkin mudah, tapi jika harus dilakukan dua minggu sekali, dengan frekwensi latihan seminggu sekali, cukup berat kalau anggota tidak mandiri dalam menyanyi.
Artikel pendek ini bertujuan sekedar untuk meluruskan penggunaan istilah prokantor, kantoria dan pemandu lagu saja. Mengenai petunjuk teknis penyelenggaraan kantoria dalam ibadah, akan dibahas dalam artikel tersendiri.

TIPS UNTUK MENGIRINGI NYANYIAN JEMAAT

Salah satu cara mengiringi nyanyian jemaat yang sering dipakai adalah dengan menggunakan not angka dan simbol akord. Banyak orang menganggap cara itu adalah yang termudah. Di satu pihak, pendapat tersebut ada benarnya namun di lain pihak, mengiringi dengan simbol akord tidaklah semudah yang sering disangka orang. Mengapa?
Pertama, mengiringi nyanyian jemaat dengan akord menuntut kita untuk menguasai berbagai jenis akord, paling tidak dalam tangga nada . Musik terdiri dari beberapa elemen. Ada 6 elemen musik yang mendasar yaitu nada, elemen waktu (tempo, metrum, ritme), tonalitas, harmoni, tekstur dan dinamika. Beberapa elemen musik yang amat penting dan harus diperhatikan dalam persiapan teknis kita adalah nada dasar, tempo, metrum, ritme serta dinamika.
Nada dasar:
• Ambitus/jangkauan suara jemaat adalah dari c-e’ (laki-laki) atau c’-e’’ (perempuan).
• Tapi perhatikan di daerah mana lagu tersebut bergerak. Pilihlah tempat bergerak di tengah, hingga tidak selalu terlalu rendah atau tinggi dalam menyanyi.
Tempo:
• Tempo adalah satuan waktu yang terbesar di dalam satu musik.
• Tempo menunjukkan karakter lagu tersebut dan seberapa cepat lagu tersebut dibawakan, lambat, sedang atau cepat.
• Biasanya tempo lagu tenang itu sama seperti detak jantung kita.
Metrum:
• Metrum adalah satuan di dalam satu birama atau banyaknya ketukan dalam satu birama.
• Tiap ketuk memiliki aksen yang berbeda:
• 4 ketuk: berat-ringan-sedang-ringan
• 3 ketuk: berat-ringan-ringan
• 2 ketuk: berat-ringan
Ritme:
• Ritme adalah satuan waktu yang paling kecil dalam musik.
• Tiap ritme haruslah dimainkan dengan tenang, tidak terburu-buru, hingga seperti robot dan tidak ada kesemapatan untuk bernapas.
• Ritme dapat menjadi patokan apakah tempo tersebut benar-benar sesuai.
Dinamika:
• Dinamika tergantung isi syair dan karakter lagu.
• Perpaduan antara pemilihan registrasi (pada organ) atau sentuhan (pada piano) dengan volume yang dinyanyikan oleh singers amat sangat penting.
• Peranan sound system juga harus diingat supaya pada saat penataan volume, dicoba dari volume lembut hingga keras dan tidak berdengung atau storing.
Hal-hal tersebut hendaknya kita ingat jika kita harus bertugas. Di samping itu ada beberapa petunjuk praktis untuk para organis/ pianis:
• Baik organ, keyboard maupun piano memiliki kelebihan karena dapat memainkan baik melodi, akord, ritme dan memiliki dinamika yang luas.
• Kuasailah paling tidak 5 kunci di luar kepala, C, F, G, Bes, D beserta paralel minornya (a, d, e, g, b).
• Mainkan dasar ritme dan iringan yang memberikan kedalaman dalam lagu tersebut.
• Latihlah progresi akord beserta variasinya, misalnya:
• I – IV – V
• I – VI – IV – II – I 4-6 – V- I
• Jika dasar ritme dan iringan telah kuat, konsentrasi ke counter-melody yang melengkapi melodi.
• Buatlah struktur yang jelas, jangan asal campur aduk saja.
• Jangan memakai rhythm-box karena itu mematikan napas jemaat! Lagipula menghadap Tuhan itu harus dengan penuh rasa hormat dan agung, ibadah kita bukanlah ibadah komidi putar yang harus selalu ramai dan hangar binger.
• Pilihlah registrasi yang sesuai dengan karakter lagu. Lagu-lagu tenang lebih baik menggunakan warna suara yang agak gelap. Lagu yang gembira dapat menggunakan warna suara yang agak terang.
• Jangan menggunakan registrasi yang sama untuk semua lagu dalam ibadah.
• Keep it simple!

About Beathris

Saya Mahasiswi dari Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM), dan masih terus melanjutkan studi di UKIM, Fakultas Teologi, Semester III.
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply